"Gue kangen Mbak Titin."
Yoga berkata lesu, sebab teman-temannya malah istirahat makan ke warung Bu Mimin. Jadinya dia belum melihat Mbak Titin seharian ini.
"Ya, elah. Ketimbang sehari doang nggak makan bakso Mbak Titin," ucap Putra.
"Tau, nih. Bu Mimin juga hot," sambung Fadhil.
Ya, Fadhil berkata seperti itu karena Bu Mimin bertubuh gendut.
"Mbak Titin tetap number one in my heart," ujar Yoga dengan semangat. Tampangnya seakan minta dilempar dengan kaleng minuman.
"Mbak Titin lagi dideketin sama duda di deket rumahnya, Ga," sahut Bu Mimin yang memang tinggal satu kompleks dengan Mbak Titin.
Sendok di tangan Yoga langsung terjatuh ke lantai. Ini gawat! Sudahlah di sekolah saingannya Pak Sutejo, ditambah lagi seorang duda mengancam posisinya yang dia sendiri tidak tahu siapa itu.
"Bu Min nggak boongin saya, 'kan?" tanya Yoga dengan nada berseloroh.
"Justru saya baik mau kasih tau kamu. Keren, loh, orangnya, Ga. Berwibawa, ganteng, yang paling penting dia pengusaha lagi. Kamu, mah, yang anak bau kencur kalah!"
Rahang bawah Yoga mengendur seketika. Pemaparan Bu Mimin membuat darahnya memompa lebih cepat. Sepertinya memang tidak ada harapan untuknya. Yoga berpikir untuk mengibarkan bendera putih saja.
Menyadari pandangan kosong Yoga, Negan menepuk bahu kanan Yoga yang membuat cowok itu kembali tersadar. "Sabar, ya, anak bau kencur."
Arash hanya memandangi Yoga dengan tatapan antara miris dan ingin tertawa. Mereka saling melempar kontak mata, berkomunikasi lewat lirikan.
"Astaga!" sorak Arash teringat sesuatu.
Putra yang tengah memakan mi rebus menyahut, "Kenapa lo?"
"Gue lupa waktu itu Angga katanya mau ketemu."
"Angga?" Fadhil mengernyit. "Ngapain? Kok, lo nggak ngasih tau kita? Nanti lo babak belur sendirian lagi."
"Nggak tau, kayaknya ada yang mau diomongin." Arash mengedikkan bahunya.
Yoga bersorak dengan mulut yang tertutup. Setelah menelan makanannya, ia berkata, "Gue cuma peringatin sama lo, Rash. Lo harus hati-hati sama Kamel."
Arash mengambil atensi penuh atas ucapan Yoga, begitu pun yang lainnya. "Hati-hati maksud lo?" tanyanya. Yoga benar-benar membuat keempat cowok itu penasaran setengah mati.
"Ya, hati-hati aja. Hati-hati pacar lo cemburu ngeliat lo deket sama mantan," timpal Yoga dengan santai.
"Nyesel gue dengerin lo," ucap Fadhil datar.
"Nyesel gue temenan sama lo," tambah Putra.
Arash berdecak. Ia pikir Yoga tahu sesuatu tentang Kamel. Ternyata hanya memperingatinya untuk waspada rasa cemburu pacarnya. "Iya. Lagian dia mantan gue dan kita nggak ada perasaan apa-apa lagi."
"Lo yakin?" sanggah Putra, "Kamel nggak ada perasaan sedikit pun lagi ke elo? Tapi kenapa dia nggak pacaran sampai sekarang? Padahal anak Langit Selatan banyak juga yang deketin dia. Kakak kelas juga ngincer dia."
Arash terdiam. Dia tidak tahu lagi harus menjawab seperti apa.
🍓🍓🍓
"Pulang sekolah ke toko buku, kuy!"
Sorakan Aliyah dibalas semangat oleh kedua temannya. Sudah lama mereka tidak jalan-jalan bareng setelah pulang sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
