Sudah sedari tadi Chelsea berjalan mondar-mandir dengan raut wajah cemas menunggu kepulangan Bagas. Pasalnya, hari sudah larut namun suaminya itu tak kunjung pulang dari sekolah. Beberapa kali Chelsea menghubungi Bagas, namun ponsel dari suaminya itu tak juga aktif.
Dia binggung, sangat binggung. Apalagi saat ini cuaca mendung mulai menghantam wilayah sekitar, dia takut sesuatu hal terjadi dengan suaminya. "Bagas! Lo dimana,sih?" batinnya sembari melirik jam dinding yang tak berhenti berputar.
Dia melihat kembali ponselnya, bahkan sampai saat ini Bagasnya belum juga memberi kabar padanya.
Dreet,dreet
Mengetahui ponselnya bergetar dengan cepat dia mengangkat ponselnya tanpa membaca nama dari sang penelpon.
"Bagas!"
"Bagas? Ini gua Chel, Rafli"
Mendengar hal itu membuat perempuan yang sebentar lagi akan menjadi ibu muda itu merasa kecewa.
"E-eh lo, raf. Sorry gua kira tadi Bagas" ucapnya dengan nada lemah.
Mengingat kali ini dia berbicara dengan Rafli, secara spontan dia menanyakan Bagas yang tak kunjung pulang.
"Lo tau Bagas dimana? Soalnya dari tadi dia belum pulang"
Saat ini Rafli bisa merasakan bahwa perempuan itu tengah dirundu rasa cemas menunggu kepulangan dari suaminya.
Rafli seakan bungkam, dia binggung apa yang harus dia katakan pada Chelsea.
"Hallo! Raf? Lo masih disitu kan?
"E-eeh, iya chel gua masih disini. Aduh, sorry sebenernya gua lupa ngabarin ke lo bahwa hari ini Bagas pulang telat karena tadi disuruh bantuin pak Aryo masukin data nilai ulangan"
Dusta Rafli pada akhirnya. "Sorry Chel gua harus bohong sama lo" batinnya kini dalam hati.
Chelsea menyatukan alisnya binggung"Tapi kenapa dia nggak nggak ngabarin gua lebih dulu? Dan kenapa juga ponselnya nggak aktif?"
"Mungkin tadi dia ingin ngabarin lo, tapi berhubung ponselnya lowbat jadi dia nggak bisa ngabarin lo"
Kali ini ucapan Rafli bisa diterima akal oleh Chelsea. "Thank ya, raf infonya"
"Iya Chel. Sama-sama"
Lalu akhirnya sambungan itu telepon itu terputus. Lega sudah Chelsea kini mengingat Bagas dalam keadaan baik-baik saja.
***
Berbeda dengan Chelsea, Rafli justru kali ini dirundu kebinggungan bertubi-tubi. Saat sambungan teleponnya dengan Chelsea telah usai, dirinya mulai mencari kontak nomor Bagas dan berusaha menelfon sahabatnya satu itu.
"Gawat, bro! Lo ini dimana?"
Bagas yang mendengar nada panik dari Rafli ikut merasa panik juga.
"Di angkutan menuju pulang. Emangnya gawat, napa raf?"
Rafli bisa merasakan suara Bagas dari arah sana dengan nada kepanikan juga.
"Bini lo dirumah cemas nungguin lo pulang. Gua tadi kan telfon dia, gua kira lo udah pulang. Soalnya gua tadi miscall lo, HP lo mati" ucap Rafli menuturkan.
Bagas sedikit menghela nafas. Dia pikir Chelsea kenapa-napa, nggak taunya cuma cemas doang.
"Terus, lo bilang apa ke dia soal gua?"
"Ya, gua bilang aja kalau lo pulang telat karena bantuin pak Aryo masukin data nilai ulangan"
"Terus? Dia percaya gitu aja?"
"Iya" Dengan sepihak, Bagas memutuskan sambungan telepon itu.
Menyadari sambungan telepon itu terputus membuat Rafli berdecak kesal "Dasar Bagas kampret sialan!" makinya lalu melempar ponselnya ke arah ranjang tempat tidur.
***
Setibanya di rumah, Bagas melewati sisi pintu rumah belakang agar tidak ketahuan oleh orang tuanya bila dirinya pulang terlambat.
Setelah mengendap-endap, akhirnya Bagas bisa masuk tanpa harus ketahuan.
"Huh, lega. Untung aja nggak ketahuan" gumannya sembari bernafas lega akhirnya bisa masuk ke dalam kamar.
"Lega kenapa?" suara dari arah belakang mengejutkannya secara tiba-tiba.
"Chel!" ucapnya saat mengetahui orang itu.
Chelsea melipat tangan di dada sembari menatap Bagas dengan menaikkan kedua alisnya.
"Kamu nggak tahu gimana cemasnya aku nungguin kamu pulang. Sampai mondar-mandir kaya orang gila cuma sekedar nunggu kamu pulang. Tapi kamunya malah nyebelin, HP dimatiin, nggak ada kabar sampai aku stress nanya-nanya ke teman-teman ka-"
Bagas menempelkan telunjuk jarinya tepat di depan mulut Chelsea.
"Aku seneng kamu udah mulai terbiasa manggil 'aku-kamu' "
Chelsea menggerutuki dirinya dengan kalimat yang Ia ucapkan tadi.
"Eumm, g-gua.."
"Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan panggilan itu, okay"
"Ogah" tolak Chelsea secara spontanitas.
"Ya, itu terserah kamu. Tapi pastinya kalau kamu nggak mau, ada hukuman dariku untukmu" ucap Bagas dengan senyum smirknya.
"Nggak bisa gitu dong, gua ka-"
Cup!
Kecupan singkat di pipi kanan Chelsea membuat dirinya terkejut akan hal itu.
"Itu salah satu hukumannya"
"Bagas lo nggak bi-"
Cup!
Untuk kedua kalinya Bagas mencium sebelah kiri pipi Chelsea.
"Kalau kamu ngulang kesalahan lagi, akan aku cium kamu berkali-kali"ucapnya lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Bagassssssss!!!! Kampret! Sialan!" makinya dengan kesal.
"Ibu hamil nggak boleh ngomong kasar" ucap Bagas dari dalam kamar mandi disertai tawa renyah miliknya.
Chelsea yang tersadar akan apa yang baru saja dia ucapkan itu melirik sekilas ke arah perutnya.
"Jangan dengerin kata mama ya sayang. Maafin mama, mama khilaf" ucapnya sembari mengelus lembut perutnya.
Setelah beberapa menit mandi. Akhirnya Bagas keluar dari kamar mandi dengan rambut basah habis keramas. Bagas mengosok-gosokan rambutnya dengan handuk lalu duduk disamping Chelsea yang sedang cemberut.
"Kenapa sih, cemberut mulu? Jelek tau" goda Bagas sembari mencolek pelan dagu Chelsea.
"Nggak usah colak-colek, aku bukan sabun colek" ucap Chelsea sembari memalingkan wajahnya dari Bagas.
"Siapa yang bilang kamu sabun colek?" ucap Bagas dengan tawa yang nyaring.
Chelsea menatap Bagas kecut yang sedang menertawakannya.
"Sekarang kamu jelasin, kenapa tadi HP kamu bisa mati dan nggak aktif gitu?"
"HP aku lowbat, sayang! Jadi aku nggak bisa ngabarin kamu"
"Bukan karena kamu lagi berduaan kan sama cewek lain?" tuduh Chelsea pada akhirnya.
Bagas mengangkat sebelah alisnya. "Jadi ceritanya kamu ini nuduh aku berduaan sama cewek lain? Kamu cemburu?"
Chelsea diam tak menjawab pertanyaan dari Bagas. Justru kali ini Bagas mendekat ke arah istrinya lalu mendekap hangat tubuh Chelsea.
"Aku nggak akan berpaling darimu sayang" ucapnya sembari mengusap pelan rambut indah milik Chelsea.
"Janji?"
"Iya, janji"
Chelsea pun akhirnya membalas pelukan dari Bagas.
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Ligatus [ SUDAH TERBIT ]
AcakSinopsis Seperti apa rasanya dibenci oleh seorang Ibu? Di permainkan oleh keadaan, dan berusaha bangkit dari sebuah keterpurukan? Menyakitkan bukan? Itulah yang kini dirasakan oleh seorang pemuda bernama Bagas. Pemuda yang hidup tumbuh dalam tekanan...
![Ligatus [ SUDAH TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/227070593-64-k984649.jpg)