Alana masih terdiam, terpaku, dan terpukau. Bagaimana bisa sosok laki-laki di hadapannya ini begitu sempurna bahkan dari samping. Rahang yang tegas dengan ditemani jakun membuat semua orang pasti akan terpesona, tak heran lagi kenapa semua cewek di SMA Garuda Emas menyukai Tristan. Walaupun kasar tetapi kalau ganteng apa boleh buat?
"Gue tau, gue ganteng tapi biasa aja kali ngeliatinnya," gumam Tristan, sembari menutup botol minumannya.
Alana langsung gelagapan, ia langsung menoleh ke depan dan meminum air yang ia pegang dengan cepat.
"Lo beli ini semua buat anak panti?" tanya Tristan beberapa detik kemudian.
Alana menoleh kembali dan menatap Tristan yang masih menatap ke arah jalan besar di hadapannya.
"Iya, emang kenapa?"
"Nggak pa-pa si."
"Aneh ya?" tanya Alana.
"Nggak," jawab Tristan singkat. "Gue cuman binggung aja orang kayak lo yang notaben nya masih pelajar dan belum punya kerjaan bisa-bisanya ngeluarin duit cuman buat belanja ini semua," papar Tristan sesekali sambil meneguk kembali minumnya.
"Kenapa binggung? Emang kalau mau sedekah harus punya kerjaan?"
"Ya, nggak juga. Cuman lo liat realitanya sekarang, banyak cewek seumuran lo yang ngabisin duit buat ke Mall. Beli ini dan itu,"
Alana hanya bisa tersenyum ketika mendengarkan ucapan lelaki itu. Mulai dari Kejora, Delima, Sisi bahkan Diaz pun pernah mengucapkan kalimat yang sama seperti Tristan. Memangnya aneh ya?
"Buat apa? Buat memanjakan diri?" tanya Alana. "Menurut gue itu cuman ngabisin waktu doang, mendingan waktunya dipakai buat yang lebih berguna. Contohnya ya ini, gue seneng bikin orang lain bahagia, " jelas Alana membuat Tristan akhirnya menoleh dan menatap gadis di hadapannya.
Tristan memutar kursinya menjadi posisi yang berhadapan dengan gadis itu. "Lo emangnya nggak mikirin kebahagiaan diri lo gitu?"
Alana tersenyum kembali dengan begitu tulus. "Gue udah cukup bahagia kok dengan apa yang gue punya sekarang," jawab Alana dengan begitu lembut. "Seenggaknya gue masih punya Paman sama Bibi gue yang ngerawat gue dari kecil sampai sekarang dengan penuh kasih serta sayang," lanjut Alana.
"Ayah, ibu lo emang kemana?" tanya Tristan.
"Mereka udah meninggal," jawab Alana tersenyum. Kalau boleh jujur, Alana sangat merindukan kedua orang tuanya. Ia ingin sekali merasakan kasih sayang Papa dan Ibu nya seperti orang lain, tetapi Alana harus bersyukur karena ia masih punya Arwan yang begitu menyanyanginya.
"Sorry..."
"Nggak pa-pa Tristan, gue juga udah ikhlas kok," balas Alana. "Lo mau tau nggak kenapa tadi gue nyuruh lo jangan ngebut-ngebut bawa motornya?"
"Kenapa? kan bagus ngebut biar cepet sampai."
"Karena gue punya trauma sama jalanan," ucap Alana. "Dulu, Papa gue bawa mobil kenceng banget. Sampai gue disuruh pegangan yang erat. Gue inget banget, sampai ketika mobil yang dibawa Papa gue. Rem nya blong terus nambrak truk yang lagi terparkir di depannya. Dari situ gue nggak tau kenapa kalau naik motor ataupun mobil dengan kecepatan yang tinggi selalu terbayang dengan kejadian itu," jelas Alana sekalian bercerita.
"Lain kali jangan ngebut ya Tristan, bahaya nanti kalau lo sampai kenapa-kenapa!" peringat Alana pada Tristan.
Alana mengatur napasnya dengan begitu hati-hati. Ia tidak mau menangis di depan lelaki yang ia suka, Alana bukan perempuan cengeng, Alana kuat!!
"Lo jadi udah sering dong ngelakuin kayak gini?" tanya Tristan.
Alana menganggukan kepala. "Iya, gue seneng aja gitu kalau ngeliat orang lain senyum bahagia karena gue. Karena gue juga sama kayak mereka, nggak punya orang tua. Kebahagiaan orang lain itu menurut gue lebih penting daripada kebahagiaan gue sendiri. Gue udah cukup bahagia, sekarang giliran gue bahagiain orang lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tan - Lana
Teen FictionIni bukan cerita tentang seorang gadis dengan segala keceriaan dan kebahagiaan, ini cerita tentang gadis yang begitu rapuh namun berusaha untuk terlihat tegar didepan semua orang. Alana Anatasya, namanya. Gadis berparas cantik dengan rambut yang...
