BANTU SHARE KE TIKTOK, TWITTER, IG, DAN SOSMED LAIN YUK 🙏🏻
MAKASIH ❤️
HAPPY READING
****
Senggol? Bacok! Seperti itulah mode Aluna dan Arsalan saat ini. Keduanya duduk terpisah dengan Aluna yang tiba-tiba saja meminta bertukar tempat duduk dengan Delon sementara Axylo pindah ke depan. Gadis itu terus saja diam dan memasang wajah datar. Bahkan Allen yang menggodanya dan memberikan beberapa candaan tidak dipedulikan. Gadis itu membisu. Edgar menatap Axylo yang dibalas gelengan oleh pemuda itu.
"Arsa, apa kau--"
Ucapan Edgar terhenti ketika tiba-tiba saja pemuda itu bangkit dan melengos pergi. Dia berpapasan dengan Pak Prapta yang menegurnya namun seakan buta, Arsalan terus saja melangkah. Pak Prapta hendak marah namun tatapan setajam silet milik Arsalan membuatnya bungkam. Sudah lama sekali sejak pemuda itu bertingkah.
"Hei, apa temanmu itu baik-baik saja?" bisik Pak Prapta pada Edgar.
"Dia sedang bermasalah dengan Aluna, Pak."
Pak Prapta menatap Aluna. Dia hendak mendekat namun gadis itu balas melihatnya dengan diam. Tumben sekali. Gadis itu tampak mengerikan. Pak Prapta menelan ludah. Kenapa anak-anak muridnya jadi galak seperti ini?
"Baik, anak-anak. Ayo kita mulai saja pelajarannya."
Sementara Arsalan yang kembali ke mansion memilih mengurung diri di kamarnya seharian. Wajahnya kusut. Rambutnya acak-acakkan dan keadaannya sangat tidak normal. Ia mematik rokok lalu menyesapnya. Ada banyak botol berserakan di lantai kamarnya. Pemuda itu duduk di samping ranjang dan terkekeh mirip orang tidak waras. "Ibu, ayah kalian lihat aku bukan? Aku sudah gila. Aku menyakitinya." Arsalan mengembuskan napas kasar. "Aku harus bagaimana, ibu?"
"Kau hentikan saja." Arsalan menoleh. Menatap Ricard yang tiba-tiba saja muncul dari pintu masuk. "Kau hentikan saja semua dendam ini."
"Kakek!" protesnya tidak terima.
"Sampai kapan kau akan seperti ini? Awalnya aku memang berniat untuk terus memaksamu membalaskan dendam ini, tapi El. Gadis itu tidak bersalah. Kau tidak boleh membawa siapapun yang tidak berhubungan dengan ini."
"Lalu bagaimana? Apa aku harus membiarkan orang itu lepas begitu saja? Tidak kakek! Dia harus mati! Sama seperti yang dia lakukan pada orang tuaku!"
"Ini dendam ku. Aku yang akan menyelesaikannya!"
Arsalan tertawa. "Setelah yang kau lakukan padaku, kau memintaku berhenti? Pak Tua? Bukankah kau ini tidak tahu diri sekali? Kau menyiksaku dan sekarang disaat aku memiliki kesempatan untuk membalasnya dengan menghancurkan seluruh keluarganya, kau memintaku berhenti?" ujarnya dingin.
"Lalu kau akan membuang gadis itu? Kau akan menyakitinya?" Ricard memegang bahu Arsalan. "Jangan bodoh, El. Aku sudah pernah melakukan kesalahan di masa lalu, jangan sampai kau melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan!"
"Aluna akan baik-baik saja. Aku akan melindunginya. Tapi aku tidak akan berhenti menghancurkan mereka! Dengan atau tanpa bantuanmu, aku akan tetap membalas mereka semua, kakek!" bentak Arsalan sembari meraih jaket dan juga kunci motornya.
Ricard memijat pelipisnya. Dia menghela napas panjang. "Ini salahku. Ini memang salahku, El." Ricard menatap potret Arsalan dan Aluna dalam sebuah bingkai di kamar pemuda itu. Ia menyentuhnya. "Jika saja aku tidak memaksakan kehidupanku dulu padamu maka kau akan baik-baik saja sekarang."
Ricard menyesali keputusannya membuat hidup Arsalan seperti di neraka. Awalnya dia hanya berencana akan memanfaatkan Aluna untuk mengandung anak Arsalan lalu membuangnya seperti yang sudah dia rencanakan karena kemungkinan Arsalan akan tewas dalam balas dendam ini. Tapi dia tidak kuasa. Gadis manis itu memiliki sesuatu yang membuat Arsalan terlihat seperti manusia. Selama ini dia terus menekankan jika tujuan Arsalan hidup hanyalah untuk membalas kematian orang tuanya tapi ketika melihat laporan anak buahnya akan potret cucunya tertawa bersama Aluna membuatnya sadar. Dia telah melakukan kesalahan besar. Arsalan tidak akan pernah berhenti. "Kecuali Aluna yang memintanya," bisiknya yakin. "Anton, ayo kita temui gadis itu," kata Ricard begitu keluar dari kamar Arsalan.
****
Sementara di lain tempat seorang perempuan muda tampak berbaring nyaman di lengan seorang pria yang lebih dewasa. Mereka tidak terbalut apapun di bawah selimut karena mereka baru saja melakukan sesuatu. "Om Andro, apa om akan melakukan seperti yang kukatakan sebelumnya?"
"Tentu saja, sayang. Terima kasih. Kau memberitahukan sesuatu yang sangat berguna untukku. Aku akan memberikan apapun yang kau mau, Erina."
Erina. Perempuan itu tersenyum lebar. Aluna dan Arsalan. Mereka akan mendapatkan balasan karena telah mempermalukannya.
Erina Haisley Wolan. Kehidupannya juga tidak mudah. Pekerjaan ibunya yang merupakan kupu-kupu malam membuatnya malu dan juga muak walaupun saat itu dia masih kecil. Dia menyadari pekerjaan kotor ibunya karena Erina termasuk anak yang cerdas. Namun, mereka seakan tidak memiliki pilihan lain dalam hidup. Ayahnya pergi entah kemana dan menelantarkan mereka dalam kemiskinan. Bahkan untuk makan saja terkadang Erina harus menunggu diberikan tetangganya atau mencuri dari anak-anak lain. Lebih parahnya lagi Erina beberapa kali sengaja membiarkan dirinya disentuhi oleh para tetangga hidung belang yang akan memberinya uang karena terlalu lapar.
Kemudian saat Erina pindah ke kota dan masuk taman kanak-kanak dia melihat Arsalan. Bocah kaya dan menyedihkan yang terus diganggu anak-anak lain karena katanya pembawa sial. Otak cerdasnya bekerja. Jika dia bisa menjadi peri untuk bocah itu maka dia juga bisa mengambil keuntungan darinya. Sejak saat itulah dia diam-diam memperlakukan Arsalan dengan sangat baik dan ikut mengejeknya dibelakang bocah itu. Misinya berhasil. Arsalan terjebak dengannya. Dia selalu memberinya makanan enak dan juga uang. Hidupnya berubah nyaman tanpa harus repot-repot membiarkan tangan-tangan kotor itu menyentuhi dada juga pantatnya. Hal ini terus berlanjut sampai mereka duduk di bangku sekolah dasar.
Namun, mereka terpisah saat di bangku sekolah menengah. Itu pun juga karena kakek Arsalan ternyata mengetahui niatnya dan membayarnya dengan banyak uang. Tentu saja dia menerimanya dengan senang hati. Tahun demi tahu terlewati dengan bantuan uang kakek Arsalan. Namun, dia kembali jatuh. Erina tidak bisa membiarkan kehidupan nyamannya berubah dan mulai melakukan pekerjaan lagi dengan bayaran yang lebih besar.
Saat ia baru saja pulang dari pekerjaannya. Dia melihat sosok yang familier sedang dikejar banyak pemuda. Dugaannya benar. Itu Arsalan yang sekarang telah berubah menjadi lelaki tampan dan juga berani. Dia bukan lagi Arsalan culun yang suka menangis meratapi nasibnya. Kemudian Erina kembali memakai otaknya, menolong pemuda itu dan kembali mengikatnya. Sempurna. Semua rencananya berjalan sempurna. Sampai akhirnya gadis itu datang. Gadis gila yang membuatnya murka karena keberadaannya. Aluna merebut Arsalan darinya!
Tetapi tidak apa-apa. Dia masih memiliki kartu rahasia ditangannya. Dia masih memiliki Alejandro. Pria tua bangka ini yang akan membalaskan dendamnya. Kalian tunggu saja.
****
Terima kasih banyak udah baca 😁
Jangan lupa jejak ya 🍻
KAMU SEDANG MEMBACA
Beware of The Villain
Teen FictionFOLLOW AKUN SAYA SEBELUM BACA ❤️ BACA AJA DULU SAMPE 10 CHAPTER! NOTE : DIALOG DAN NARASI PAKAI BAHASA BAKU. ---- Sena lebih suka bercengkerama dengan karakter fiktif penuh akan drama dalam buku novel dibandingkan bersitatap dengan manusia nyata...
