Saat ini Bagas dan Chelsea sudah berada di rumah, mereka sama-sama membaringkan tubuh mereka di atas kasur sembari menatap langit-langit atap kamar mereka.
"Jika tidak ada orang banyak di supermarket itu, rasanya aku ingin mencongkel mata mereka semua karena telah berani menatapmu dengan sinis" ucap Bagas yang masih dirundu kekesalan tiada henti.
Chelsea bangkit dari tidurnya, lalu menatap suaminya dengan mengelengkan kepala.
"Sudahlah, mengapa lo masih mempermasalahin hal itu?"
Bagas memutar bola matanya kesal"Gimana aku nggak kesel, ber-"
ucapan Bagas terhenti ketika nada lagu "LATHI" yang menjadi dering panggilan di ponsel Bagas mendadak mengganggu situasi saat itu. Bagas berdecak dan memilih menutup wajahnya dengan bantal, Ia enggan mengangkat panggilan itu.
"Lebih baik diangkat gih, soalnya dari tadi hp lo bunyi terus " saran Chelsea.
"Males"
"Jangan gitu dong, kali aja ada yang penting"
Bagas berdecak lagi, akhirnya dengan terpaksa dia bangkit dari tidurnya menghampiri ponselnya yang tak berhenti berdering.
"Ha-" belum sempat Bagas mengucapkan kata itu, suara dari sebrang sana menyambar cepat ke telinganya.
"Anjirr, ngapain aja lo nyet? Angkat telfon lama bener"
Bagas mendengus sebal mendengar umpatan yang dilontarkan padanya"Ada apa?" tanyanya dengan nada kesal.
"Gua sama Rafli mau main nih, kira-kira lo bolehin kita ma-?"
"Nggak boleh, kalau ujung-ujungnya kalian numpang makan!" potong Bagas seolah mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu menuju kemana.
"Gua belum selesai ngomong bambang! Jangan lo potong seenak jidat lo"
"Tanpa lo selesain omongan lo, gua udah ngerti, tuh omongan akan menjurus kemana"
"Pelit amat lo jadi teman"
"Emang!" timpal Bagas seolah tak peduli akan dua sahabatnya itu.
"Mau lo kasih izin atau enggak pokoknya kita akan tetap datang ke rumah lo!" dengan sepihak temannya itu memutuskan sambungan telefon secara sepihak.
"Anjirr! Bangsat!" umpat Bagas saat mengetahui sambungan telefon itu terputus.
Chelsea menatap Bagas penuh tanya.
"Ada apasih?"
Bagas menoleh sekilas ke arah istrinya"Si Rafli sama Gilang mau datang"
"Memangnya kenapa kalau mereka datang?" tanya Chelsea kesekian kali.
Bagas mendengus."Kalau mereka datang, yang ada mereka pada habisin makanan"
Chelsea terkekeh geli."Tapi nggak sampai habis ludes juga Bagas! Sudahlah, biarkan mereka datang kesini"
Bagas memayunkan bibirnya kesal lalu pergi meninggalkan Chelsea yang sedari tadi masih terkekeh geli menertawakannya.
***
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya dua kucrut tak lain terdiri dari Rafli dan Gilang kini tiba di kediaman rumah Bagas. Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu setelah di persilahkan masuk oleh pembantu rumah Bagas.
"Yuhuu, Bagassssss! Where are you!" teriak Gilang memanggil nama sang pemilik rumah. Berbeda dengan Gilang yang teriak nggak jelas, satu temannya Rafli itu justru duduk tenang di sofa sembari memakan camilan kecil yang berada di atas meja.
Bagas yang semula dari kamar, mendengar suara teriakan yang sangat dia kenal, akhirnya memutuskan untuk turun dan menemui dua sahabatnya sebelum mereka membuat kegaduhan karena teriakan suaranya yang selalu bikin sakit kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ligatus [ SUDAH TERBIT ]
RandomSinopsis Seperti apa rasanya dibenci oleh seorang Ibu? Di permainkan oleh keadaan, dan berusaha bangkit dari sebuah keterpurukan? Menyakitkan bukan? Itulah yang kini dirasakan oleh seorang pemuda bernama Bagas. Pemuda yang hidup tumbuh dalam tekanan...
![Ligatus [ SUDAH TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/227070593-64-k984649.jpg)