Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

44. Bahagia itu sederhana

1.3K 75 0
                                        

Happy reading 💫

"Maafin aku ya, Ara," ucap Fadil memulai pembicaraan mereka berdua yang sedari tadi saling diam. Terasa sekali atmosfer diantara keduanya begitu canggung, karena kejadian kemarin.

Kiara menghela napasnya, sebenarnya kejadian kemarin Fadil tak bersalah sama sekali. Hanya saja, Kiara terlalu terbawa perasaan saat melihat Fadil dekat dengan cewek lain.

"Nggak papa kok, Fadil gak salah," ujar Kiara tersenyum.

"Sekali lagi maafin aku, ya," ucap Fadil merasa bersalah.

"Iya aku maafin," jawab Kiara.

"Kenapa kemarin kamu menghindar?" tanya Fadil.

"Jaga jarak," sahut Kiara membuat Fadil menautkan kedua alis tebalnya.

"Why? Aku gak mau jaga jarak sama kamu, Ra. Apa kamu udah gak mau lagi temanan sama aku? Kita udah lama juga temanan, apa kamu udah pu--," kata-kata dari Fadil terpotong saat Kiara menaruh jari telunjuknya di bibir pemuda itu.

"Bawel!" ledek Kiara.

Fadil memegang jari telunjuk Kiara yang masih menempel di bibirnya, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut. Blush! Pipi Kiara merah merona, tindakan yang dilakukan oleh Fadil secara tiba-tiba membuat perasaan Kiara berdesir.

"Pipinya merah merona," ucap Fadil menggoda gadis itu, Kiara segera mengalihkan pandangannya ke samping.

"Liat aku, Ara," pinta Fadil masih menatap Kiara yang enggan menatapnya.

Kiara menggeleng, ia masih enggan menatap wajah temannya itu.

"Please, Ara ...." pinta Fadil lagi, memohon agar Kiara menoleh ke arahnya. Kiara menghela napasnya, kemudian menatap wajah temannya itu.

"Iya, ada apa Kak Fadil?" tanya Kiara.

"Kamu cantik," ucap Fadil memuji Kiara.

Seketika Kiara terkekeh kecil. "Ya, aku emang cantik. Karena aku cewek," jawab Kiara dengan nada yang menyebalkan.

"Nah, gitu dong. Senyum," ujar Fadil tersenyum sembari mengacak rambut Kiara, lalu tangannya beralih mencubit pipi Kiara dengan gemas.

"Kak Fadil!" teriak Kiara kesal, merasa tidak suka Fadil mengacak rambut sekaligus mencubit pipinya. Kemudian pemuda itu beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil menghindari serangan balik dari Kiara. Ia tersenyum puas tatkala Kiara berusaha mengejarnya.

                                 __-__

Dari jarak beberapa meter dari sang Mama kesayangan. Seorang pemuda tengah menatap sang Mama dengan tatapan sendu, apalagi setiap melihat sang Mama menangis pemuda itu merasa rapuh dan gagal dalam membahagiakan Mamanya itu.

Kemudian pemuda itu melangkahkan kakinya ke arah sang Mama. "Hello, Mom. How are you, Mom?" tanyanya terkesan berwibawa.

Seketika wanita paruh baya itu, mengusap air matanya dan berdehem pelan. "I'm fine. See, Mommy so fine, apalagi kamu datang ke sini," kata wanita itu yang menampilkan senyuman teduhnya.

Terlihat sekali, pemuda itu menghela napasnya setelah mendengar jawaban sang Mama. Jawaban dan kata-kata seperti itulah yang selalu ia dengar dari sang Mama, seolah terlihat baik-baik saja di depan putra sulungnya pada kenyataannya wanita itu juga rindu pada gadis kecilnya yaitu, Kiara Selena Wells.

"Mommy selalu saja jawab seperti ini. Mommy tau? Kalau Axel gak suka jawaban seperti ini," ujar Axel jujur.

"Axel tau Mommy akan sangat bahagia kalau Ara balik lagi sama kita," tutur Axel lagi. Kebahagiaan sang Mama adalah bertemu dengan putri bungsunya-- Kiara.

"Please, Axel. Dengerin Mommy, Mommy juga bahagia setiap hari selalu bersama anak Mommy yang ganteng ini."

Kemudian wanita paruh baya itu mendekap erat tubuh putra sulungnya, bahwa ia juga bahagia saat bersama putra sulungnya. Ia juga akan berbuat adil dalam membagi kasih sayang antara Axel dan Kiara. Walau pada kenyataannya, wanita itu hanya membagi kasih sayangnya pada putra sulungnya. Sedangkan pada putri bungsunya, sudah putus kontak sejak usia putri bungsunya dua belas tahun. Selama itu juga rindunya hanya bisa tersalurkan melalui poto masa kecil Kiara.

"Axel ingat, 'kan kata-kata Mommy?"

Axel mengangguk mengerti, ia akan selalu ingat sama kata-kata dan nasihat dari sang Mama.

"Ingat, setiap orang memiliki kebahagiaan masing-masing. Tuhan selalu adil, kapan setiap umat-Nya akan mendapatkan kebahagiaan dan kelengkapan dalam keluarga."

"I know, Mom. Begitu juga dengan kita," timpal Axel.

Clara bersyukur putra sulungnya bisa bersikap dewasa, memiliki sifat tegas, berwibawa dan pemimpin diusia muda.

"Kamu istirahat dulu, pasti capek habis kuliah pulangnya langsung meeting di kantor," titah Clara tersenyum simpul pada putra sulungnya.

"Okay, Mom!"

Setelahnya pemuda itu melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, tubuh dan pikirannya perlu beristirahat sejenak melepas penat setelah seharian kuliah pulangnya langsung meeting di kantor.

Clara Selena Wells as Mommy Axel Mahendradatta Wells and Kiara Selena Wells.

Axel Mahendradatta Wells as brother Kiara Selena Wells.

🐰🐧🐥

Married With CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang