Pukul 00.00
Ceklek
“Happy birthday to you
Happy birhtday to you
Happy birthday ... happy birthday
Happy birthday to Al ....”
Seiring dengan nyanyian yang berhasil ditangkap indra pendengaran Aliyah, gadis itu terbangun dari matanya yang masih lengket. Aliyah mendapati mama dan papanya berdiri dengan membawa blackforest strawberry yang ada di kedua telapak tangan Nesa.
Mata Aliyah berkaca-kaca. Pergantian tahun selalu seperti ini. Aliyah sangat bahagia. Kehadiran kedua orang tua yang tak pernah jemu memberikan cinta dan kasih yang luar biasa padanya. Itu saja sudah membuat Aliyah mengucapkan syukur. Dia salah satu hamba yang beruntung.
Aliyah memejamkan matanya, hal biasa ketika seseorang diminta untuk make a wish. “Semoga Al, Papa, Mama, dan Cheiko selalu bersama dan bahagia.”
“Aamiin ...,” ucap Nesa dan Nov bersamaan.
“Makasih, ya, Ma, Pa ... udah jadi orang tua yang luar biasa untuk Al. Maaf Al belum bisa buat kalian bangga. Al sayang sama Mama dan Papa,” tutur Aliyah sambil menahan haru.
“We love you more, Sayang. Kamu menjadi anak yang baik untuk Papa dan Mama itu saja sudah cukup,” sahut Nov sembari tersenyum.
Kemudian, Aliyah memejamkan kembali matanya kala mama dan papanya kompak memberikan kecupan di kedua pipinya. Setelahnya, mereka terkekeh. Hingga teriakan dari luar kamar menginterupsi perhatian mereka.
Cheiko datang dengan berkacak pinggang. Dia berdiri di pintu kamar Aliyah. Matanya menyipit, mulutnya dimajukan, khas anak kecil yang marah. “Kenapa Iko nggak diajak?”
Aliyah tertawa geli. Ia merentangkan tangannya, lalu Cheiko berlari memeluk kakaknya itu. “Happy birthday, Kak Al. Ditunggu traktirannya.”
🍓🍓🍓
Gadis berbalut dress santai itu tengah duduk di depan ruang TV. Dari tengah malam tadi, tidak ada satu pun dari teman-temannya mengirimkan ucapan padanya. Hanya dari warga kelasnya yang mengingat hari ini adalah ulang tahunnya. Adel dan Fairy juga melupakannya. Apalagi Arash yang tidak tahu sama sekali tanggal lahirnya.
Aliyah sudah bangun jam tujuh pagi. Jam yang lebih cepat daripada hari libur yang kadang bangunnya sampai pukul sebelas. Namun, tidak ada apa-apa yang terjadi saat Aliyah sudah bangkit dari kasur sepagi itu?
Mendengar suara banyak langkah tumit sepatu, Aliyah memutar lehernya. Nesa, Nov, dan Cheiko sudah rapi dan berpakaian senada. Aliyah menghela napasnya, pasti habis ini dia ditinggal sendirian lagi.
“Duh, galau sendirian kayak orang jones.” Nesa masih sempat-sempatnya mengejek putri sulungnya.
“Apa, sih, Mama,” balas Aliyah.
“Daripada kamu ngelamun aja, mending anterin kue ke rumah Kak Derya, sana. Sekalian jemput kado kamu. Kita mau pergi dulu ke acara temen Papa,” tutur Nesa.
Aliyah mempertimbangkan, tidak ada salahnya dia ke rumah kakak sepupunya itu sebentar. Daripada dia menunggu hal yang tidak pasti, lebih baik melakukan suatu kegiatan agar tidak berlarut kepikiran.
“Ya, udah. Al ke rumah Kak Der aja.”
Aliyah beranjak menuju dapur. Mamanya telah menyiapkan satu kue lagi untuk anak semata wayang dari kakaknya. Aliyah lantas membawa benda berkemasan plastik itu.
Ketiga orang itu masih berdiri di teras rumah, menunggu Aliyah yang hendak keluar. Segera Aliyah mencium punggung tangan orang tuanya bergantian.
“Kuncinya mau dibawa aja apa gimana?” tanya sang mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
