45

35.6K 6.4K 498
                                        


BANTU VOTE, KOMEN, TERUS SHARE KE TEMEN, TIKTOK, TWITTER, IG, DAN SOSMED LAIN YUK 🙏🏻

MAKASIH ❤️

HAPPY READING

****

"Aluna, itu bukan aku."

Aluna yang semula hendak keluar dari mobil menatap Arsalan.

"Sungguh. Aku mungkin tidak ingat malam itu tapi aku tidak akan melakukan itu," jelas Arsalan lagi.

Aluna menggenggam tangan Arsalan dengan erat. "Arsalan, katakan padaku. Kau mengenal Nesta bahkan sebelum kalian bertemu di pertandingan hari itu bukan?" tanya Aluna pelan.

Arsalan diam sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Aku menyelidiki semua orang yang dekat dengan keluarga Alejandro."

"Apa kau pernah berpikir untuk memanfaatkan dia?"

"Aluna...."

"Jawab aku, Arsa!" tukas Aluna tegas.

"Iya," akunya jujur.

Aluna menatapnya sedih membuat Arsalan ikut terluka. Dia melepaskan tangan Arsalan tanpa memandangnya lagi. "Baiklah. Kita bicara lagi besok," katanya sambil membuka pintu mobil dan keluar.

Arsalan berlari keluar dan memeluk Aluna dari belakang. Gadis itu berhenti melangkah dan mengigit bibir bawahnya menahan tangis. Batinnya sesak. Sulit untuk mengatakan bahwa dia ingin mempercayai Arsalan namun di sisi lain ia juga tidak bisa mengelak jika ada kemungkinan besar Arsalan bisa melakukan hal itu.

"Kau bilang ingin membuatku mempercayai orang lain bukan?" Arsalan berbisik lemah. "Karena itu, kumohon. Percayalah padaku, Aluna."

"Bisakah kalian tidak membuat drama di depan mataku?"

Allen menatap kakaknya dan Arsalan dengan tangan yang lagi-lagi membawa kantong berisi makanan ringan sedang tangan lainnya memegang es krim rasa strawberry. Pemuda itu baru saja dari minimarket sehingga ia hanya mengenakan celana pendek warna hitam juga kaos merah muda yang menyala. Kontras sekali dengan wajahnya yang tengil. "Aku tahu kalian sudah lama tidak bertemu dan pastinya ingin peluk-peluk manja tetapi jangan lakukan itu di depan mataku. Aku benci mataku ternoda!" sewotnya lagi kemudian melengos masuk ke dalam rumah.

Aluna mengusap matanya yang berair, untung saja Allen tidak melihat itu. Gadis itu melepaskan pelukan Arsalan dan kembali melangkah masuk tanpa menoleh. Arsalan menunduk. Tidak tahu harus berbuat apa jika Aluna tidak mau percaya padanya.

Aluna masuk ke dalam rumah dan bersitatap dengan Allen yang cengar-cengir bermaksud menggodanya. Namun Aluna tidak menghiraukannya dan tetap melenggang pergi menuju kamarnya membuat Allen mengernyit. "Kenapa wajahnya seperti itu?" gumamnya heran sekaligus khawatir.

Aluna merebahkan tubuhnya di ranjang dengan wajah lelah usai mandi. Dia ingin mengakhiri semuanya. Dia ingin hidup tenang tanpa mengkhawatirkan apapun. Kenapa sesulit itu? Haruskah dia memutuskan saja semua hubungannya dengan Arsalan? Tapi dia tidak bisa. Jujur saja, rasa sukanya pada Arsalan ternyata sebesar itu. Sampai-sampai dia rela menguras otaknya hingga seperti ini. Padahal sebelumnya, dia bukan tipikal orang yang mau repot banyak berpikir. Namun hanya demi Arsalan, dia mau memaksa otaknya agar bisa bekerja maksimal demi mencari jalan keluar untuk hidupnya. "Wah, aku memang menakjubkan," bisik Aluna dengan senyum getir.

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang