Dalam perjalanan pulang, Bagas terus saja memikirkan permasalahan yang dialaminya saat ini. Kepalanya seakan ingin pecah memikirkan masalah yang tak kunjung Ia temui titik temunya. Belum lagi Ia memikirkan seorang perempuan yang telah pergi dari hidupnya. Perempuan yang berstatus menjadi istrinya itu, dirinya bahkan tidak tahu istrinya itu ada dimana. Dia mengusap kasar wajahnya, "Dimana kamu Chelsea!" kalimat sederhana ini diucapkannya dalam hati. Rasa sesak kembali hadir ketika mengingat kembali saat perempuan itu pergi meninggalkannya. Dia tidak menahan, tapi hatinya menginginkan istrinya itu agar tetap bertahan.
"Pak, nanti kita belok kiri ya" sang supir pun mengangguk.
Kali ini dia akan pergi ke rumah Chelsea, berharap Ia akan menemukan perempuan yang rindukan itu selama ini.
Setelah sampai di rumahnya, dari jarak yang tak cukup jauh Ia melihat Chelsea sedang duduk bersama cowok di halaman depan rumahnya. Dia memperhatikan cowok itu secara seksama, cowok itu seperti tak asing baginya, dia mengusap dagunya mencoba mengingat kembali cowok itu. Setelah beberapa menit, akhirnya dia ingat bahwa cowok itu yang pernah bersama Chelsea pada waktu itu.
"Sialan!" umpatnya sembari mengepalkan tangannya geram.
Dia berjalan terburu-buru ke arah mereka dan tanpa aba-aba, dia melayangkan pukulan keras ke arah cowok itu.
"Bugh!"
"Bugh!"
Kali ini Bagas benar-benar menonjok cowok itu hingga jatuh tersungkur.
"MAKSUD LO APA?" ucap cowok itu tak terima dipukul begitu saja oleh seorang yang tidak di kenalnya.
"GUA YANG SEHARUSNYA NGOMONG GITU KE LO! MAKSUD LO APA NGEDEKETIN BINI GUA!" sentak Bagas terbakar api cemburu.
"Gua nggak ngedeketin bini lo, anjirrr!!" karena sebal dituduh yang tidak-tidak, cowok itu pun balas melayangkan pukulan balik ke arah Bagas.
"Bugh!"
"Bugh!"
Cowok itu memukul Bagas hingga sudut bibir Bagas mengeluarkan darah.
Bagas tertawa dengan smirknya"Halah alasan, gua nggak percaya!" lalu keduanya pun kembali dengan aksi saling tonjok-menonjok.
Chelsea yang terkejut atas kedatangan Bagas saat itu, mencoba melerai perkelahian diantara keduanya.
"BAGAS!! KAK CAKKA!! STOP!!!" teriak Chelsea namun tidak berhasil membuat kedua cowok itu menghentikan perkelahian.
Akhirnya Chelsea berusaha menarik baju Bagas agar cowok itu menghentikan aksinya. Tapi bukanya berhenti, justru usahanya itu sia-sia cowok itu semakin brutal berkelahi. Dia coba mendekat ke arah mereka, tapi hal itu diurungkannya kembali mengingat perutnya yang semakin membesar sangat beresiko bila dirinya berada di tengah-tengah untuk melerai perkelahian itu.
Sehingga sesaat kakaknya itu keluar dari dalam rumah membawa nampan yang berisi segelas air segera membantu meleraikan perkelahian tersebut.
"BAGAS!!!CAKKA!!!STOPP!!" teriak Shilla yang membuat keduanyapun akhirnya memisahkan diri.
"Apa maksud lo datang-datang terus pukul dia?"tukas Shilla menatap tajam ke arah Bagas
"Karena dia udah ngedeketin Chelsea, istri gua!"
"Lo salah paham Bagas!!! Cakka ini calon tunangan gua!"
Bagas seketika diam mendengar penuturan dari kakak iparnya. Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia begitu terbakar api cemburu? Dia melirik sekilas ke arah Chelsea. Dia terlalu merindukan perempuan itu sampai dia tidak rela wanitanya itu dekat dengan lelaki lain.
"Ayo kita masuk! Aku akan obati luka kamu" ucap Chelsea berusaha menuntun Bagas untuk masuk ke dalam rumah.
"Cakka ayo kita masuk! Aku juga akan obati lukamu"
Setelah luka keduanya telah diobati, seorang lelaki paruh baya menghampiri.
"Dasar tak tahu malu! Seperti anak kecil saja. Bila ujung-ujungnya berantem seperti ini lagi, kalian berdua tidak usah lagi datang kemari!" ucap tegas Ayah Shilla dan Chelsea.
Kedua lelaki itu hanya tertunduk,
"Maafkan saya, om" ucap Cakka meminta maaf.
"Maafkan saya juga, yah" ucap Bagas meminta maaf pada sang mertua.
Bagi lelaki paruh baya, kedua lelaki muda di depannya ini memang tidak ada yang bisa dipilih. Yang satu, menantunya itu selalu menciptakan masalah. Yang satu calon menantunya itu tak tahu kejelasan asal-usulnya.
***
Bagas menatap dalam mata Chelsea. Segurat kerinduan kini tercipta diantara kedua pasangan itu. Refleks, Bagas mendekap hangat tubuh Chelsea menyalurkan kerinduan yang selama ini Ia rasa.
"Aku rindu padamu" ucap Bagas lirih hingga membuat mata Chelsea berkaca-kaca.
Bagasnya ada di depannya, sosok yang Ia rindukan ini ada di depannya. Mendekap hangat dirinya seolah tak ingin terlepas.
"Aku mohon Chelsea, jangan tinggalin aku lagi!"ucap Bagas sembari memejamkan matanya sesaat, menompang kepalanya di atas puncak kepala Chelsea.
Chelsea yang tak kuasa menahan air matanya membalas pelukan Bagas dengan tak kalah eratnya.
"I Got you, got you" desis Bagas dengan nada pelan.
Bagas melepaskan pelukannya, memegang lembut bahu Chelsea.
"Jangan nangis," Bagas mengusap lembut air mata Chelsea yang membasahi pipi.
"A-aku pikir kita tidak akan bertemu lagi" ucap Chelsea sesegukan.
Bagas menggelengkan kepalanya."Jangan berpikiran seperti itu, aku selalu ada untukmu"
Bagas lalu menatap ke arah perut Chelsea yang terlihat membesar. Dia mengusap pelan perut itu. Seulas senyum terpancar di bibirnya ketika Ia merasakan gerakan kecil dari dalam perut itu.
"Dia bergerak" Bagas begitu antusias ketika anaknya di dalam perut Chelsea bergerak menyapanya.
"Dia tumbuh dengan baik" tutur Chelsea.
Bagas masih enggan melepaskan tangannya dari perut Chelsea. Sesekali Ia mendekatkan telinganya ke arah perut Chelsea. Mendengarkan dengan jelas gerakan yang Ia rasakan.
"Apa jenis kelaminnya?" tanya Bagas mendongakkan kepalanya.
"It's a boy" jawab Chelsea dengan tersenyum.
"Cowok?" ulang Bagas kembali. Dan Chelsea menganggukkan kepala sembari tersenyum ke arahnya.
"Sebentar lagi aku akan punya teman bermain sepakbola" ucap Bagas tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Bagas menggenggam kedua tangan Chelsea. "Setelah anak kita lahir, aku sudah mempersiapkan semuanya untukmu. Termasuk rumah yang akan kita tempati bersama. Ya, walau rumah itu tidak sebesar rumah yang kita tinggali dulu, tapi setidaknya rumah itu nyaman untuk kita tempati. Hanya ada kau, aku, dan anak kita. Kau mau 'kan memulai semuanya dari awal lagi?"
"TIDAK BISA! PUTRIKU HANYA AKAN TINGGAL DISINI!" suara lantang itu tiba-tiba menyahut dari arah belakang mereka.
Bagas dan Chelsea menoleh ke arah belakang. "Ibu" batin Chelsea terkejut melihat ibunya yang datang dengan pandangan tajam menatap ke arah Bagas.
"Siapa yang menyuruhmu datang kemari?" tanya perempuan paruh baya itu dengan tegas.
Bagas meneguk ludah, ketika mertuanya menatapnya sangat tajam. Beberapa kali dia meremas jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu membawa putriku pergi dari rumah ini!" tekannya menatap benci ke arah Bagas.
"Tapi dia istri saya, saya berhak membawanya pergi dan tinggal bersama saya"
"Istri kamu bilang? Kemana aja kamu selama ini? Kenapa baru sekarang kamu anggap putriku sebagai istrimu? Setelah apa yang kamu dan keluargamu itu lakukan pada putriku" sindir beliau membuat Bagas begitu tersudut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ligatus [ SUDAH TERBIT ]
De TodoSinopsis Seperti apa rasanya dibenci oleh seorang Ibu? Di permainkan oleh keadaan, dan berusaha bangkit dari sebuah keterpurukan? Menyakitkan bukan? Itulah yang kini dirasakan oleh seorang pemuda bernama Bagas. Pemuda yang hidup tumbuh dalam tekanan...
![Ligatus [ SUDAH TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/227070593-64-k984649.jpg)