Sinar mentari masuk mengenai wajahnya. Dia mengerjapkan matanya lalu menguceknya dengan pelan.
Dia bangun dari tidurnya, dan menoleh ke sisi bawah tempat tidurnya. Hilang, pikirnya. Ya, perempuan yang tak lain ialah istrinya itu tidak ada di tempatnya.
Dia bangun dari tidur lalu meraih handuknya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah beberapa menit di kamar mandi, dia keluar dengan keadaan badan serta wajah yang lebih fresh.
"Sudah bangun?" tanya Chelsea saat melihat Bagas telah rapi dengan seragam sekolahnya.
Bagas berdecak sebal tak membalas perkataan dari Chelsea.
"Pertanyaan apa yang kau tanyakan Chelsea, jelas-jelas Bagas sudah rapi dengan seragamnya. Tapi kau justru menanyakan pertanyaan yang tidak penting kau tanyakan" guman Chelsea dalam hati.
Bagas berjalan keluar dari kamar dengan mengendong tasnya.
"Duduk dulu Bagas!" pinta sang Mama, yang hanya diangguki pelan olehnya.
Bagas hanya menatap hidangan menu pagi ini dengan datar.
"Aku ambilkan" ketika Chelsea hendak mengambil nasi goreng ke dalam piring Bagas. Bagas justru telah lebih dulu melahap satu tangkup roti yang dioles selai masuk ke dalam mulutnya.
Chelsea kembali duduk terdiam. Dia sedih Bagas tidak mau dilayani seperti sedia kala. Sebesar itukah kesalahannya?
"Bagas berangkat dulu Ma, Pa, Kek" ujarnya berdiri duduknya.
Chelsea mengekori Bagas yang keluar dari rumah. "Ha-"
Belum sempat Chelsea mengatakan itu, Bagas lebih dulu masuk ke dalam angkutan umum.
"Hati-hati Bagas" Chelsea melanjutkan ucapannya saat melihat Bagas yang sudah menjauh.
****
Bagas melempar tasnya ke sembarang tempat.
"Ck, napa lo pagi-pagi kek orang kesurupan?" tanya Rafli duduk di samping Bagas.
Bagas melirik Rafli sekilas dengan datar.
"Kalau urusan rumah tangga mah beda" sahut Gilang berniat mengoda Bagas yang kesal.
"Apa maksud lo?"
"Gua tau muka lo kesel kek gini karena tadi malam lo nggak dapat jatah dari bini lo" ucap Gilang dengan otak yang traveling mengarah pada hal yang mesum.
Bagas melempar penghapus ke arah Gilang dengan keras.
"Awww, anjirrr!!Sakit, bego!!!" ucapnya mengelus dahinya yang sedikit benjol.
Bagas memutar bola matanya tak peduli.
"Belum kelar, gas?" tanya Rafli ambigu.
"Apaan? Njirr, ambigu"
Rafli memutar bola matanya sebal. Memang diantara Bagas dan Gilang tidak ada bedanya, mereka sama-sama gesrek otaknya.
"Maksud gua, masalah lo sama Chelsea yang kemarin udah kelar?"
Gilang terbahak. "Bagas mikirnya kelar yang begituan raf"
"Lo juga sama aja" timpal Rafli menonyor kepala Gilang.
"Astagfirullah, kalian hobi banget nyiksa gua" ucap Gilang sembari mengelus dada.
"Ck, drama" pungkas Rafli sebal.
"Jadi gimana gas?" tanya Rafli lagi, manusia satu ini memang kepo-nya setengah mati.
"Belum kelar" jawab Bagas singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ligatus [ SUDAH TERBIT ]
RandomSinopsis Seperti apa rasanya dibenci oleh seorang Ibu? Di permainkan oleh keadaan, dan berusaha bangkit dari sebuah keterpurukan? Menyakitkan bukan? Itulah yang kini dirasakan oleh seorang pemuda bernama Bagas. Pemuda yang hidup tumbuh dalam tekanan...
![Ligatus [ SUDAH TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/227070593-64-k984649.jpg)