Selamat membaca
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Siang dan malam terus berganti hingga tiga haripun sudah dilewati. Seungri dan kedua anaknya pergi dari rumah megah dan mewah tersebut sesuai perkataan Park Bom. Sekarang mereka berada di dalam mobil belum ada niat untuk turun. Mobil sedan hitam menepi di pinggir jalan, sebelah kanan ada rumah cukup besar dengan halaman depan yang luas. Terlihat banyak anak-anak mungkin seumuran Rose dan juga Chae sedang bermain bersama di sana dengan riang.
Sebelum pergi dari rumah keluarga Park, Seungri berbicara sebentar dengan Park Bom. "Kumohon eomma, izinkan anak-anak tinggal di sini," masih berusaha membujuk eomma-nya.
"Tidak," Park Bom menolah mentah tanpa belas kasih. "di sini bukan tempat penitipan anak." Tetap teguh pada pendirian meski anak bungsunya sudah memohon dengan sangat prihatin dengan wajah menyedihkan.
Sekilas Seungri menahan napas mendengar penolakan ibunya lagi. "Apa eomma tak kasihan dengan cucu sendiri? mereka sudah tidak punya tempat tinggal. kemarin ada yang menyita rumahku." Suaranya lirih sudah tidak lagi memperdulikan harga diri sebagai kepala keluarga.
"Untuk apa kasihan? eomma tak merasa punya cucu seperti mereka. ini masalahmu bukan urusanku dan jangan pernah minta tolong kepada kedua kakakmu. ingat, mereka sudah punya keluarga masing-masing." Sedikit nada ancaman dan dengan gerakan santai Park Bom menyesap teh hangat miliknya, meletakkan cangkir teh kembali di atas meja. "Jika tak biasa menjaga mereka, ada tempat yang sukarela menampung mereka dengan baik," lanjutnya dengan senyum kecil tidak sampai ke mata.
"Dimana?" Ada kerutan kecil di alis Seungri dengan tatapan penasaran namun Park Bom memberikan senyum seringai.
Setelah beberapa saat berdiam di dalam mobil akhirnya mereka turun dari mobil. Berdiri tepat di pintu gerbang rumah besar dengan plang nama besar bertulisan Rumah Kasih Cinta. Entah apa yang dipikirkan Seungri membawa anaknya ke panti asuhan mengikuti saran dari Park Bom sebelumnya.
Mereka masuk ke area panti dengan langkah tegas namun sedikit ragu saat memasuki area. Seungri langsung berhadapan dengan pengurus panti berbincang tentang panti asuhan tersebut di ruang tengah dan Chae berada di pangkuannya--- Rose berdiri dekat jendela alih-alih ikut duduk, memperhatikan anak-anak lain seusianya sedang asik bermain di luar dan samar mendengar percakapan Seungri dengan pengurus panti. Dia bersama adiknya akan tinggal di sini. Tubuhnya seketika tegang dan kaku mengetahui informasi tersebut.
Tentunya membuat Rose syok, terlintas di pikiran kecilnya untuk pergi dari sini sebelum terlambat. Karena lebih baik sekarang atau tidak sama sekali.
Memperhatikan dalam diam keadaan sekitar, saat merasa semua orang dewasa di sini sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Perlahan berjalan mengendap-endap seperti pencuri kecil menuju pintu keluar dan menjauh dari area panti asuhan seakan tak terjadi apa-apa.
Berjalan tanpa tujuan sambil mepihat sekitar kawasan asing bagi Rose. Langkah kakinya membawa ke sebuah taman, memilih duduk di salah satu bangku taman untuk beristirahat sebentar. Duduk diam, menatap tanah sambil berusaha mencerna situasi yang telah dilalui Rose beberapa hari ini.
Suasana taman sepi, mungkin karena hari masih siang orang-orang enggan ke taman saat matahari sedang terik di hari cerah ini. Mata Rose mengamati sekitar taman hingga menangkap seorang anak perempuan sendirian di ayunan, menundukkan kepalanya dengan pundak bergetar kemungkinan Dia sedang menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only ME
Fanfiction... Sebuah cerita sederhana ... Menerima dengan keikhlasan hati walau sulit atau berpura-pura seakan tidak pernah terjadi walau menyesakkan di hati atau mungkin dengan kepergian semua akan selesai. Note : Tolong perhatikan! tempat dan nama karakter...
