50

71.5K 8.1K 1.2K
                                        

BANTU VOTE, KOMEN, TERUS SHARE KE TEMEN, TIKTOK, TWITTER, IG, ATAU KE SOSMED LAIN YUK 🙏🏻

MAKASIH ❤️

HAPPY READING

****

Menunggu. Bagi sebagian orang menunggu bukan hanya hal yang memuakkan tetapi juga menyakitkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebelum besok datang. Tidak ada yang tahu. Dan itulah yang Aluna rasakan. Dia membenci ini. Perasaan sakit hati yang dia rasakan setiap kali menatap Arsalan yang berbaring dengan infus dan alat bantu pernapasan. Dokter bilang operasinya berhasil namun kenapa Arsalan tidak bangun juga? Apa dia marah padanya? Apa dia tidak merindukannya?

Sudah lewat seminggu namun Arsalan tetap saja tidak mau membuka matanya.

"Aluna! Wajahmu benar-benar menyedihkan!" Maggie mencubit pipi Aluna. "Senyumlah! Arsalan suka kau tersenyum bukan?"

Aluna menggeleng. "Dia menyebalkan. Jangan sebut namanya!" Aluna tersenyum kecut. "Dia tidak merindukanku sama sekali karena itu dia lebih suka menutup matanya seperti itu."

Aluna menidurkan kepalanya di atas meja sekolah. Ia tidak memiliki gairah untuk berkelana dan menganggu orang-orang saat ini. Dia hanya diam dan diam. Teman-teman sekelasnya ikut cemas, takut jika Aluna pada akhirnya meledak dan melakukan sesuatu yang mengerikan. Gosip soal Arsalan sudah merebak di seluruh sekolah. Kebenaran jika Arsalan bukanlah pelakunya melainkan orang lain. Tidak disebutkan nama Alejandro yang merupakan ayah Damon tetapi yang mereka tahu pelakunya adalah musuh Damon dan Arsalan. Damon dan Ricard sepakat menyembunyikan hal ini agar tidak ada kasus lain yang terkuak dan membuat gempar dunia.

Silastor dan Lastfox juga dikabarkan berdamai. Banyak anggota mereka yang berkumpul dan juga bercanda bersama. Permusuhan itu resmi berakhir di saat Damon menemui teman-teman Arsalan dan menyalami mereka. Di sosmed juga tersebar foto-foto mereka yang sedang berkunjung menemui Arsalan.

Aluna menatap langit yang tampak cerah hari ini. Dunia ini berubah seperti yang dia mau tetapi harus mengorbankan Axylo. Pemuda itu pergi. Menorehkan perasaan bersalah yang cukup besar dibenaknya. Sekalipun dia juga membantu menciptakan bukti untuk Arsalan. Dia tidak mengerti apa maksudnya agar Arsalan tidak terbunuh tetapi dari kalimatnya sepertinya Alejandro merencanakan hal lain dan dia mencegahnya. Bisa dibilang Axylo juga berusaha menyelamatkan nyawa Arsalan.  Dia tidak menyangka jika akhirnya tetap akan memakan korban. Novel ini berjalan sesuai alur namun sedikit menyeleweng dari yang seharusnya.

Pertama. Nesta benar-benar harus mengalami kejadian mengerikan itu tetapi bukan Arsalan pelakunya.

Keduanya. Orang terdekatnya mati dan itu adalah Axylo. Sahabatnya sendiri.

Jadi sekarang tinggal akhir. Jujur saja, Aluna sedikit takut. Dia tidak tahu apakah hidupnya akan tetap berlanjut atau tidak. Jika novel ini berakhir, apa dia akan kembali? Apa dia akan meninggalkan orang-orang ini? Dia sudah bertahan melewati semuanya. Hanya tersisa rasa yang paling menyakitkan yang belum dia rasakan. Jantungnya berdegup kencang. Pikiran buruk mulai merasuk ke dalam otaknya. Dugaan demi dugaan membuat kepalanya berdenyut sakit.

"Kumohon, kumohon, jangan ambil dia dariku," Aluna berujar pelan tanpa sadar jika suaranya cukup keras karena suasana kelas yang sepi. "Jangan ambil Arsalan. Kumohon. Aku tidak pernah memohon pada-Mu karena kupikir Kau tidak pernah ada. Karena Kau tidak pernah menolongku saat kesusahan karena itu aku tidak pernah berdoa pada-Mu. Tapi Tuhan, hari ini aku memohon pada-Mu. Kumohon, biarkan dia hidup untukku. Aku tahu aku egois dan juga tidak tahu diri tetapi aku mohon. Biarkan dia tetap bersamaku. Aku menyukainya. Aku sangat menyukainya. Biarkan aku tetap menahannya di sisiku. Biarkan aku membahagiakannya. Biarkan aku mengisi hidupnya dengan perasaanku. Tuhan, aku mohon."

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang