“SIAPA YANG NGAMBIL SUSU STROBERI AKU DI KULKASSS?!”
Suara sang anak sulung menggelegar ke seluruh penjuru rumah. Tiga manusia yang masih hanyut menikmati sepiring roti jadi buyar. Sementara di kursi ruang makan, si yang paling kecil mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya, mencuri-curi pandang ke arah mamanya dengan takut.
Orang yang mereka panggil ‘papa’ di rumah itu tersenyum seraya menyentuh puncak kepala anak yang bergelagat tak nyaman, tersangka paling mencurigakan.
“Berani jujur itu baik,” sahut sang papa.
Langkah kaki tak sabaran berjalan mendekat. Semakin membuat jantung berdetak cepat. Helaan frustrasi mengisi suasana pagi. Aliyah melayangkan tatapan tajam pada penghuni rumah yang berkumpul menyantap sarapan.
“Iko yang ngambil tadi malam, Kak.” Dengan pelan sang adik menyahut, bibir bawahnya menjorok ke depan, ancang-ancang menangis jika kakaknya siap memarahi.
Aliyah mengerem kedua kakinya. “Kenapa Iko ambil susu Kakak?” tanyanya melunak.
“Iya, pas lagi tidur Iko bangun, trus laper. Eh, nemu susu di kulkas. Ya, Iko minum.”
“Kalau laper harusnya cari makanan, dong. Kok, malah minum?” Kedua tangan Aliyah berada di pinggang.
“Maafin Iko, Kak Al yang cantik ....” Mantra sang adik jika berhadapan dengan kakaknya.
Biasanya Cheiko, begitu nama panggilannya, memuji Aliyah, kakaknya itu akan memaafkannya. Untuk kesalahan seperti tidak sengaja mencoret buku pelajaran Aliyah, mengganti letak tutup spidol twin pen milik Aliyah, dan menyembunyikan pernak-pernik kamar Aliyah, bukan pasal mencuri susu stroberi kakaknya. Cheiko terlalu gegabah, minuman tersebut tampak menggiurkan, mengundang rasa nekatnya.
“Lain kali bilang dulu sama Kakak. Jangan diulang lagi, ya,” peringat Aliyah, mengacungkan jari telunjuknya ke depan mata Cheiko.
“Siap, Kak Al!” Hormatnya. Deretan gigi susunya yang baru berganti membuatnya terlihat menggemaskan.
Aliyah mencubit kedua pipi adik laki-lakinya yang sekarang sudah menginjak kelas dua SD. “Kalau gitu, Al berangkat dulu, ya, Ma, Pa.” Bergantian gadis itu mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
“Sarapan dulu, Al,” seru Nesa, walaupun percuma sebab Aliyah sudah terbiasa tidak makan pagi.
“Nanti aja, deh, Ma,” balasnya ke Nesa, lalu melirik Nov, “bye, Pa, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, hati-hati bawa motornya,” tutur pria berdasi khas kantoran itu.
“Siap, Bos!” Aliyah melakukan gerakan hormat sebelum badannya menghilang dari balik pintu utama.
“Mama, Papa,” panggil Cheiko, wajahnya mencondong ke depan. “Kemarin Kak Al dianterin cowok. Iko liat di depan. Kakaknya ganteng, pake motor gede. Kak Al udah punya pacar, tau,” adunya.
“Iko, Mama udah bilang sama kamu pacar itu cat kuku, Sayang,” alih Nesa.
Cheiko menggeleng, “Enggak, Mama. Soalnya waktu itu Dila nembak Iko. Katanya, Iko mau nggak jadi pacar Dila? Trus Iko jawab, kita masih kecil nggak boleh pacaran dulu.”
Mendengar penuturan anak bungsunya, Nesa dan Nov saling pandang, seolah melayangkan pertanyaan ‘anak siapa ini?’
🍓🍓🍓
“Lo pada tau, nggak, si kelas sebelah alias Arash Daafi baru putus sama pacarnya.”
Baru saja badan Aliyah mendarat di bangku, gosip sudah melewati indra pendengarannya. Dia, Adelia Larasati, disapa Adel, berteman baik dengan Aliyah.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
TienerfictieJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
