27

54.5K 10.2K 2K
                                        


Sumpah, bingung banget mau ngapain. Aku suka hapeku bergetar karena notif, jadi aku update 😔

Tekan dulu tanda bintang di pojok kiri 👍🏻

Bantu share cerita ini ya. Makasih sebelumnya ❤️

HAPPY READING 🥴

****

Erina berjalan dengan riang sambil membawa bekal makan siang di tangannya. Gadis itu menghampiri Arsalan yang sudah menunggunya di depan rumahnya dan tersenyum lebar. "Selamat pagi, Alan."

Arsalan mengangguk. Dia memberikan helmnya pada Erina kemudian memegangi kotak bekal makan gadis itu. "Ini terakhir kalinya aku bersamamu."

Erina yang semula sibuk mengaitkan kuncian helmnya menatapnya. "Apa maksudnya Alan?" tanya gadis itu dengan lembut.

"Ini terakhir kalinya aku membantumu menjauhkan orang-orang itu darimu. Kakekku akan menempatkan orang disekitarmu jadi aku tidak harus menjagamu. Mereka tidak akan bisa mendekatimu lagi jadi urusan kita sudah selesai."

Erina tak menyahut, gadis itu hanya menyunggingkan senyumnya. Arsalan tidak peduli. Setuju atau tidak maka urusannya sudah selesai. Erina bukan lagi masalahnya. Itu adalah keputusan final. Dia sudah banyak berpikir. Berulang kali memutar otak untuk menjauhkan Aluna dari pikirannya tetapi tidak bisa. Karena sejak awal dia sudah kalah. Sejak pertama gadis itu menerobos masuk ke dalam ruang ganti dan meminta tolong padanya. Dia tidak bisa membohongi hatinya. Dia menyukai gadis itu.

Erina sendiri sedang berusaha keras menahan emosinya. Gadis itu meremas erat bekal kotak makan yang sudah susah payah dia siapkan sejak subuh tadi. Apa-apaan ini? Bukankah dia sudah berhasil mencengkeram Arsalan dalam genggamannya? Sekalipun pemuda itu tidak pernah memberinya status lain selain janji masa kecilnya dulu. Ini sudah diluar kendalinya. Ia tidak bisa menerima ini. Tidak bisa.

Sementara itu sepasang kakak beradik Javas sedang berdiri santai disamping mobil mereka lalu menatap gedung sekolah mereka dengan dagu terangkat angkuh. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka membuat mereka merasa kece dan menawan. Terlebih lagi Aluna yang biasanya dipagi hari mengenakan sweater kini beralih memakai jaket kulit warna hitam. Ia juga mengenakan beberapa kalung rantai yang berukuran besar. Allen sendiri tampil gagah dengan sengaja membuat dasinya miring dan juga baju dikeluarkan. Dia mengenakan cincin besar dijarinya.

"Kak, ayo pergi!" ujar Allen sambil membenarkan kacamatanya.

Aluna mengangguk. Keduanya mulai melangkah perlahan dengan gaya bak model papan atas. Tidak menyadari jika penampilan mereka berdua sebenarnya mengundang tawa geli dari banyak pasang mata. Ayolah, memang ada orang gila selain mereka yang datang ke sekolah dengan kacamata hitam pekat dan berdandan seperti seorang rapper terkenal?

Maggie yang berjalan dibelakang mereka menutup wajahnya dengan malu. "Sial, kenapa aku harus bertemu dua bocah bodoh ini sih?" racaunya dongkol.

Aluna berhenti melangkah. Dia menahan adiknya kemudian menoleh ke belakang. "Maggie! Ayo, kau mau kemana?" tegur Aluna ketika melihat Maggie tak ada di sampingnya.

"Kelasku berbeda. Kau ingat bukan? Aku harus ke toilet. Sampai jumpa nanti!" ucap Maggie kemudian melarikan diri sambil berlari terbirit-birit.

Kening Aluna berkerut heran namun gadis itu mengabaikannya dan kembali melangkah dengan tenang.

"Hei kalian berdua! Berhenti!"

Aluna dan Allen kompak menoleh. Lalu keduanya bersamaan membungkukkan tubuhnya. "Selamat pagi, Pak Prapta."

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang