33. Titik Hancur

431 24 16
                                        

“'Kan, Arash udah bilang sama Nenek. Kita ke rumah sakit cek kondisi Nenek. Sekarang tunggu pingsan dulu baru mau ke rumah sakit?”

Citra tertawa lemah mendengar omelan cucunya. Pemuda itu menggunakan seragam yang acak-acakan. Sejenak Citra menggeleng, bentuk Arash saat pergi sekolah sangat berbeda dari yang ia lihat saat ini.

“Arash ....”

Panggilan lemah Citra membuat Arash terkesiap. Arash yang semula tengah duduk di sofa panjang, sontak mendekat ke sebelah ranjang pembaringan neneknya. Arash mengelus tangan keriput sang nenek yang tertancap selang infus.

“Kenapa, Nek?” Sorot mata Arash benar-benar menampilkan rasa cemas.

Bibir Citra mengerucut. “Nenek masih cantik, nggak?”

Mata Arash yang tadinya menyiratkan panik, langsung pudar begitu saja. Arash pikir neneknya ingin mengeluh menyebutkan sakit di mana yang beliau rasakan. Ternyata nenek gaulnya itu malah bertanya saat pucat begini ia masih cantik atau tidak.

Misalnya Arash jawab tidak, neneknya pasti cemberut dan harus dibujuk dengan sendal bulu-bulu keropi.

“Cantik. Nenek cantik banget.”

“Bener? Secantik apa?”

“Cantik kayak Cinta Laura,” balas Arash hiperbola.

Wanita setengah baya itu otomatis tersenyum. “Iya, bener. Dulu waktu muda muka Nenek emang mirip sama Cinta Laura. Bodi nenek persis kayak Anya Geraldine. Makanya dulu banyak yang ngantri buat jadi suami Nenek. Eh, semuanya kalah sama kakek lu yang laksamana.”

Mengalirlah cerita masa lalu Citra, mengisahkannya pada Arash. Arash hanya mendengarkan. Telinganya masih kuat menerima pasokan percaya diri tinggi neneknya. Juga Arash bersyukur sakit neneknya tidak parah. Akibat tidak mengontrol waktu tidur dan makan, Citra terkena tekanan darah rendah.

Suasana seperti ini, mata Arash berkaca-kaca. Tidur malam neneknya tidak teratur pasti karena dirinya yang kadang pulang main tidak tentu waktu. Arash lupa bahwa neneknya lebih kepikiran dengannya ketimbang orang tuanya.

Neneknya itu memang tidak bisa tidur sebelum Arash pulang ke rumah. Selalu saja begitu. Sering Arash mendapati neneknya duduk menunggu Arash selesai main bersama teman-temannya.

“Maafin Arash, Nek.”

Citra menoleh, mendapati air muka bersalah Arash. Citra paham apa yang dipikirkan cucunya itu. “Nenek nggak apa-apa, Arash. Ini cuma sakit biasa. Sakit orang yang udah tua. Harusnya nenek yang minta maaf udah bikin lu cabut dari sekolah. Ya, walau sekolah pun lu tetep cabut kalau kepengen.”

Arash tertawa kecil. Entah siapa yang sakit entah siapa yang dihibur. Neneknya tetap ceria di balik badannya yang terbaring berinfus. Masih sanggup melucu di tengah wajah pucat tersemat.

“Arash telepon Mama, ya?”

Dan, Arash sudah menduga jawaban neneknya.

“Jangan!”

Arash menghela napas. “Nanti yang bayar rumah sakit siapa, Nek Bro?”

“Oh, iya, ya. Ya, udah, nanti aja pas jam pulang kerja, ya. Nenek takut ganggu kerjaan mereka.”

Selalu begitu jawaban Citra. Takut mengganggu pekerjaan anaknya. Padahal setiap anak bekerja juga untuk orang tuanya.

“Oke. Nenek istirahat lagi aja. Arash di sini nggak ke mana-mana.”

“Siap!”

Mata Citra mulai berangsur terpejam. Selama tiga hari ke depan, neneknya akan dirawat hingga tensinya kembali normal.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang