Malamnya, Mutiara memasuki kamar setelah mengobrol panjang lebar dengan ibunya. Ia langsung mengambil handphonenya yang tergeletak di atas meja belajar. Setelah membukanya, matanya dapat melihat 10 panggilan dari Arika.
Mutiara mengernyit, lantas membaca pesan yang Arika sampaikan.
Arikanj
Terakhir dilihat hari ini pukul 19.13
•WOI, CEPET CEK E-MAIL.
•HASIL LOMBA KEMARIN UDAH KELUAR.
•WOI, LO KE MANA, SIH?
•NGASIH MAKAN AYAM LO YANG BEJIBUN ITU, YA?
•MUTI KAMPRET! LAMA BANGET LO, ANJ!
•GUE PENASARAN WOI!
Dengan hati dag-dig-dug ser—tanpa memperdulikan pesan Arika yang memakai bahasa kasar—Mutiara langsung membuka aplikasi e-mailnya.
Sebelum membuka, Mutiara berdo'a terlebih dahulu. Setelahnya ia langsung membukanya. Jantungnya benar-benar bergetar hebat. Tangannya dingin. Mutiara lemas seketika.
Namun, tak lama ia tersenyum. Ia menutup aplikasi itu dan menghubungi Arika. Di dering ketiga, Arika langsung mengangkatnya. Dengan heboh ia bercerita.
"Woi, gimana hasilnya? Lo tadi lama banget dari mana, sih? Lo gak tau apa kalo gue penasaran? Yakali malam-malam gini lo ngurusin anak ayam."
"Sabar, gue gak bisa bales satu-satu, Jamilah!"
"Hmz, ngomong-ngomong, nih, ye, gue dapet juara, dong! Juara 3, sih. But, gak apa-apalah. Yang penting dapet, uhuy!"
"Widih, emang pantes, sih, kalo lo juara. Secara, kan, lukisan lo pas lomba itu keren banget. Btw, selamat, yak!"
"Yoai, bro! Kalo lo gimana? Pasti lo juara juga, kan? Gak usah diraguin lagi kalo lo, mah. Ya, gak?"
"Hahaha gak jugalah, Rik. Em..."
"Kenapa?"
"Gue gak dapet juara. Mungkin belum rejeki kali, ya? Haha. Lain kali mau ikut lagi, deh. Tapi, lo temenin, ya."
Arika terdiam sebentar, seperti tak menyangka. Mutiara menyadari itu, ia menghela napas lalu tersenyum dan berujar lagi pada Arika.
"Gue gak apa-apa, kok. Lagian ini, kan, cuma lomba. Cuma buat ngasah bakat aja. Kalo gue belum menang, berarti emang gue harus terus berlatih lagi. Biar kedepannya makin bagus."
"Bener, sih. Tapi, lo beneran gak apa-apa, kan? Em, gimana kalo lo gue traktir? Sama Tasha juga. Sekalian ngambil hadiah."
"Boleh, tuh, kabarin lagi aja kalo jadi. Btw, kapan lo ngambil hadiahnya?"
"Lusa."
"Oh, yaudah. Gue tutup, ya, bye! Sekali lagi, congrats!"
Tut.
Panggilan Mutiara matikan. Ia menarik napas panjang sebelum ia hembuskan dengan perlahan. Matanya menatap ke atap kamarnya, untuk menghalau air mata yang dengan nakalnya ingin turun.
"Apa mungkin karna Ayah gak ngerestuin, ya?" Ucap Mutiara lirih.
Mutiara berjalan menuju jendela yang ada di kamarnya, menatap langit malam yang tampak mendung. Terbukti dengan tidak adanya bulan maupun bintang yang biasanya bertengger indah di atas sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins and Friends
Ficção Adolescente[ON GOING] Menceritakan tentang Nathan dan Natasha, dua anak kembar tak identik. Hari-harinya mereka habiskan hanya untuk berdebat hal-hal yang sepele. Ketika masuk SMA, mereka berdua dipertemukan dengan 4 orang yang kini mereka sebut dengan sahabat...
