“Gue udah di depan, Bro.”
“Hm. Masuk aja. Pintunya nggak dikunci.”
Arash mematikan sambungan telepon, memasukkan ponselnya ke saku jaket. Malam ini, ia sudah berencana ke rumah Negan, sendiri. Arash tak lupa jasa Negan. Ia ingin berterima kasih dengan membawakan banyak makanan dari restoran Jepang kesukaan Negan.
Saat membuka pintu, Arash mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Terlihat sang pelayan tengah menonton layar televisi.
Ya, Negan menjadi pelayannya, karena rajanya adalah Arash sendiri. Sesuai pepatah lumrah, tamu adalah raja.
“Waalaikumsalam,” sahut Negan dingin dan menyindir.
Arash menyengir. Ia kembali keluar dan mengulangi cara masuk ke rumah Negan dengan benar. “Assalamualaikum.”
Pemuda itu langsung menaruh plastik besar ke atas meja. Tanpa disuruh apa-apa, dia sudah mencomot keripik kentang Negan dengan sopannya.
“Ngapain lo ke rumah gue?” Selidik Negan. Tidak biasanya Arash mau repot-repot ke rumahnya dan membawakan banyak makanan.
Arash tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi-giginya. “Tanda terima kasih gue buat lo, Gan. Karna usulan lo kemaren, Aliyah nerima gue!” ucapnya riang, “pengen meluk lo tapi takut digrebek warga.”
Negan menghela napas berat. Otak Arash ini terlalu tumpul atau memang tertinggal di dalam janin? Bisa-bisanya tetap berasumsi bahwa semua itu berkat Negan.
“Aliyah nerima lo bukan karena susu stroberi,” tandas Negan tajam dan gemas.
“Trus apa? Karena gue emang ganteng?” tanyanya, semakin terlihat dungu di mata Negan.
“Otak aman?” Negan balik bertanya datar.
“Aman. Masih di kepala gue, nggak turun ke dengkul.”
Hampir saja Negan ingin menghantamkan remote tv-nya ke kepala Arash, harap-harap menyenggol otak Arash agar bisa membangkitkan saraf-sarafnya. Lama tidak digunakan untuk berpikir, jadinya Arash seperti robot kehabisan baterai.
“Aliyah itu emang suka sama lo!” Negan geram, tetapi bisa mengontrol wajahnya supaya tetap netral.
“Apa iya?” tanya Arash bingung. Dia sudah menyaksikan sendiri bagaimana biasa-biasa saja reaksi Aliyah dan terkesan menolaknya. Otaknya tidak bisa menangkap Aliyah juga menyukainya.
Negan menatap Arash sekali lagi cukup lama. “Kalau pun nggak suka, dia mau belajar pelan-pelan.”
Terpaksa ucapan Negan menjadi bijak untuk menyadarkan otak Arash yang mungkin sedang tertidur, mengingat hari sudah malam.
“Gitu, ya?”
Decakan sebal keluar dari mulut Negan. “Pintu depan dan belakang masih berfungsi."
Arash menarik kasar kunci mobilnya. “Ngusir lo estetik banget, Gan.”
Menuruti tuan rumah yang sudah menyuruhnya keluar, Arash berjalan menuju pintu utama. Ketika tubuhnya sudah memijak pinggiran keramik, suara Negan kembali membuatnya menghentikan pergerakan.
“Makasih makanannya, Rash. Malam ini gue nggak perlu repot-repot keluarin duit.”
Sekali Negan mengeluarkan kata-kata panjangnya, pasti akan terdengar sangat menyebalkan.
Arash tidak membalikkan tubuhnya, dia tahu Negan tengah mencibirnya.
“Sialan lo!”
🍓🍓🍓
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
