36

43.6K 8.1K 767
                                        


Tetep vote dan share yuk! :)

Happy reading! ❤️

***

Aluna menarik napas panjang kemudian dengan penuh keberanian memberikan sekotak bekal di depan Arsalan yang dilengkapi surat berwarna pink dengan tutup hati. "Arsa, tolong baca ini dan berikan aku jawabanmu. Okay?" ujar Aluna sambil menyelipkan anak rambutnya malu-malu.

Edgar dan teman-temannya berusaha keras menahan mual. Drama apa lagi yang sedang mereka mainkan? Itu yang sedang mereka pikirkan. Aluna menatapnya tajam namun dia kembali tersenyum ketika Arsalan menatapnya. Arsalan membuka surat itu namun dalam sekejap dia meremasnya dan melemparnya keluar jendela. Dia bahkan berjalan melewati Aluna yang melongo sambil membawa bekal yang gadis itu berikan. "Hei kau! Bajingan gila! Kau seharusnya memberikannya padaku lagi dan bukannya membuangnya! Kau mau mati hah?" maki Aluna yang dibalas dengan tatapan polos Arsalan.

Gadis itu mengusap kasar rambutnya dan melotot ke arah Edgar yang melihatnya dengan tatapan meledek. "Kau dicampakkan ya?" ledeknya sambil terkekeh.

Aluna tersenyum lebar namun dalam sedetik sebuah sepatu melayang tepat di kepala Edgar. Rencana satu, gagal.

Aluna membawa gitar di tangannya dan menyusul Arsalan yang sedang bermain basket. Dia duduk di kursi penonton lalu mulai memainkan gitar itu dengan asal.
"Arsalan tampan. Mari kita bermain. Mainkan permainan lucu. Kita bertemu si setan dan mengajaknya bermain bersama. Arsalan tampan, mari kita bermain. Kita bertemu dia dan bermain dengannya...huohuo... Mari kita bertemu dia. Marilah mari... Marilah mari...." Nyanyinya dengan nada yang kacau dan juga suara gitar yang tidak bersatu.

Arsalan menatapnya kemudian melengos pergi meninggalkan Aluna yang geram kemudian membanting gitar itu. "Ah sialan kau!" sentaknya kesal. Rencana dua, gagal.

"Hei nak! Kau gila?" seru seorang guru muda yang merupakan manager ekskul musik. "Kau bilang hanya pinjam sebentar, kenapa sekarang kau hancurkan hah?" sentaknya galak.

Aluna meringis. "Maafkan saya, Pak. Saya akan menggantinya."

"Tentu saja kau harus menggantinya! Bayar satu juta!"

Aluna mendelik kaget. Dia menatap serpihan gitar itu dengan nanar. Dia mengeluarkan uang dari sakunya dan menghela napas kasar ketika melihat sisa uangnya hanya tinggal empat ratus ribu. "Sebentar, Pak. Saya akan mencari uangnya dulu."

"Tidak bisa. Kau pasti akan melarikan diri bukan?" bentak guru itu dengan galak.

Aluna mengambil ponselnya yang berharga puluhan juga itu dan menyerahkannya pada guru itu. "Ini adalah jaminannya. Saya akan segera kembali."

Aluna menghampiri teman-teman Arsalan yang masih berkumpul. "Hei, berikan aku uang!" palaknya dengan tidak tahu malu.

"Hoo kau siapa mau meminta uang dari kami?" seru Edgar pongah.

"Aku? Aku ini kekasih Arsalan," sahutnya santai.

Edgar menatapnya gondok. Dia menyerahkan satu lembar uang seratus ribu dan diikuti dengan Axylo, Eros, juga Delon yang memberikan uangnya dengan tidak rela. Aluna mengibaskan tangannya kemudian beralih memalak Maggie yang kebetulan lewat. Maggie tentu saja dengan senang hati menyerahkan beberapa lembar uang ratusan padanya. "Untuk apa?" tanyanya bingung.

"Aku membanting gitar dan bom! Aku lupa itu bukan milikku," sahutnya dengan wajah tenang.

"What? Kau melakukan hal gila apa lagi?"

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang