TIGA PULUH ENAM

171 18 5
                                        

♬ ♪Kesempurnaan Cinta - Rizky Febian♪ ♬

_______________


Alvin tiba di rumah Arika tepat jam 06.00. Sebenarnya Alvin sedang agak marah pada Arika, tapi karna dia di rumah tidak ada kegiatan, lebih baik dia ke rumah Arika saja, kan?

Tidak Alvin sangka kehadirannya yang cepat membuat Arika senang. Arika dengan senang hati mempersilahkan Alvin untuk masuk. Mengajak cowok itu untuk sarapan bersama.

Kedua orang tua Arika sudah berangkat pagi-pagi sekali. Katanya ada sesuatu yang penting dan harus segera diurus. Jadi Arika memasak sarapan sendiri karena Rina belum sempat memasak.

Arika mendudukkan Alvin di kursi makan. "Ini yang masak gue, loh. Khusus untuk lo. Ayo buruan coba."

Alvin mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Alvin mengunyah dengan kerutan yang sangat kentara di dahi. Arika melihat dengan menggigit bibir.

Setelah berhasil mengunyah, Alvin meletakkan sendok di atas piring. "Lo nggak pernah masak, ya?"

Arika berdiri kaku di tempatnya. "Kok tau?"

Alvin menatapnya datar. Tatapan Alvin membuat Arika ketar-ketir. Ah, sudah bisa dipastikan kalau masakannya gagal.

"Rasanya aneh."

"Aneh gimana?"

"Gue nggak pernah makan makanan yang rasanya begini sebelumnya."

Arika kesal karena Alvin terlalu berkata panjang lebar. "Iya, terus enak apa nggak?"

Alvin menggeleng. "Enak."

"Hah? Jadi enak apa nggak? Lo geleng tapi ngomong enak. Yang bener kenapa, sih!"

Detik berikutnya Alvin tertawa keras. Dia menjawab serta mulai memakan makanannya tadi. "Iya-iya enak, kok."

Arika mendengus kesal. Setengah mati ia menahan napas untuk mendengar jawaban Alvin yang berakhir membagongkan. Untung Alvin menjawab 'enak'. Kalo 'tidak enak', Arika akan langsung menendang cowok itu.

Dan dengan ekspresi tengilnya, Alvin berujar. "Niat banget pake bikin makanan khusus buat gue."

Arika bersedekap dada. "Sebenernya ini lebih ke nyogok."

Alvin menaikkan alisnya. "Nyogok gimana?"

"Lo tadi malam, kan, marah sama gue. Yaudah gue sogok aja pake makanan khusus, siapa tau lo jadi seneng dan lupain kemarahan lo."

Alvin langsung meletakkan sendoknya lagi. "Siapa bilang gue udah lupa? Mana lo nggak ada niatan ngucap maaf lagi."

"Hah? Em... Ahaha, ya maaf. Kan gue lupa. Mau gimana lagi? Lagipula nyokap sama bokap gue pagi-pagi udah berangkat kerja. Kapan coba gue ngomongnya?"

"Tadi malam, kan, bisa. Emang lo dasarnya malesan."

"Ck! Kok lo jadi ngejek gue?"

"Nggak ngejek, emang kenyataan."

Arika mengibaskan tangannya di udara. "Udah, lah, males debat. Gue mau mandi aja."

"Tapi lo belum makan."

"Nggak mood."

"Ada, ya, orang harus mood dulu baru makan?" tanya Alvin setengah berteriak karena Arika sudah berjalan jauh dari ruang makan.

Arika tak menjawab, bahkan tak menoleh. Alvin menghendikkan bahunya dan melanjutkan kegiatan makannya yang beberapa kali sempat tertunda.

Alvin menolehkan kepalanya ke arah kamar Arika yang tertutup. Melihat tanda-tanda Arika tidak akan kembali, Alvin mengambil lauk yang lebih banyak. Alvin tertawa dalam hati. Salah siapa marah-marah.

The Twins and FriendsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang