20. Ketemu Lagi!

484 33 9
                                        

“Kita mau ke mana?”

Arash membalas pertanyaan gadisnya dengan senyuman. Membuat rasa penasaran Aliyah semakin menggebu. Ia bergidik sendiri melihat cowok itu berubah manis malam ini.

I will kidnap you tonight.” Senyum pemuda itu berubah menyeringai.

Aliyah cepat-cepat mengeluarkan ponselnya, menyiapkan nomor polisi. Tindakannya itu membuat tawa Arash menyembur. Ia mengacak rambut Aliyah dengan gemas.

“Ih. Berantakan, tau! Udah capek-capek nyisir ini!” gerutunya.

Pemuda itu hanya terkekeh. Ia menaiki kuda besinya. “Liat aja nanti, Sayang,” ucapnya yang menuntun gadis tersebut ke jok belakang.

Aliyah mengulum sebelumnya. Dia melingkarkan tangannya ke perut Arash, menyandarkan kepalanya ke punggung cowok itu. Aliyah memejamkan matanya sejenak seraya menghirup aroma tubuh Arash. Berada di dekat Arash, rasa nyaman benar-benar ada bersama Aliyah. Frekuensi cintanya bertambah saat-saat Arash berhasil membuatnya jatuh berkali-kali.

Dari balik helmnya, senyum Arash tak pernah berhenti terpatri. Ah, rasanya ia benar-benar dimabuk cinta. Kali ini berbeda, Aliyah punya tempat lain di antara orang yang pernah singgah di hatinya. Awal menjalin hubungan memang masa-masa yang manis.

Arash memelisit punggung tangan Aliyah yang bertengger nyaman di perutnya. Ini kali kedua Aliyah memeluknya di atas motor. Dari yang sebelumnya hanya memegang bodi motornya saja.

Mereka berhenti di sebuah kafe bernuansa modern. Saat pintu didorong, alunan live musik menyambut indra pendengaran dua muda-mudi yang baru memasuki tempat itu. Keduanya mencelinguk mencari meja mana yang akan disinggahi.

You watch me bleed until I can’t breathe
I’m shaking, falling onto my knees
And know that i’m without your kisses
I’ll be needing stitches

Arash mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia mengenali suara seseorang yang sedang bernyanyi mengisi suasana kafe. Namun, mata Arash terlalu malas untuk melihat ke pojok kiri di mana tempat musik itu berada. Terlebih lagi, tangan Aliyah sudah menyeretnya untuk naik ke lantai dua.

“Oh ... ngajak dinner di kafe,” ledek Aliyah. Pasalnya tadi Arash berkata sok rahasia seolah ada yang istimewa.

“Iya. Emang dinner di helikopter?”

Aliyah mendengkus. Tak lama seorang waitress datang mencatat pesanan mereka. Kemudian, perempuan itu pamit dengan note kecil di tangannya.

“Arash,” panggil Aliyah lembut.

Cowok itu menoleh dengan alis yang sedikit tertarik ke atas. “Hm?”

“Lusa hari apa?”

“Emang kenapa?”

Aliyah berdecak. Bukannya menjawab, Arash malah balik bertanya. “Jawab dulu, lusa hari apa?”

“Hari Minggu?” jawab Arash dengan otak yang masih berpikir ke mana arah pembicaraan sang pacar.

Hari anniversary? Sepertinya masih jauh.

Hari ulang tahun neneknya? Bukan juga. Perayaan hari lahir Citra sudah lewat tiga bulan yang lalu.

Atau tanggal di mana Arash pernah kecelakaan motor dan berujung ke ahli patah tulang saat ia masih SMP? Tidak mungkin Aliyah tahu kejadian hari itu.

Gadis itu bertepuk tangan. “Iya, bener.” Ia berkata riang, padahal jauh di lubuk hatinya terasa jengkel. Arash memang tidak pernah bertanya tentang tanggal lahirnya, dan kemungkinan Arash tidak tahu tujuan pertanyaannya sebelumnya.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang