"Mut, ssttt," Arika menoleh ke belakang, sedangkan yang dipanggil tetap menunduk.
Setelah mengawasi dan guru pengawas tak menatap ke arahnya, tangan Arika menggapai tangan Mutiara yang tengah memegang pulpen di atas meja. Mutiara seketika mendongak dan mengangkat alis.
Kemudian Arika menoleh ke depan kembali, memastikan guru pengawas tak menatap ke arahnya, lalu menatap Mutiara kembali. Lalu jarinya mengulurkan jari telunjuk dan jari tengah, kemudian dilanjutkan dengan jari telunjuk.
"Dua satu?" Mutiara bertanya tanpa suara.
Arika mengangguk cepat, dengan kembali memastikan guru pengawas aman. Saat menatap Mutiara kembali, gadis penyuka ayam itu sudah menjulurkan jari telunjuknya. Tanda jawaban nomer 21 milik Mutiara adalah A.
Arika mengangguk lagi dan segera menghadap ke depan. Kemudian ia menoleh ke samping ketika seperti melirik lambaian tangan. Ternyata Natasha tengah melambaikan tangan kepadanya.
FYI, karena PAT satu meja hanya untuk satu siswa. Jadi satu kelas dibagi menjadi dua kelas. Dan semua handphone, laptop, kalkulator maupun peralatan yang dapat digunakan untuk mengakses jawaban, harus dikumpulkan. Meski begitu, siswa dan siswinya tetap dapat menyontek dengan saling bekerja sama.
Contohnya mereka bertiga ini. Natasha, Arika, dan Mutiara, sudah saling bertanya dan memberitahu jawaban. Soal Fisika memang meresahkan.
"Tujuh belas," Natasha bertanya pada Arika tanpa suara. Matanya sesekali melirik ke depan.
Arika memberikan jari telunjuk, tengah, dan manis. Tanda jawaban nomer 17 miliknya adalah C. Natasha mengerutkan dahi, tanda ia sedikit ragu dengan jawaban Arika.
Guru pengawas di kelas mereka tiba-tiba berdiri, "Maaf, saya terima telepon dulu. Jangan ada yang keluar ataupun berisik."
Meski sudah diberi wejangan seperti itu, tetap saja siswa-siswi kelas X MIPA 2 langsung riuh.
Natasha segera berdiri dan mendekat ke arah Arika. "Masa jawabannya C, sih, Rik. Bukannya B, ya?"
"Kalo lo tahu jawabannya B, ngapain tanya gue?"
"Buat memastikan. Gue kira jawaban lo sama kayak gue, jadinya, kan, gue yakin. Eh malah beda, jadi tambah bingung."
Arika mengendikkan bahu, "Coba tanya Muti."
Natasha menoleh ke belakang, meja Mutiara tepat di belakang Arika. "Mut, lo nomer tujuh belas apa?"
"D," balas Mutiara singkat, gadis itu masih fokus menghitung soal yang lain.
"Anjing, kok beda semuanya, sih, jawabannya?" Natasha menggerutu kesal.
"Tanya Nia aja," balas Arika tak acuh.
"Lo pikun apa gimana? Nia, kan, di kelas sebelah," jawab Natasha, "lagian siapa, sih, yang ngasih nama dia? Kenapa namanya harus Sania? Kenapa gak langsung Nia aja? Biar absennya agak awal."
"Lo nanya siapa, Nat? Gue? Sorry, gue gak tau. Coba tanya yang lain," sahut Mutiara.
Saat Natasha akan membalas, guru pengawas mereka datang. Ia segera duduk di kursinya dan berlagak menjadi anak ambis yang fokus mengerjakan.
Tak disangka-sangka, ternyata guru pengawas mereka malah berkeliling kelas. Otomatis semuanya tak berani menoleh. Menoleh saja tak berani, apalagi bertanya pada teman?
Kemudian guru tersebut berhenti berjalan di dekat siswa yang juara satu di kelas. Lalu beliau tampak meminta siswa tersebut untuk menjelaskan cara nomer satu. Dan dengan tegasnya, siswa tersebut menjawab dengan yakin. Si guru mengangguk dan kembali berjalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins and Friends
Dla nastolatków[ON GOING] Menceritakan tentang Nathan dan Natasha, dua anak kembar tak identik. Hari-harinya mereka habiskan hanya untuk berdebat hal-hal yang sepele. Ketika masuk SMA, mereka berdua dipertemukan dengan 4 orang yang kini mereka sebut dengan sahabat...
