//Raka Yang Polos//

156 5 0
                                        

Sore ini Ira tengah berada di kediaman rumah Adit. Tujuannya dia datang ke rumah Adit tak lain untuk menenangkan hati serta pikirannya. Tapi bukannya dia tenang, justru dia dibuat pusing dengan perkataan yang telah cucunya itu lontarkan padanya.

"Lagian mama juga, sih, kenapa mama pakai acara ngambek segala? Kan,   kasihan kakek, ma. Kakek lagi sakit, Siapa yang jagain? Tolonglah, ma. Mengerti sedikit gitu, lho! Jangan maunya dingertiin terus!" dumel Adit yang kini duduk di dekat mamanya.

"Kamu marahin mama?" tanya Ira yang kini tersinggung dengan ucapan sang anak.

"Aku bukan marahin mama. Aku hanya kasih tau mama!" sahut Adit mencoba sabar.

"Tapi itu sama aja Adit"

Adit mengacak rambutnya frustasi. "Astagfirullah, terserah mama ajalah. Adit capek!" ucap Adit berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan beliau yang saat ini tengah duduk di samping cucunya.

Ira beralih menatap Raka yang tengah asik memainkan mobil-mobilaannya. "Oma ikut main ya"

Raka menoleh ke arah sang oma. Kemudian, dia mengangguk pelan. "Iya"

Ira menyentuh mobil mainan milik cucunya. "Ini kenapa beli mobil mainan banyak banget?"

Dengan gerakan cepat, Raka mengambil mobil mainan yang disentuh oleh omanya. "Ini milik adik laka, Oma"

Ira mengernyitkan dahinya. "Adik?"

"Anissa hamil lagi? Kenapa dia nggak bilang?" batinnya penuh tanya.

Dia kembali menatap sang cucu. "Emm, Raka. Kan, adik Raka masih di dalam perut. Belum lahir. Jadi, adik Raka belum bisa main mobil-mobilan ini"

Raka menatap Omanya penuh tanya. Anak kecil itu seakan binggung dengan apa yang diucapkan Omanya itu. "Maksud Oma apa? Laka nggak ngelti. Adik laka udah lahil Oma. Dia sekalang tinggal di lumah Om Ba-"

"Ma, ini minumannya silahkan di minum" ucap Anissa memotong ucapan Raka yang hendak berkata lebih jauh lagi tentang adik sepupunya.

Anissa yang saat itu keluar dari dapur dan membawa nampan berisi segelas air minum itu dengan cepat melangkahkan kakinya ketika mendengar percakapan antara ibu mertuanya dan anaknya membahas tentang anak Bagas.

"Ayo, ma, silahkan diminum!" ramah Anissa pada sang Ibu mertua.

Ira menatap Anissa dengan pandangan yang sulit diartikan. Menantunya ini terlihat gugup dan seakan tengah menutup-nutupi sesuatu darinya.

Saat pikirannya tengah berkecamuk, tiba-tiba ponselnya kini berdering. Ira menatap sekilas layar ponselnya.

"Hallo, pa?"

"........"

"APA?" ucapnya kini terkejut disertai dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.

".........."

"Aku kesana sekarang!" ucapnya berderai air mata, lalu mematikan ponselnya.

Air matanya benar-benar tidak bisa dibendung, lututnya lemas seketika, tubuhnya tiba-tiba linglung dan seakan ingin pingsan.

"Ma, mama kenapa?" tanya Anissa panik takala Ibu mertuanya itu hendak berdiri namun terjatuh kembali. Dan yang menambah kekhawatiran Anissa ketika Ibu mertuanya itu menangis disertai raut wajah frustasi.

"Hiksss,,, hiksss,,, hiksss,,, Papa,,,,, Papa... Papa......" ucapnya kini frustasi dengan tangisan yang mengalir tiada henti.

Anissa semakin dibuat binggung dan panik dengan tingkah Ibu mertuanya. "Ma, tenang, ma. Mama kenapa?"

Ira menoleh ke arah Anissa. "Nisa,,, kakek,,,, ka-kek meninggal,,, hiksss" Ira menghambur ke dalam pelukan menantunya.

Anissa ikut meneteskan air mata. Bahkan ini seperti mimpi baginya. Kabar ini begitu mengejutkannya.

Ligatus [ SUDAH TERBIT ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang