Happy reading 😊
****
Dilarang, justru dilakukan. Ya, seperti itulah sifat alami manusia. Dan itulah yang sedang Aluna lakukan. Tenang saja, gadis itu tidak langsung pergi ke Damon dan membuat banyak drama. Dia masih waras. Dia tidak gila hingga pergi ke sana sendirian dengan alasan 'aku pikir aku akan baik-baik saja'. Tidak mungkin! Aluna tidak sebodoh itu! Dia tidak mau merepotkan dirinya sendiri yang sudah susah payah dia selamatkan ini. Yang harus dia lakukan hanyalah merayu Arsalan. Ya, itulah rencananya.
Aluna membawa cake di tangannya dan menekan gerbang bel rumah Arsalan. Dia ingin memberinya kejutan. Gadis itu tidak tahu, jika dia tidak seharusnya turun di sana karena rumah Arsalan masih jauh dibelakang sementara itu hanyalah gerbang depan. Melihat seorang gadis muda dengan hoodie besar warna cream dan mengenakan celana hot pants membuat petugas cctv bingung. Tidak ada jadwal pertemuan apapun dengan Tuan Mudanya jadi siapa dia? Dia segera menghubungi Anton karena takut jika gadis itu adalah penyusup dan cake yang dibawanya itu bom.
Aluna yang melihat lampu merah seperti tanda darurat di atas gerbang mengernyit heran. Itu apa? Matanya membulat kaget ketika tiba-tiba gerbang di buka lebar dan sekelompok pengawal lengkap sedang menodongkan pistol padanya. Aluna sontak mengangkat tangannya dan menjatuhkan cake-nya. "H-halo teman..." sapanya gugup.
Anton menyeruak di antara kerumunan dan menatap Aluna yang terasa familier tetapi dia mengabaikannya. "Siapa kau?" sentaknya dengan dingin. Tuan mudanya sedang tidur dan jika ada suara berisik maka dia akan terkena masalah.
Aluna gagap. Dia ingin menjawab tapi otaknya terasa blank. Dia ketakutan setengah mati dan merasa ingin lenyap dari sana sekarang juga. Dia ingin mengejutkan Arsalan tapi kenapa dia yang mendapat kejutan. Suara dering ponsel membuat mereka terkesiap. Mereka semakin mengangkat pistolnya sementara Aluna dengan cepat menekan tombol hijau. "Arsa, tolong aku! Aku akan mati," ujarnya takut.
Sementara Anton mulai was-was. Arsa? Siapa itu? Kenapa dia perasaannya tidak enak?
Arsalan sontak terjatuh dari ranjang besarnya dan berlari mengambil jaketnya. "Kau di mana, sayang?" tanyanya lantas berlari menuju garasi. Arsalan yang melihat layar pengawas cctv yang memang terpasang dibeberapa titik mansionnya menghela napas lega ketika ternyata Aluna ada di depan rumahnya. Tapi, rahangnya mengeras ketika melihat pengawalnya yang bodoh malah menodongkan pistol padanya. Arsalan segera menghubungi Anton melalui mic yang terhubung ke earpiece setiap pengawalnya dan menggeram dingin. Jika kalian menyentuhnya, aku akan mencincang tubuh kalian dan membuangnya ke kandang Gara.
Anton dan para pengawal Arsalan terkesiap kaget ketika Tuan Mudanya menyebutkan nama hewan pemangsa daging kesayangannya itu. Mereka semua serempak menurunkan senjatanya kemudian spontan membungkuk sembilan puluh derajat hingga membuat Aluna nyaris terjungkal ke belakang karena kaget. "Maafkan kami, nona!" ujar mereka serentak.
Aluna yang tadi ketakutan mengerjapkan matanya beberapa kali dan berdehem kencang. "Hm hm iya-iya kakak-kakak botak. Kumaafkan kalau begitu," ucapnya kemudian. Bibirnya seketika cemberut ketika matanya melirik cake yang susah payah dia buat dengan bantuan Tania. Arsalan turun dari mobil kecil tanpa pintu dengan empat tempat duduk itu--mobil golf dan tersenyum kecil ketika melihat bibir Aluna mencebik menggemaskan.
"Selamat pagi, Tuan Muda!" sapa para pengawal itu dengan membungkuk seperti biasa.
Aluna yang melihat kedatangan Arsalan menatapnya dongkol. Arsalan melingkarkan tangannya di perut Aluna dan mencium pipinya. "Selamat pagi, sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beware of The Villain
Teen FictionFOLLOW AKUN SAYA SEBELUM BACA ❤️ BACA AJA DULU SAMPE 10 CHAPTER! NOTE : DIALOG DAN NARASI PAKAI BAHASA BAKU. ---- Sena lebih suka bercengkerama dengan karakter fiktif penuh akan drama dalam buku novel dibandingkan bersitatap dengan manusia nyata...
