"Del, Aliyah mana?"
Arash menghampiri Putra dan Adel di parkiran yang tak jauh darinya. Tadinya dia sudah mengatakan akan pulang bersama Aliyah, tetapi gadis itu tidak dapat Arash temukan di kelasnya.
Adel memutar lehernya, alisnya berkedut mendengar pertanyaan Arash. "Dia udah pulang sama Fairy."
"Ditinggal, Bor?" Putra mengejek.
"Tuh cewek bener-bener, ya," gerutu Arash tak habis pikir.
"Lo udah bilang pulang bareng Al, ya? Lain kali lo kasih tau gue, biar dia nggak bisa kabur," ucap Adel prihatin.
Arash mengangguk lesu. "Oke."
Putra merekatkan pengait helmnya, lalu dengan sengaja memakaikan helm untuk Adel di depan Arash. "Sana lo, pulang! Gue sama cewek gue abis ini mau makan."
"Sialan lo! Nggak nanya juga," umpat Arash, lalu ia pergi dari hadapan sejoli yang mendadak membuatnya panas. Tanpa peduli Putra yang sudah cekikikan tidak jelas.
Arash menaiki motornya, melaju kencang meninggalkan sekolah. Ia kehabisan akal mengingat Aliyah yang kabur begitu saja dengan Fairy. Cewek itu selalu punya cara untuk menghindar darinya. Namun, Arash sudah terlanjur jatuh hati pada gadis fanatik stroberi tersebut. Sekali digenggam, Arash tidak akan pernah melepaskan sampai ia betul-betul telah mendapatkan.
Gas motor Arash memelan saat matanya menemukan Fairy. Gadis tomboi itu terduduk di pinggir jalan sambil memegangi kepalanya, tampak frustrasi. Buncahan resah tiba-tiba menyusup ke dada Arash. Pasalnya tidak ada Aliyah di sana.
Dengan tergesa Arash turun dari motornya, menghampiri Fairy. "Fe, ngapain lo ngegembel di sini?"
Fairy menurunkan tangannya dari kepala. Netra paniknya menoleh pada Arash. Sejenak ia mengatur napasnya. "Tadi gue dicegat sama mobil Jeep. Mereka bawa Aliyah pergi, Rash. Maafin gue. Gue udah ngelawan tapi nggak bisa."
Tanpa sadar tangan Arash terkepal menahan emosi. "Lo kenal siapa mereka?" tanyanya tajam pada Fairy.
"Dari seragamnya, kayanya mereka anak Angkasa."
Wajah Arash memerah mendengar kalimat itu. Otaknya melintaskan satu nama saat ini. Siapa lagi jika bukan lelaki itu. Sepertinya dia tengah bermain-main dengan Arash lewat Aliyah.
Arash kembali menatap Fairy. "Lo nggak pa-pa, 'kan? Biar gue yang cari Aliyah. Lo pulang aja. Hati-hati."
Buru-buru Arash memakai helmnya, melaju kencang meninggalkan Fairy yang terpaku dengan pendaran nyata di wajahnya.
Di atas motornya, Arash tak bisa tenang memikirkan Aliyah. Panik, marah, dan kecewa bercampur di tubuhnya. Ini salahnya yang tidak bisa menjaga Aliyah dengan baik, bahkan di saat gadis itu diincar musuh bebuyutannya.
🍓🍓🍓
Kuda besi merah milik Arash berhenti tepat di markas anak Angkasa. Tempat itu terlihat sepi dari yang biasanya banyak orang duduk sembari merokok dan berbincang-bincang. Tetapi sekarang tidak ada satu pun manusia, dengan pintu yang dibiarkan terbuka.
Arash memilih masuk. Pemuda itu nekat pergi ke markas komplotan siswa Angkasa tanpa ditemani teman-temannya. Arash tidak bisa berpikir apa-apa selain pada Aliyah. Entah bagaimana gadis itu saat ini.
"Gue belum kasih tau tapi lo udah dateng aja."
Sebuah suara dari penjuru kiri menyambut kedua telinga Arash. Seorang cowok keluar lalu mengunci pintu ruangan tersebut, yang Arash percaya ada Aliyah di dalamnya.
Arash semakin tidak tenang lantaran Aliyah tidak bersuara sama sekali, sedangkan Angga berdiri di depan pintu sambil menunjukkan wajah bahagia. Pikiran Arash bertambah kalut, berbagai asumsi hadir di benaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Fiksi RemajaJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
