Kiara tak menyangka di usianya yang masih sangat muda, telah dijodohkan dengan seorang CEO muda sukses. Sepertinya keegoisan dari sang ayah yang menginginkan putri bungsunya itu menikah dengan Bara Carel Adiwijaya, semata-mata hanya karena perusahaa...
Prepare your heart again:) Semoga feel part ini nyambung.
Ok? Ok, happy reading!
Pagi ini Kiara izin untuk tidak berangkat ke sekolah. Badannya terasa sakit akibat cengkeraman dan dorongan yang kuat dari Bara. Ia tak menyangka akan diperlakukan seperti ini. Ingin rasanya mengadu pada sang Mama, tapi takut merepotkan orang lain.
Gadis cantik itu melangkahkan kakinya menuju ke meja makan. Seperti biasa para maid sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Jangan lupakan, bahwa Bara sudah berangkat pagi sekali untuk menghindar dari Kiara.
Kiara memakan roti tawar yang sudah diolesi dengan selai cokelat, ditemani dengan segelas susu hangat. Tiba-tiba saja, di ruang tamu terdengar suara dari wanita lain. Kiara segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruang tamu.
"Maaf, mbak cari siapa ya?" tanya Kiara ramah.
"Ya, iyalah gue kan mau cari calon suami gue," jawab wanita itu dengan pedenya. Tatapan mata wanita itu memandang remeh Kiara.
"Ca--" perkataan dari Kiara terpotong lagi saat wanita itu membuka suara.
"Oh, ya. Lo pembantu baru di rumah ini? Jangan panggil gue mbak, tapi panggil gue Nyonya Naura!" ucap wanita itu yang bernama Naura.
Kiara yang masih belum mengerti dengan perkataan Naura menatap bingung lawan bicaranya itu. Apa maksud dari wanita itu yang mengatakan dirinya pembantu di rumah ini?
"Maaf, maksudnya apa ya? Aku gak ngerti?" sahut Kiara masih tak mengerti maksud dari kedatangan dari wanita seksi di depannya ini.
"Lo, jangan pura-pura deh. Gue pacarnya Bara Adiwijaya!" ucap Naura mempertegas nama sang kekasih-- Bara.
"Uppss, bukan pacar deh, bentar lagi gue sama Bara akan tunangan terus nikah deh. Hidup bahagia!"
Kiara yang mendengar ucapan dari Naura seketika terkejut. Kiara menutup mulutnya, tak percaya dengan ucapan tersebut. Naura yang melihat Kiara terkejut menatap sinis.
Salah satu maid yang sedari awal melihat pertikaian antara Kiara dan Naura, segera mendekat dan melerai keduanya.
"Nona Kiara, nggak apa-apa?" tanya maid itu ramah.
Kiara menggeleng cepat dan tersenyum simpul.
"Apa-apaan, nih?!" sahut Naura tak terima kalau maid tadi memanggil Kiara dengan sebutan 'Nona'.
"Maaf Nyonya Naura, Non Kiara istrinya Tuan Bara," jelas maid itu, membuat Naura mengepalkan kedua tangannya.
"Gak, gak. Itu gak mungkin, jangan halu deh! Jelas-jelas Bara itu pacar gue. Lebih tepatnya calon tunangan gue!" sahut Naura dengan napas memburu.
Tap tap tap!
Bunyi dari sepatu seseorang mengalihkan pandangan mereka semua. Bara sengaja pulang dari kantor lebih awal, karena mendapat panggilan telepon dari bodyguard pribadi yang mengetahui bahwa Naura berseteru dengan Kiara.
"Sayang," panggil Naura bergelayut manja di lengan Bara.
Kiara yang melihat kejadian yang ada di depan matanya, menggeleng-gelengkan kepalanya, masih belum percaya. Ia mati-matian menahan air mata agar tak mengalir.
"Ekhem ...." Bara berdehem, ia bingung dengan situasi sekarang.
"Sayang dia itu siapa sih? Pembantu di sini, 'kan?" tanya Naura masih bergelayut manja.
Bara melepaskan tangan Naura yang bergelayut di lengannya itu. Ia tak suka kalau sang kekasih menyebut Kiara sebagai pembantu.
"Dia bukan istri kamu, kan sayang? Dia cuma halu!" Naura terus bertanya. Tanpa peduli kalau Bara tengah menahan emosi.
"Dia istri aku."
Tiga kata yang terlontar dari mulut Bara mampu membuat Naura terkejut, sekaligus mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bara. Ya, yang telah menampar pipi Bara adalah sang kekasih. Bara diam, merasakan perih akibat tamparan keras dari Naura tadi.
"Kamu bohong kan, sayang? Kamu gak mungkin nikah sama dia!" teriak Naura meneteskan air mata.
"Kamu sudah janji mau melamar aku bulan nanti," sambung Naura sembari memukul dada bidang Bara.
Kiara yang sedari tadi menyimak pembicaraan antara Bara dan sang kekasih, menangis dan menangis. Ia tak menyangka disaat perasaan cinta yang mulai tumbuh di hatinya untuk Bara akan berakhir jadi seperti ini. Tidak, tidak ini bukan akhir dari segalanya.
"STOP NAURA!" Suara bariton dari Bara membuat semua penghuni yang ada di dalam rumah terkejut. Termasuk Naura yang sedari tadi memukul dada bidang Bara, kini berhenti memukul.
"Aku bisa jelasin sama kamu. Nanti," tutur Bara akhirnya.
Naura berdecak kesal, kenapa harus nanti menjelaskan semuanya?
"Ta--"
"Lebih baik kamu pulang sekarang," usir Bara secara halus. Tak mungkin ia menjelaskan semuanya sekarang, situasinya tidak memungkinkan.
"Ok." Naura berlalu pergi dari tempat itu dengan perasaan kesal, pastinya.
TBC ....
Entah kenapa part ini terlalu campur aduk wkwkwk:v
Kalo gaje skip aja, hmm ....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ekspresi wajah Bara ketika ingin menjelaskan semuanya kepada kedua gadis itu 😆🤫