EMPAT PULUH EMPAT

127 18 2
                                        

Keesokan paginya, Nathan menjemput Manda untuk berangkat sekolah bersama. Sebelumnya, ia sudah memastikan kembarannya pergi ke sekolah. Ia takut jika sewaktu-waktu kembarannya itu tau.

Sesampainya di parkiran sekolah, Nathan dan Manda menyempatkan untuk mengobrol sejenak. Entah membahas apa. Keduanya tampak asik tanpa memperhatikan sekitar.

Bahkan tak sadar ketika Diki melihat secara terang-terangan tingkah mereka berdua, dari jarak 3 meter. Mungkin karena banyaknya siswa yang berlalu-lalang, jadi kedua sejoli itu tidak menyadari.

Terlihat Diki mengepalkan kedua tangannya dengan raut wajah menahan kesal. Dirinya selalu apes karena sering melihat adegan berduaan Nathan dan Manda.

Sedangkan tak jauh dari Diki, ada Arya yang juga tengah memandangi Nathan dan Manda. Arya menyeringai ketika melihat gelagat Diki yang tak seperti laki-laki lain ketika melihat dua sejoli yang tengah mengobrol itu.

Detik selanjutnya, Arya menelpon seseorang dan kembali menyusun rencana yang mungkin lebih fantastis dari kemarin-kemarin. Kemudian Arya berjalan pergi.

"Yaudah, gue duluan, ya."

"Oke, sekali lagi sorry, ya. Nanti pulangnya gue gak bisa barengin," ringis Nathan.

"Santai aja, nanti gue bisa naik angkot atau bareng Riska."

"Oke, semangat belajarnya," cengir Nathan.

"Haha, lo juga," Manda tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Nathan yang masih senyum-senyum sendiri.

Nathan selalu dibuat senyum-senyum sendiri ketika memikirkan Manda. Rasanya Nathan tak ingin jauh dari pacarnya itu. Tapi mau bagaimana lagi, mereka harus belajar.

Nathan masih mempertahankan senyumnya sampai ada tangan yang menepuk bahunya, membuat Nathan berjengkit kaget. Ia langsung saja berbalik badan dan menatap orang itu dengan pandangan terkejut.

"Ngapain, sih, lo!" Kesal Nathan.

"Lo yang ngapain? Daritadi senyum-senyum sendiri. Kesurupan jin pohon ini, ya, lo?" Tanya Alvin dengan menunjuk pohon besar yang ada di sebalah mereka.

Nathan menepuk tangan Alvin yang digunakan cowok itu untuk menunjuk pohon. "Sembarangan lo, Pin! Jangan aneh-aneh, deh."

"Takut, ya, lo?" Ledek Alvin dengan mengelus tangannya yang terasa panas karena tepukan keras dari Nathan tadi.

Nathan memutar bola matanya malas. Kemudian matanya menatap ke arah tiga ceciwi. Natasha, Arika, dan Mutiara yang berjalan dari arah gerbang.

Ketika ketiga cewek itu dekat dengan keberadaannya, Nathan segera melayangkan pertanyaan, "Dari mana lo?"

Ketiganya menoleh, Natasha langsung menjawab, "Abis ngeprint. Lo baru sampe, Than?"

"Dia daritadi nyampeknya, cuma abis apel sama cewek. Jadinya lama," sambar Alvin cepat.

Mata Natasha langsung memicing, sedangkan Arika dan Mutiara langsung berbisik-bisik. Kemudian kembaran Nathan itu bertanya, "Lo punya pacar, Than? Kok gak kasih tau gue?"

"Gimana, sih, si Nathan, masa kembarannya sendiri gak dikasih tau," sambar Alvin lagi. "asal lo tau, ya, Tash. Gue juga kagak dikasih tau sama si Nathan. Padahal, kan, gue sahabat sehidup sematinya. Emang pelit, sih, dia."

Nathan menggeplak kepala Alvin pelan, "Heh! Main sambar aja lo. Kalo gak tau, jangan ngomong seolah-olah lo itu yang paling tau."

"Emang nyata, kok," ejek Alvin.

Saat Natasha ingin bertanya lagi, bel masuk telah berbunyi. Dengan cepat Arika dan Mutiara menarik tangan Natasha untuk masuk ke sekolah. Sebelum itu, Natasha berkata yang membuat Nathan meneguk salivanya kasar.

The Twins and FriendsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang