Hai guys, I'm back...
Siapa yang nggak sabar nungguin cerita ini?
.
.
.
.
Lanjut yuk, cusss...
.
.
Pagi ini Ibu Chelsea pergi ke sebuah tempat kerja yang kemarin tetangganya itu bilang. Beliau pergi tanpa sepengetahuan suaminya.
"Aku harus buktikan bahwa apa yang dikatakan ibu itu benar" ucapnya, lalu masuk ke dalam tempat kerja itu.
Beliau nampak celingak-celinguk mencari keberadaan putrinya.
"Ibu Terre?" panggil seorang wanita paruh baya tak lain adalah tetangganya.
"Eh, bu Windy" balas Ibu Terre sembari tersenyum ke arah beliau.
"Ibu Terre ko kesini? Ada apa?"
"Emm, s-saya mau ketemu sama anak saya Chelsea" jawab Ibu Terre seadanya.
"Oh, kalau begitu. Mari saya tunjukkan dimana anak ibu"
Dalam hati Ibu Terre bersyukur. Akhirnya, tetangganya ini mau menunjukkan dimana keberadaan putrinya itu.
"Itu bu, Chelsea. Yang pakai baju biru" tunjuk beliau menunjukkan dimana putrinya itu berada.
"Terima kasih, bu Windy"
"Sama-sama bu. Kalau begitu saya tinggal dulu ya, bu"
Ibu Terre menganggukkan kepala sembari tersenyum ke arah beliau.
Dia berjalan menghampiri putrinya. Berarti apa yang dikatakan oleh tetangganya itu benar bahwa putrinya itu kini sedang bekerja.
"Chelsea" panggil beliau dengan mata tertegun. Setelah sekian lama putrinya itu pergi meninggalkan rumah dan tinggal di rumah suaminya. Kini, akhirnya beliau bisa bertemu kembali dengan putrinya.
Chelsea tersikap saat seseorang memanggil namanya. Dirinya merasa tubuhnya kali ini mendadak seakan kaku. Suara itu seperti dikenal, suara yang Ia rindukan selama ini. Suara yang selalu memberinya ketenangan disaat dia ditimpa banyak masalah. Ibu, satu nama itu terlintas di dalam otaknya. Dia menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya saat mendapati ibunya yang kini berdiri tepat dihadapannya.
Drap
Ibunya memeluk dirinya dengan perasaan rindu yang teramat dalam.
"Hiks, Chelsea" tangis beliau pecah saat memeluk dirinya.
Ibu dan anak itu saling memeluk menyalurkan sebuah rasa rindu yang teramat dalam dari lubuk hati mereka.
"Hiks,,,Chelsea. Ibu kangen"
"Hiks,,Chelsea juga. Chelsea juga kangen sama ibu"
Ibunya melepas pelukannya dan menatap putrinya itu dengan sorot mata yang dalam.
"Kau anak yang nakal. Setelah kau meninggalkan ibu, kau tidak pernah berkunjung ke rumah lagi. Kenapa kau tidak berkunjung ke rumah lagi? Apa kau marah dengan ibu? Apa kau begitu tersinggung dengan perkataan ayah dan ibumu ini sehingga kau pergi meninggalkan kami dan tidak kembali lagi? Hikss, kau nakal Chelsea hikss,," ucap beliau dalam tangisnya sembari memukul pelan pipi putrinya.
"Hikss,, maaf bu, maafkan Chelsea bu. Chelsea t-takut menginjakkan kaki di rumah"
"Kau pikir kau ini siapa? Kenapa kau mesti takut? Kau ini putriku. Tetap menjadi putri kesayanganku" kembali beliau memeluk putrinya kembali dengan erat.
Chelsea melepaskan pelukannya. Dia menatap ibunya yang masih menangis. Dia mengusap air mata ibunya yang menetes membasahi pipi.
"Sudah, bu. Jangan menangis lagi!" ucap Chelsea menenangkan ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ligatus [ SUDAH TERBIT ]
DiversosSinopsis Seperti apa rasanya dibenci oleh seorang Ibu? Di permainkan oleh keadaan, dan berusaha bangkit dari sebuah keterpurukan? Menyakitkan bukan? Itulah yang kini dirasakan oleh seorang pemuda bernama Bagas. Pemuda yang hidup tumbuh dalam tekanan...
![Ligatus [ SUDAH TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/227070593-64-k984649.jpg)