29

53.6K 9.8K 3.3K
                                        

1600+ kata, mampus nggak tuh. 🥴
Isinya curhatan Arsalan sama kencan mereka di malam hari yang sangat suram😂

BANTU SHARE YOK! KE TIKTOK, IG, FB, TWITTER, DLL.

JANGAN LUPA TEKAN BINTANG DI POJOK KIRI. 🙂

RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR, AWAS AJA KALO MALAH JADI SEPI🙂👍🏻

HAPPY READING

***

Aluna menelan ludah gugup dan beberapa kali melirik ke sampingnya dengan tak nyaman. Dia menggerakkan kakinya dan meremas jemarinya kuat. Udara di sekelilingnya terasa berat membuatnya menarik napas dengan hati-hati.

"Kau---"

"Ya, pak!"

Arsalan menghela napas panjang. Dia mengusap kasar rambutnya. "Bertanyalah padaku!"

"Tidak, Pak!"

"Sekali lagi kau memanggilku seperti itu aku akan memotong lidahmu."

Aluna tersedak ludahnya sendiri. Dia spontan merangkul Arsalan. "Teman. Begini saja. Kita bicara baik-baik, oke? Jangan ada kekerasan di antara kita," ucapnya dengan ramah.

"Aku bukan temanmu."

Aluna tidak bisa berkata-kata. Dia tertawa kaku kemudian menjauhkan dirinya. Dia sedang menahan takut karena Arsalan tiba-tiba saja menculiknya dan membawanya ke atas rooftop sekolah lalu sekarang pemuda itu mengancamnya. Ini gila. Benar-benar gila. Kenapa dia bisa berdebar dengan psycho sepertinya?

"Saat kecil aku tidak memiliki siapapun di sisiku." Aluna menoleh. Melihat Arsalan yang sedang menatap langit dengan senyum sedih. "Aku tidak pernah memiliki seseorang yang bisa kujadikan sandaran saat anak-anak lain memanggilku anak pembawa sial karena mereka bilang aku adalah alasan kematian orang tuaku. Aku adalah orang buangan. Dunia menghakimi keberadaan ku dengan menghukumku melalui cacian mereka. Mereka memperlakukanku seperti bak sampah. Setiap hari mereka menaruh binatang mati di mejaku. Mereka memasukkan batu ke dalam tasku. Mereka juga tak ragu melempariku dengan banyak benda seakan aku tidak merasakan sakit."

Arsalan mengepalkan tangannya kuat dengan pandangan berkaca-kaca. Menceritakan ini membuatnya seakan kembali ke masa lalu.

"Sementara kakekku, pria tua itu hanya sibuk mewujudkan seorang pewaris yang kuat dengan mendidikku memakai kekerasan. Mengabaikan semua yang orang-orang lakukan padaku. Setiap hari dia tidak akan pernah absen memukul ku. Dia selalu menekankan dunia itu keras dan aku harus menjadi kuat agar tidak diusik. Haha... Kakekku manis bukan?"

"Kemudian Erina datang dan memberiku perasaan yang baru. Dia membuatku nyaman karena itu bahkan setelah dia mengkhianatiku dengan menjual kelemahanku pada lawan bisnis kakek, aku tetap baik padanya. Dia juga nyaris mati saat menolongku. Aku tidak bisa memaksakan diri untuk membencinya karena dia kenanganku yang paling indah. Walaupun banyak orang yang menghakimi hubungan kami tapi aku tidak bisa lepas begitu saja dari seseorang yang pernah memberikan warna di kehidupanku dulu."

"Dia palsu. Aku tahu itu. Aku tidak bodoh. Aku tidak senaif itu. Kebaikannya memiliki alasan agar tampak baik hati dimataku. Tapi, Aluna. Aku tidak memiliki siapapun. Aku sendirian. Bocah enam tahun itu butuh pelukan sekalipun itu hanya kepalsuan. Apa itu sebuah kesalahan? Apa menginginkan cinta dari seseorang agar tetap memiliki keyakinan bertahan hidup itu salah? Apa memang seharusnya aku memilih mati menyusul kedua orang tuaku?"

"Arsa..." lirih Aluna sendu.

"Teman-temanku selalu mengatakan Erina aneh. Dia seperti gadis licik yang mencoba memanipulasiku. Aku tahu! Aku sangat tahu itu. Tapi mereka tidak tahu apapun bahkan juga untuk kakekku. Mereka tidak tahu bagaimana perasaanku. Tidak seorang pun yang mau tahu bagaimana perasaanku dan mereka dengan mudahnya mengomentari kehidupanku seakan-akan aku ini tidak tahu apapun kecuali aku yang sudah cinta buta padanya! Mereka pikir aku tidak memiliki hati. Mempermainkan seseorang yang bukan seharusnya. Lalu bagaimana denganku? Bagaimana denganku? Bagaimana, Aluna? Bagaimana dengan perasaanku? Apa aku juga bukan manusia? Apa aku tidak boleh berharap agar aku bisa tetap hidup?"

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang