31. Nonton Setan

329 25 8
                                        

"Rash, tolong Nenek kasih makan anak ayam."

Arash yang semula memainkan ponsel, kini memutar lehernya ke asal suara. Tampak neneknya yang berjalan lambat, sedikit berwajah pucat, dan matanya sayu.

Dengan kening berkerut Arash menghampiri sang nenek. Membantu neneknya duduk di sofa. "Nenek sakit?"

Citra mengulas senyum. "Cuma agak pusing aja. Mungkin kecapekan."

Setelah neneknya duduk, Arash melepaskan pegangannya pada lengan Citra. Guratan raut khawatir Arash terlihat mendengar keluhan wanita setengah baya itu. "Kita ke rumah sakit, ya, Nek?"

"No," balas Citra cepat, "Nenek nggak apa-apa. Paling ini sakit biasa. Istirahat aja udah cukup, kok."

"Beneran, ya? Nanti kalau belum hilang pusingnya kita ke rumah sakit. Oke, Nek Bro?" tawar Arash.

Citra terkekeh, ia mengacungkan jempolnya. "Oke. Sana kasih makan ayam!"

Arash segera bangkit dari duduknya, melanjutkan perintah Citra untuk memberi saudara-saudaranya makan sore. Kadang Arash iri dengan ayam warna-warni itu, selalu diperhatikan neneknya melebihi Malika si kedelai hitam.

"Ayam, ayam. Kenapa mulai gede warna lo malah luntur?" tanya Arash pada anak ayam yang berwarna-warni, bahkan jika dinyalakan lampu akan tampak seperti pelangi.

Hanya cicit-cicit kecil dari anak ayam yang Arash ajak mengobrol mengeluarkan suara. Para hewan menggemaskan itu sibuk berebutan mematok makanannya. Arash jadi ingat saat dia kecil, saking gemasnya ia malah mencekik anak ayam yang berwarna kuning.

Arash juga tidak suka ayam berwarna cokelat, karena tampak menggoda seperti ayam panggang madu. Jadi, Arash menjepit anak ayam itu dengan pintu kandang mode geser tersebut. Anak ayam yang disiksa Arash mati dan membuat neneknya meraung-raung. Kematian satu ekor anak ayam saja neneknya mengadakan acara pengajian di rumah. Tetangga diundang untuk turut sama-sama mendoakan si Chocho agar tenang di alam sana.

"Lo gagu, ya, Yam?"

"Iya, nih, aku nggak bisa ngomong."

Sebuah suara yang mencoba dimirip-miripkan dengan anak ayam menjawab dari depan pintu lorong. Gadis itu menyengir tanpa dosanya. Lalu, dia menghampiri si tolol Arash yang mengajak anak ayam berbicara.

"Lo ngutitin gue, ya, Pacar? Kenapa langsung masuk dari pintu samping nggak pintu depan?" tanya Arash berbondong.

Aliyah memutar bola matanya. Over-percaya diri sekali cowoknya itu. "Tadi aku liat kamu pas mau masuk. Ya, udah, aku langsung ke sini aja."

"Ada apa? Susu stroberinya belum sampe?" tanya Arash lagi. Mungkin pacarnya ini mau komplain.

Aliyah mencebik, "Bukaan!" rengeknya dengan nada marah. Padahal susu itu telah sampai dari dua jam yang lalu. "Aku mau nonton film horor, tapi nggak berani sendiri."


🍓🍓🍓


Dua anak manusia itu menonton bersama berbekal camilan dan es susu cokelat dan stroberi. Duduk di karpet kamar Arash dengan layar laptop sebagai penyaji film.

Sebelum masuk ke kamar Arash, Aliyah tidak mendapati keberadaan sang nenek cantik. Arash mengatakan jika neneknya mungkin di kamar sedang beristirahat. Aliyah hanya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi.

Aliyah mengunyah kentang gorengnya, ide makanan darinya, sebab Aliyah tidak suka makanan yang berbunyi kriuk-kriuk saat sedang menonton, akan menghalangi suara dari film. Oleh karena itu, camilan mereka berupa kentang goreng, cokelat, dan puding karamel.

Sebuah guling panjang jadi bantalan tubuh mereka yang dalam posisi tengkurap. Film sudah dimulai, dan sejoli itu fokus menyaksikan.

Dalam film, saat hari telah malam, di situ Aliyah mulai waswas panik. Ada jumpscare sedikit, Aliyah langsung membuang mukanya dan berlindung ke arah Arash, tepatnya menyembunyikan wajahnya di ketiak Arash. Gadis itu yang mengajak menonton, tetapi dia yang sedari tadi hanya menutup mata tiap sebentar. Dasar cewek, Jika takut mengapa mengajak menonton horor?

With(out) Strawberry (COMPLETED)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang