Happy reading!
Aku harap kalian menikmati ceritaku.
**
Aliyah memandang senang dua buku yang baru dibelinya kemarin. Novel roman dan horor, genre kesukaannya.
Dia rela mengeluarkan uang jajannya hanya untuk membeli novel. Aliyah pun merasa tidak keberatan dan senang-senang saja. Toh, buku fiksi juga kebahagiaan tersendiri untuknya.
Buat apa, sih, beli novel? Ngabisin duit aja!
Orang lain yang berkomentar seperti itu tidak Aliyah hiraukan. Sebab, mereka tidak merasakan sendiri bagaimana efeknya membeli novel untuk diri sendiri. Wajar, tidak semua manusia suka membaca.
Ah! Kemarin Aliyah juga membelikan hadiah untuk Arash. Bukan karena hari jadian mereka yang kedua bulan. Hanya saja Aliyah ingin mengucapkan rasa terima kasihnya pada Arash. Arash begitu berjasa untuk hatinya yang selalu mendambakan bahagia.
Dan Aliyah berharap semoga rasa yang Arash tunjukan padanya akan selamanya seperti itu.
“Kak Al!”
Sapaan bocah dengan nada teriak itu mengubah atensi Aliyah. Adiknya, Cheiko, bersandar di pintu sambil menyedot susu stroberi Aliyah tanpa wajah berdosanya.
“Iko minta susunya, ya!”
Begitulah seorang adik. Mengambil dahulu barangnya baru meminta. Percuma saja izin!
“Iya.”
Bocah itu mendekat. Seiring dengan bunyi seruput yang dihasilkan dari sedotannya. “Kak Al, tau, nggak? Tumben Papa tidur sama Iko tadi malam.”
Ternyata permasalahan papa dan mamanya masih berlanjut. Aliyah merasa seperti ada sesuatu yang menggores kulitnya. Pedih mendengar adiknya mengadu. Akan tetapi, Aliyah saat ini sebagai penyangga Cheiko. Dia harus menunjukkan sisi terkuatnya untuk sang saudara satu rahimnya.
“Papa itu mau nemenin Iko tidur.”
Poni Cheiko bergerak jatuh. Dia terlihat paham dan mengangguk. “Iko jadi ada yang nemenin tidur.”
Adiknya yang masih butuh bimbingan ini ... tidak pantas untuk menghadapi pahitnya kehidupan. Aliyah memohon, sedikit saja, walaupun kenyataannya berpersentase minim, dia hanya meminta agar salah satu kebahagiaannya tidak akan pernah menghilang.
“Kak Al beli buku cinta-cinta? Iko boleh baca?”
Sontak Aliyah menggeleng. “Nggak boleh. Iko bolehnya baca buku dongeng.”
Bibir Cheiko mengerucut. Mata bulatnya berpindah ke kotak persegi yang terbuka, menampilkan sebuah jam tangan bermerek berwarna hitam. “Wristwatch? Keren banget! Pasti mahal. Kak Al beli buat pacarnya, ya?”
Aliyah menghela napas. Pertanyaan Cheiko rasanya tidak perlu dijawab.
“Iko jadi pengen kasih hadiah juga, ah, buat Dila.”
Mata Aliyah nyaris keluar dari tempatnya.
🍓🍓🍓
Sendal jepit kebanggaannya sudah terpasang di kedua kaki, tinggal berjalan lurus untuk sampai ke rumah Arash. Sebuah paper bag, kali ini tidak bergambar stroberi, Aliyah tenteng di tangan kanannya. Mulutnya bersenandung kecil mengiringi langkahnya.
Aliyah membuka pagarnya, lalu menutupnya kembali. Ia berjalan melewati aspal, tetapi kedua kakinya mendadak berhenti.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya dengan alis tertekuk. Netranya menangkap Arash yang tengah mengeluarkan motornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Fiksi RemajaJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
