part 33

7K 214 5
                                        

Air mata sudah akan turun dari pelupuk mata Alea, gadis itu mencoba menahan amarah nya saat ini. Dia sedang berhadapan dengan Dipta di sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari rumah Rasgan, seusai pembicaraanya dengan Nevan tadi tiba-tiba Dipta menelpon nya dan meminta agar mereka bertemu sekarang juga.

Awal nya ia menolak namun Dipta bilang ini penting jadi dia meminta Nevan mengantar nya ke cafe yang cukup dekat dengan lokasi mereka berada dengan alasan ada urusan penting dengan Dipta dan meminta Dipta datang ke cafe tersebut.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Nevan dan Alea sampai di cafe tersebut, Alea meminta Nevan untuk kembali lebih dahulu biar nanti dia akan pulang bersama Dipta ke apartemen Rasgan.

"Beneran gak mau gue temenin?"

"Gak usah van lagian kan nanti gue balik bareng Dipta"

"Oke tapi kalo ada apa-apa Lo langsung telpon gue ya"

"Siap bos, yaudah gue masuk dulu ya"

Keadaan di area tersebut cukup ramai, saat mobil Nevan mulai berjalan Alea segera masuk ke dalam cafe menunggu hingga Dipta datang, dan setalah Dipta datang hal ini lah yang terjadi.

"Gue minta maaf sav, tapi bunda minta gue sampein ini ke Lo"

"Gue tau"

Dia tahu, dia tahu lambat laun hari ini akan terjadi. Hari yang selama ini ia harapkan tidak akan pernah terjadi, hari dimana dia harus berhadapan dengan Arsalan, kakak kandung nya yang sangat enggan ia temui.

Dipta berkata bahwa kakak nya berserta kedua orangtua nya sekarang sedang berada di rumah. Rumah yang membuat Alea menelan banyak kepahitan di dalam nya, rumah yang selama delapan belas tahun ini ia tinggali.

Terhitung lima hari mereka pulang, sepupunya itu mengatakan Arsalan terus menanyakan dirinya dan ingin bertemu dengan dirinya. Ia bilang kondisi laki-laki itu kini sudah jauh membaik dari yang terakhir kali di lihat.

Sungguh Alea tidak perduli, ia tidak mau tahu dan tidak mau dengar apapun tentang laki-laki itu.

"Gue gak siap dan kayanya gak akan pernah siap dip"

"Sava Lo tau kan Lo gak sendiri"

"Selama ini gue cukup sadar kalo gue gak sendiri tapi ini bukan soal itu, Lo tau rumit nya dimana kan? Lo harus ketemu sama orang yang paling Lo benci"

Setetes air mata jatuh dari wajah nya, dia menatap datar sepupu di hadapannya.

Sial! tanpa permisi air mata itu jatuh, bahkan sebelum Alea berusaha menahannya. Ia memang lemah jika berurusan dengan yang namanya Arsalan, kehidupan nya berantakan karena laki-laki itu.

"Karna dia hidup gue berubah, semua impian gue waktu dulu harus gue kubur dalam-dalam. Semua yang gue mau gak pernah terwujud, bahkan untuk dapet attention from my parents aja engga"

Dipta menggenggam telapak tangan kanan Alea lalu mengecup nya, dia ikut merasakan sesak yang gadis itu rasakan sekarang.

Bella memaksanya mengatakan hal ini, bunda nya itu memohon hingga ia terpaksa mengatakan nya kepada Alea. Jika saja bunda nya tidak memaksa dengan senang hati ia akan membiarkan Arsalan serta paman dan bibi nya tidak tahu di mana keberadaan Alea.

Untuk apa repot-repot memberitahu Alea karena gadis itu pasti akan seperti sekarang, berusaha baik-baik saja sambil mengingat masa lalu menyakitkan yang ia alami dulu.

"Lo gak harus nemuin mereka, gue cuma nyamperin permintaan bunda aja kok"

Tangan nya ia gunakan untuk mengelus punggung tangan Alea agar gadis itu lebih tenang, ia tahu tidak akan berhasil namun tetap ia lakukan.

Cool and ProblemTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang