BANTU VOTE, KOMEN, TERUS SHARE KE TIKTOK, TWITTER, IG, DAN SOSMED LAIN YUK 🙏🏻
MAKASIH ❤️
HAPPY READING
****
"Arsalan memang sulit untuk percaya orang lain karena sejak kecil dia selalu dikhianati."
"Bahkan pengasuh yang menjaganya pernah berniat membunuhnya."
"Kejadian yang menewaskan kedua orang tuanya juga tidak luput dari campur tangan orang-orang terdekatnya. Satpam yang menjaga rumahnya ternyata adalah mata-mata dari musuh kami. Namanya Alejandro. Dia juga ayah dari Damon."
"Arsalan sangat menderita karena dia melihat langsung bagaimana kedua orang tuanya ditembak tepat di depan matanya. Aku melakukan kesalahan padanya. Aku membuatnya bertekad untuk balas dendam. Padahal seharusnya aku bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Tapi aku justru termakan ego dan menghukumnya dengan kelakuanku. Kumohon, bantu aku Aluna. Bantu aku menghentikannya."
Ricard bersimpuh dan menunduk membuat Aluna spontan ikut duduk di lantai.
"Aku mohon selamatkan cucuku. Aku tidak mau kehilangan keluargaku satu-satunya"
Aluna memutar-mutar bolpoin di tangannya dengan wajah muram. Arsalan melihat langsung kedua orang tuanya meninggal. Astaga, lukanya terlalu besar untuk bisa dia mengerti. Perbincangannya dengan kakek Ricard membuatnya takut. Arsalan tidak baik-baik saja. Dia yakin itu. Mentalnya tidak baik. Tapi apa? Yang mana? Bagaimana dia harus menjaganya? Bagaimana caranya menghentikan Arsalan?
"Kenapa masalah ini rumit sekali? Ini bukan hadiah! Ini adalah neraka!" makinya kesal kemudian meletakkan kepalanya di meja belajar. "Bagaimana aku harus meraihnya? Hatinya terlalu sakit untuk bisa ku obati. Oh Arsalanku, apa yang harus Aluna ini lakukan untukmu?"
"Hoekk... Menjijikkan. Kak, kau benar-benar menjijikkan." Allen melemparkan boneka babi milik Aluna. "Berhentilah bertingkah aneh dan cepat kerjakan tugasmu! Ibu memintaku memantaumu karena dia mendapatkan laporan tentang kelakuanmu di sekolah."
Benar. Allen memang sedari tadi ditugaskan mengawasi kegiatan belajar Aluna. Matanya memang fokus pada game tipe moba di ponselnya tapi telinganya sanggup menangkap gelagat Aluna yang seperti orang gila.
"Allen, kenapa aku memilih di sini, ya?"
"Apa sih? Jangan mulai lagi. Cepat selesaikan tugasmu dan biarkan aku bermain game dengan tenang. Temanku sudah menunggu sejak tadi, bodoh!" serunya galak.
Aluna mengacak rambutnya dan terkekeh. "Allen, ayo kita bertukar otak. Sepertinya otakmu lebih berguna dari milikku ini."
Allen berjalan ke arah pintu kamar yang terbuka. "IBU! KAK ALUNA TIDAK MAU BELAJAR!" teriaknya menggema sampai di lantai bawah.
"ALUNA!"
Aluna segera gelagapan mengerjakan soal-soal yang tersisa sekuat tenaga sementara Allen menyengir dan kembali sibuk dengan game-nya. Aluna menatap tajam adiknya. Bibirnya menyunggingkan senyum licik, ia kemudian sembunyi-sembunyi membuka sebuah rak kecil khusus yang berisi aksesoris riasan rambut dan juga perlengkapan perempuan lainnya. Dia diam-diam mengambil sebuah kecoak palsu berbahan karet yang iseng dibelinya beberapa waktu lalu di sebuah toko mainan anak-anak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beware of The Villain
Fiksi RemajaFOLLOW AKUN SAYA SEBELUM BACA ❤️ BACA AJA DULU SAMPE 10 CHAPTER! NOTE : DIALOG DAN NARASI PAKAI BAHASA BAKU. ---- Sena lebih suka bercengkerama dengan karakter fiktif penuh akan drama dalam buku novel dibandingkan bersitatap dengan manusia nyata...
