16. Hujan dan Gagal

615 33 12
                                        

"Kak Al, ayo main PS sama Iko!"

"Main apa?"

"Monster Hunter."

"Game Strawberry Shortcake nggak ada?"

Cheiko berdecak kesal. "Nggak ada, lah! Masa Iko ngisi game buat cewek?"

"Ya, udah, saya tidak mau main."

"Ih, Kak Al. Ini misi. Tolongin Iko, dong!" rengek bocah itu.

Aliyah menghela napas lelah. "Kakak nggak bisa mainnya, Iko tuyul! Nanti kamu kalah malah marah-marah!"

Cheiko mengerucutkan bibirnya. "Trus ini gimana? Nggak seru, dong," keluhnya memelas, "pokoknya Kak Al harus main, dan Kak Al harus bantu Iko menangin misi ini."

Aliyah membulatkan matanya. Apa adiknya ini sudah tidak waras?

"Kok, maksa, sih?" protes gadis itu. Karena jabatan Cheiko sebagai anak bungsu, dia jadi suka berbuat seenaknya.

"Pokoknya Iko mau main ini!" Bocah itu merengek-rengek sambil berguling-guling di lantai. "Kak Al. Ayo, dong. Bantuin adeknya dapet pahala, loh, kata Pak Haji."

Aliyah jadi pusing sendiri melihat adiknya seperti itu. Ia harus memaksa otaknya bekerja cepat agar menghentikan rengekan Cheiko. Aliyah mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantunya.

"Oke, stop! Kak Al bakal bantu Iko main, tapi tunggu sebentar," titah tegas Aliyah.

Bocah itu langsung duduk tegap. Tangannya melayangkan gerakan hormat. "Oke. Siap, Kak!"

🍓🍓🍓


"Oh, ya. Nama Kakak siapa tadi?" tanya Cheiko dengan pandangan lurus sambil menekan-nekan stick PS-nya.

"Arash."

Akhirnya Aliyah bisa bernapas lega. Cheiko bermain dengan orang yang tepat. Arash langsung datang setelah sambungan telepon terputus, sukacita menyanggupi permintaan sang pacar untuk menemani adiknya.

Kedatangan Arash tentunya sudah diketahui Nesa. Nesa dengan senang hati berinteraksi ramah pada Arash. Membuat Aliyah merasa aman. Ia pikir, mamanya tidak akan menyukai Arash. Akan tetapi, prediksinya salah walaupun Arash tidak menyembunyikan sifat tengilnya.

"Iko panggilnya Kak Ar aja, biar sama sama Kak Al. Al dan Ar. Ih, cocok!" Cheiko terkikik.

"Emangnya kamu setuju Kak Arash sama Kak Al?" tanya Arash yang sesekali mengubah pandangannya ke sebelah.

"Setuju, dong! Kak Arash jago mainnya. Kalau Kak Ar sama Kak Al, Iko jadi bisa main PS terus sama Kak Ar. Kapan-kapan kita main bareng lagi, ya?" Cheiko berseru senang. Aura semangatnya berkobar ketika Arash ikut bermain.

"Oke, siap!" balas Arash tak kalah semangat.

"Main terus kerjaan kamu, Iko!"

Tiba-tiba, Nesa menampakkan diri sembari berkacak pinggang mendengar perkataan Cheiko barusan.

"Ah, elah, Ma. Iko itu baru pulang sekolah. Emang selama empat jam di sekolah Iko ngapain? Salto-salto?" jawab Cheiko tak terima.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang