30

56.2K 10.8K 1.9K
                                        

Py reading

****

Allen duduk dengan wajah ditekuk diantara Aluna dan juga Arsalan. Tripel A itu sudah membuat drama sejak pagi buta. Allen menempel pada Aluna hingga gadis itu memukulnya beberapa kali namun Allen tidak menyerah. Pemuda itu bahkan sampai sempat pindah ke kelas Aluna yang berakhir dengan telinga memerah karena sang guru yang jengkel akan keberadaan murid kelas sepuluh itu. "Kau! Jauh-jauh dari kakakku! Aku kan sudah pernah bilang padamu!" sembur Allen galak.

"Aku menyukainya."

"Tidak boleh. No way! Lebih baik aku menjodohkan kakakku dengan anjing tetangga dibanding membiarkan dia bersamamu."

Aluna mencubit pipi Allen. "Kau mau mati?" sentaknya tak kalah galak.

"Aluna bodoh! Kau harus membelaku! Aku adikmu!"

"Aku kakakmu!"

Allen cemberut. Dia memeluk Aluna dan mendorong Arsalan jauh-jauh dengan kakinya namun Arsalan tak menyerah dan justru duduk di kaki Allen yang membuat pemuda itu memekik lantas kembali menekuk kakinya. "Lihat! Lihat! Dia itu tidak pantas menjadi saudara iparku!"

"Memang siapa yang mau menikah dengannya?" tanya Aluna bingung namun berhasil menusuk jantung Arsalan dan membuat Allen tersenyum lebar.

"Aluna."

"Apa?" balas Aluna cuek.

Dia berusaha keras menahan dirinya agar tidak merona. Arsalan benar-benar berbahaya tetapi dia harus tenang. Dia tidak boleh tergoda sebelum seluruh alur di kepalanya tertata rapi. Lagipula ada Nesta dan Damon yang belum dia selesaikan. Dia sampai lupa jika masih ada mereka berdua yang harus diwaspadai.

Lalu, jika dia benar-benar menerima Arsalan kemudian pemuda itu bertemu dengan Nesta dan dia hilang ingatan, bukankah itu terlalu drama? Dia tidak mau merasakan sakit yang dimaksud roh penjaga. Walaupun dia tidak tahu apa, tapi dia harus mengantisipasi banyak kemungkinan. Dia harus bisa mengamankan dirinya sendiri. Dia harus segera mencari tahu semuanya.

"Bukankah kau mencintaiku?"

Aluna tersedak. "Eh?"

"Kau pernah mengatakan itu padaku." Arsalan berpindah tempat duduk di samping gadis itu bibir mencebik dan menarik-narik kecil rok Aluna seperti bayi. "Bukankah itu berarti kau menyukaiku? Kenapa kau tidak mau menikah denganku?"

Aluna memasang wajah serius kemudian menatap lurus ke depan. "Aku benar-benar harus segera menemui roh itu. Keadaan di sini semakin gawat! Jantungku serasa mau meledak," ujarnya dengan yakin. Dia menatap Arsalan dan Allen bergantian. "Benar. Jika pergi ke kuburan tidak berhasil maka aku akan pergi ke dukun langsung," putusnya kemudian bangkit pergi dari kantin.

Allen terkejut. "Kak, kau mau pergi ke siapa?" Dia beralih menatap Arsalan yang justru sedang tersenyum lebar seperti orang gila. "Heh! Kenapa kau membuat wajah seperti itu? Kau mulai gila?" semprotnya tajam.

"Kakakmu mau memeletku. Dia mau pergi ke dukun, Allen." Arsalan menepuk pundak Allen kemudian pergi menyusul Aluna.

"HAH? APA-APAAN SIH? KAK! HEI!" pekik Allen yang sudah tersadar. Dia ikut berlari mengejar keduanya dengan mulut terus berteriak nyaring. "KALIAN SINTING YA? HEI!"

Maggie dan Eros saling menatap. "Menurutmu apa mataku sedang bermasalah?" tanya Maggie heran.

"Tidak. Dia memang Arsalan," sahut Eros dengan wajah serius.

Maggie menoleh dan terkesiap kaget ketika wajah pemuda itu sangat dekat dengannya. Bahkan Maggie bisa melihat jerawat kecil di pipi Eros. Maggie menelan ludah dan menyeringai. "Hi boy, wanna talk about something with me tonight?"

Beware of The VillainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang