Sebenarnya jika boleh jujur, Arash lebih ragu kepada Aliyah ketimbang mantan-mantannya yang terdahulu. Belum pernah Arash sebimbang ini ingin melakukan sesuatu, dan semua karena seorang Aliyah Afifa.
“Tumben dateng cepet, Bor?” sindir Putra terang-terangan.
Arash menoleh pada satu temannya yang memiliki gandengan itu. “Kalau kelamaan bisa-bisa Aliyah udah pergi duluan.”
Yoga tersenyum tengil. “Jadi lo rela-rela ke sekolah cepet biar bisa pergi sama Aliyah si cewek stroberi, gitu?”
Negan yang semula bermain teka-teki di ponselnya, jadi melirik ke teman-temannya. Pembahasan mencari gebetan Arash selanjutnya entah kenapa membuatnya tertarik.
“Ya, iyalah,” jawab Arash cepat.
Putra mengangguk-angguk paham. “Belum lo dor juga itu cewek?” tanyanya sambil menirukan gaya mematik pelatuk pistol.
Arash menjawabnya dengan gelengan kaku.
“Kenapa?” tanya Yoga dengan gemas.
“Liat dia yang sering ngehindar sebelum gue dor aja udah bikin gue tarik-ulur. Gimana kalau gue ditolak?”
Aliyah selalu memberi penolakan jika Arash sudah membahas hal tersebut, yang mana membuat Arash ragu untuk menjadikan Aliyah pacarnya.
Yoga menggebrak meja. “Lo gimana, sih, Rash? Gue aja yang ditolak Mbak Titin beribu-ribu kali nggak pernah gentar. Kayak lagu Maju Tak Gentar, gue terus berjuang sampai titik darah penghabisan,” ucapnya dengan penuh kobaran api.
Negan menatap datar Yoga. “Baru ditolak dua kali.”
Sontak Yoga menempelkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Negan untuk tutup mulut. “Biar dia semangat ngejar Neng Stroberi, Gan.”
Negan hanya menghela napas dan menganggut-anggut. Lalu ia berganti menatap Arash, menepuk pundak Arash. “Kasih aja dia stok susu stroberi seumur hidup.”
Arash terdiam sebentar. Jika Negan sudah memberi solusi, pasti berlandaskan keseriusan. Lihat saja air mukanya saat ini, datar tanpa segaris lengkung bibir. Ibarat patung Albert Einsten memberi motivasi.
“Boleh lo coba, tuh, Rash. Sekalian lo kasih stroberi sama kebon-kebonnya,” lontar Putra.
Jika Putra yang memberi usulan, Arash tidak perlu menjalankannya.
Namun sayangnya, percakapan mereka harus terhenti lantaran Bu Danti memasuki kelas. Langkah kaki Bu Danti mendadak macet ketika matanya bertemu Arash.
“Tumben kamu nggak telat, Arash? Abis salah makan kamu?” tatar Bu Danti tanpa basa-basi.
Arash hanya mengelus dadanya penuh sabar. Sebegitu takjubnya sang wali kelas melihat Arash tidak terlambat ke sekolah.
Memang bagi Bu Danti, Arash datang tepat waktu adalah sesuatu yang luar biasa dalam kurun pencapaian Arash selama masa sekolah.
“Hari ini ayam nenek saya nggak ngerengek-rengek waktu saya pergi, Bu. Jadinya saya bisa kabur dengan tenang.”
Dan Bu Danti menyesal telah bertanya pada Arash.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
