40. Menghindar

338 23 6
                                        

Entah kesialan apalagi yang menimpa Aliyah. Di tempat yang sama, mereka bertemu Arash yang juga membeli strawberry pastry pie. Perasaan gusar Aliyah berubah menjadi cemas. Pasalnya, Arash tidak pernah menatapnya sekecewa itu.

Sementara itu, Zami hanya cuek. Ia melirik ke penjuru lain, seolah tidak ada apa-apa. Zami menunggu pertunjukan drama dimulai.

Arash mendekat dengan mempertahankan wajah datarnya. Tas kertas berlogo restoran itu ia serahkan ke Aliyah tanpa berkata-kata. Setelah itu, Arash undur diri begitu saja.

Aliyah menatap nanar pemberian Arash. Makanan yang seharusnya ia nikmati dengan bahagia, menjadi hal pembawa petaka untuknya. Arash marah, dan itu tampak menyeramkan.

“Zam. Maaf, ya, udah ngerepotin. Gue duluan.” Aliyah pamit dengan tergesa, mengejar Arash yang sudah menarik pintu keluar.

Zami memandangi punggung Aliyah yang menjauh. Ia mengedikkan bahu, tak acuh. “Yah ... dia marah.”

“Arash, tunggu!”

Aliyah bersusah payah menyamai langkahnya dengan Arash. Ditambah lagi sepatu kebesaran milik Zami yang tadi Zami pinjamkan sewaktu di mobil membuat jalannya tersendat-sendat. Berkali-kali Aliyah memanggil pun tidak Arash dengarkan.

Siapa yang tidak kecewa? Bukan hanya kecewa, sedih dan marah mendominasi wajah Arash saat ini. Lebih baik Arash diam, daripada harus membuat Aliyah ketakutan dengan semburan urat panasnya.

Arash memarahi Aliyah, sama saja dengan Arash menambah luka di hatinya.

Ketika Aliyah masuk ke dalam mobilnya tanpa izin pun, Arash tetap diam. Arash tidak ingin menatap gadis itu, rasa kecewanya masih menguasai dirinya.

Siapa yang tidak terluka melihat pacar pergi bersama mantan? Mendengarnya saja Arash emosi, ini langsung disaksikannya sendiri, di depan matanya. Tepat saat Arash membelikan makanan yang Aliyah idamkan.

“Arash, maafin aku. Jangan marah sama aku,” lirih Aliyah dengan suara bergetar. “Maaf, Arash. Aku nggak bermaksud buat pergi sama Zami.”

Kelopak mata Aliyah tergenang cairan panas. Air bening kembali jatuh membasahi pipinya. Arash masih setia mendiamkannya. Arash begitu marah padanya.

Seharusnya Aliyah menunggu Arash di rumah neneknya. Seharusnya Aliyah tidak tergesa mendapati apa yang ia inginkan. Seharusnya Aliyah tidak meminta bantuan Zami. Namun, kalimat saran itu hanya mengambang. Semua sudah terjadi. Hati Arash telah remuk. Kepercayaan Arash padanya kembali terombang-ambing.

Mendengar napas tak beraturan dari kursi samping, membuat Arash menoleh. Tidak sampai sedetik ia kembali memandang lurus. Menyadari penampilan gadis itu yang acak-acakan, bahkan pakaian saja hanya baju panjang rumahan. Arash mencoba meredamkan amarahnya.

Arash jauh lebih tidak tega mendengar tangisan Aliyah. Namun, perasannya juga tetap dipertimbangkan. Memilih diam, belum melajukan mobil sebab khawatir akan ugal-ugalan.

“Al salah, Al minta maaf. Arash jangan diem aja,” ucap gadis itu dengan bahu naik-turun. Ia menahan tangisnya yang membuatnya jadi terisak.

Aliyah bingung, Arash malah membuka pintu mobilnya. Arash berjalan memutar, lalu membuka pintu tempat Aliyah duduk.

Apa Arash mengusirnya? Lalu menyuruhnya pulang sendiri?

Aliyah terlonjak kaget saat Arash merunduk untuk melepaskan sepatu Zami yang melekat di kedua kakinya. Kemudian, Arash menutup pintu dan berpencar di antara mobil-mobil yang terparkir.

Entah mau dikemanakan sepatu itu.
Lewat mata Aliyah, Arash berjalan ke ujung. Tempat di mana Zami memarkirkan mobilnya. Kebetulan Zami juga ada di sana. 

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang