Usai dari membeli kado, Bagas ternyata tidak langsung pulang ke rumah. Melainkan dia pergi ke bengkel untuk bekerja. Ya, setelah kejadian kecelakaan di tempat kerja yang mengakibatkan dirinya masuk rumah sakit sejak saat itu papanya melarang keras dirinya bekerja lagi. Tapi bukan Bagas namanya bila dia akan patuh pada perintah itu. Tentu saja dengan keras kepalanya dia mencari pekerjaan yang tidak ada orang tau selain sahabatnya.
Pakaian lusuh compang-camping, bau badan menyengat serta keringat bercucuran membuat Bagas bukan seperti Bagas yang dikenal di sekolah dengan tampilan cool-nya.
Bagas melirik sekilas ke arah jam arlojinya, sepulang kerja ini dia berniat mampir ke kantor tempat kakaknya bekerja.
Setibanya disana, dia langsung menuju ke ruangannya dan tak lupa dia mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.
Tok!tok!tok!
Adit yang masih berkutat dengan laptopnya itu berdecak pelan ketika ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Yaaa,,,masuk!" teriaknya dari dalam ruangan.
Bagas masuk ke dalam ruangan dengan senyum pertama kali Ia lempar pada kakaknya.
"Ngapain lo kesini?" bukan senyuman balik yang Adit beri, melainkan pertanyaan ketus yang Ia lontarkan pada adiknya.
"Gua boleh duduk disini?" tanya Bagas menunjuk sofa di sampingnya.
Melihat pakaian Bagas yang lusuh seperti itu membuat dia mengurungkan niatnya untuk memperbolehkan adiknya duduk di sofa itu.
"Lo duduk di bawah aja, soalnya pakaian lo lusuh"
Bagas terperanjat, dia pikir kakaknya akan menyuruhnya duduk di kursi kecil samping sofa, tapi ternyata justru kakaknya menyuruhnya duduk di bawah lantai.
"To the poin aja! Gua nggak suka basa-basi. Kerjaan gua masih banyak" ucapnya sembari tatapannya fokus menatap ke arah laptop.
"Gua kesini mau nitip kado ulang tahun mama ke lo"
Adit menghembuskan nafas panjang. "Kenapa nggak lo kasih langsung aja ke mama?"
"Kalau gua kasih langsung ke mama, mama pasti nggak mau nerima kado pemberian gua" jawab Bagas tanpa sadar telah menghabiskan bekal yang berada di atas meja.
Adit menoleh ke arah adiknya. "Ya, mak-, tunggu-tunggu lo yang ngabisin ini?" tanyanya kini menyentuh bekal nasi yang sudah tak berisi.
Bagas hanya menyengir sembari menggaruk pelipisnya tak gatal.
Adit menatap Bagas murka."Kenapa lo habisin? Lo tau nggak itu bekal dari siapa?"
Bagas menggelengkan kepala polos.
"Astaga! Itu bekal yang bini gua kasih buat gua! Bahkan gua belum nyicip sedikit pun itu bekal. Kenapa lo habisin, bego!"
Bagas menundukkan kepala, dia tau dia salah, tapi baru kali ini dia melihat kakaknya itu semarah ini padanya hanya karena soal nasi.
"Sorry, bang. Gua tadi lapar" lirih Bagas menundukkan kepala.
"Ya, kalau lapar pulang! Makan di rumah! Bukan ngabisin bekal orang! Dasar bego!"
Beberapa kali kakaknya itu mengacak rambutnya frustasi. Dia bahkan melempar beberapa berkasnya dengan kasar di atas meja.
"G-gua akan ganti pakai duit"
Adit menatap Bagas dengan seksama"Lo pikir duit itu dapat menyelesaikan segalanya? Ha? Enggak! Emang bener kata mama, lo itu anak pembawa sial! Kehadiran lo itu hanya menambah beban keluarga! Seharusnya lo nggak lahir di dunia ini! Karena kehadiran lo itu hanya merusak kebahagiaan kami!"
Bagas terdiam, dia menerima segala cacian yang kakaknya beri padanya.
"Seburuk itukah gua di mata lo?" batinnya kini berujar.
"Sekarang lo pergi dari sini! PERGI!" teriaknya sembari menyeret paksa Bagas keluar dari ruangannya.
"Bang! Gua mohon buka pintunya!!! Gua minta maaf" gedornya pada pintu yang telah tertutup rapat itu.
"Gua tau lo benci sama gua bang, tapi jangan hukum gua seperti ini!" batin Bagas dalam hati.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Ligatus [ SUDAH TERBIT ]
RandomSinopsis Seperti apa rasanya dibenci oleh seorang Ibu? Di permainkan oleh keadaan, dan berusaha bangkit dari sebuah keterpurukan? Menyakitkan bukan? Itulah yang kini dirasakan oleh seorang pemuda bernama Bagas. Pemuda yang hidup tumbuh dalam tekanan...
![Ligatus [ SUDAH TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/227070593-64-k984649.jpg)