“Rash, jangan goyang-goyang, dong. Nggak liat gue lagi berlindung di badan lo?”
Fadhil bersungut-sungut. Dirinya berlindung di badan tinggi Arash, tetapi Arash bergerak-gerak tidak bisa diam. Temannya itu mencuri-curi pandang ke arah pacarnya, kadang menggoyangkan kakinya yang mungkin lelah berdiri sepanjang pagi mendengarkan petatah-petitih pembina upacara.
“Bu. Fadhil lagi jongkok, Bu,” adu Yoga yang sebenarnya hanya pura-pura sebab tidak ada guru yang ada di barisan kelasnya.
Cepat-cepat Fadhil menegakkan kembali badannya, sebelum Yoga si pengadu bermulut ember tiruan itu bersuara.
“Ini upacara atau pembagian sembako, sih? Lama banget! Ngalahin pembukaan lahiran lamanya,” keluh Fadhil.
Keringat sudah mulai membasahi dahi tiap siswa. Pembina yang menyampaikan amanat upacara tak kunjung menyudahi kata-katanya. Tidak memikirkan kondisi orang-orang yang bosan dan menggerutu di dalam hatinya. Bahkan kata-kata sang guru tidak lagi sampai ke otak mereka. Semua sibuk dengan mencari badan orang yang tinggi semampai, lalu berlindung di belakangnya.
Seperti Fadhil yang memanfaat tubuh Arash untuk berlindung dari terik matahari di belakang punggung Arash.
Risiko Arash yang bertubuh paling tinggi setelah Putra. Lalu disusul Negan, Yoga, baru terakhir Fadhil sendiri.
“Lebay lo! Emang tau pembukaan lahiran berapa lama?” kata Arash.
“Tau,” jawab Fadhil yakin, “lahiran kambing babe gue nggak selama itu.”
Semua kembali terdiam, pembina mengancam akan semakin lama berceramah. Padahal tidak diancam pun, selalu berakhir sama, lama!
🍓🍓🍓
Istirahat kali ini, Aliyah dan Adel ikut ke tempat menongkrong teman-teman Arash di warung sebelah sekolah. Fairy ogah-ogahan diajak, mereka sudah menduga itu sebelumnya.
“Pasti Mbak Titin kangen gue,” ucap Yoga lesu. Tidak ke stan Mbak Titin satu hari saja Yoga telah merasa berselingkuh.
“Udah, deh, Ga. Mbak Titin juga seneng nggak ada lo di sana,” balas Adel tanpa beban.
Yoga memandang Adel tak percaya. Seolah Adel tidak ikut merasakan apa yang dia rasakan.
“Ini nasi goreng untuk pacar,” sahut Arash dengan ceria. Ia duduk di sebelah Aliyah sembari membawakan dua piring nasi goreng di tangannya.
“Thank you,” balas Aliyah diakhiri senyuman.
Melihat sejoli itu berbagi senyuman, Yoga hanya bisa menghela napas.
Tiba-tiba Adel terbatuk, Putra dengan cepat menyodorkan air membantu sang pacar untuk minum.
“Di sini pacaran, di sana pacaran. Di mana-mana pacaran, DI DEPAN GUE!” Nyanyian nyeleneh Yoga mengisi latar tempat mereka.
“Mending lo kayak Negan aja, diem ganteng di kursinya,” ucap Putra sinis.
“Irian si Yoga, ya,” timpal Aliyah.
“Banyak omong orangnya, mending jait aja bibirnya,” tambah Adel.
“Sirik lo, Ga? Makanya muv on dari Mbak Titin!” Arash ikut mengkritik.
“Gue terus yang ternistakan! Salahin aja gue!” bubuh Yoga dramatis, “apa-apa gue terus yang kena. Sakit hati, Dedeh!”
Bunyi deritan kursi dari Negan membuat semua pasang mata menoleh. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Negan berjalan hendak meninggalkan warung.
“Gan, kenapa main pergi-pergi aja?” tanya Arash dengan suara meningkat.
“Yoga berisik!” jawab Negan, lalu benar-benar menghilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Novela JuvenilJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
