39. Strawberry Pastry Pie

329 26 10
                                        

Istirahat pertama, Arash bingung mengapa pacarnya meninggalkannya duluan ke kantin. Sejak pagi juga sepertinya Aliyah malas melihatnya. Ada apa dengannya?

Di bangku pojok telah berkumpul teman-temannya dan tiga gadis yang ikut bergabung, termasuk pacarnya, Aliyah juga ada di sana. Mereka tengah memakan menu Mbak Titin seperti biasa.

Sebelum mendekati bangku panjang mereka, Arash terlebih dahulu membuka showcase milik penjual bakso itu. Kemudian, ia mengambil sebuah kotak susu stroberi. Arash menghampiri meja mereka, duduk di hadapan sang pacar yang tengah menyantap mi ayamnya.

"Nih, susu buat lo," sahutnya sembari memasang senyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipi kirinya yang tampak manis.

Keempat temannya hanya menatap Arash sebentar lalu kembali menyambung acara makan mereka.

Aliyah melirik sekilas susu kotak yang disodorkan Arash, lalu menghela napas. "Gue nggak mau stroberi, maunya susu coklat."

Yoga nyaris meledakkan tawanya ketika mendengar nada ketus Aliyah, namun ia segera menutup rapat mulutnya.

Begitu pun dengan Fadhil, dia sudah menertawakan Arash dengan cara menghadapkan wajah ke sebelah.

Arash berusaha untuk tetap kalem meskipun teman-temannya terlihat seakan ingin menertawakannya. Ia kembali menatap Aliyah. "Sejak kapan lo suka susu coklat, pacar?"

"Sejak tadi," jawab gadis itu tak santai.

"Emang cowok serba salah, Rash. Lo harus pahami itu," ujar Putra yang menambah saos lagi di mangkuk baksonya.

Arash menghela napas dan kembali menatap pacarnya. "Gue ganti jadi susu coklat. Mau, 'kan?"

Melihat usaha Arash yang mengajaknya berbicara, Aliyah meminum sedikit airnya untuk melegakan mulutnya. Sesaat gadis itu tersenyum manis. "Bercanda, Rash. Iya, ini aku ambil susunya. Sana, gih, kamu pesen makan."

"Gimana kalo kita semangkok berdua?"

Aliyah membalas sengit dengan tatapan. "Bentar ini aku belah dulu mangkoknya," balasnya yang terdengar horor di telinga Arash.

"Belah otaknya aja, Al. Isinya udah penuh sama kebucinan," celetuk Yoga.

🍓🍓🍓

“Idih, jam tangan baru, nih?” celetuk Fadhil menyadari sesuatu yang berbeda di tangan Arash.

Arash menoleh, sesaat dia jadi kepikiran pada gadisnya lagi. Mereka tidak berangkat sekolah bersama sebab Aliyah diantar papanya.

Dengan tidak tahu dirinya Fadhil mencolek jam tangan Arash. Ritual kenalan pada barang-barang baru teman.

Arash mencebik, “Jam gue jadi ngecetak sidik jari lo yang penuh dosa,” tukasnya sambil mengelap arloji tersebut ke bajunya.

Mata Fadhil membulat tak terima. “Jari gue udah mandi wajib, ya!”

“Emang jam lo yang kemaren mana, Rash? Jadi hiasan kandang ayam lagi?” tanya Yoga.

“Ada, lagi tidur di kamar gue,” jawab Arash santai.

“Lo nggak mau makainya lagi?” Fadhil mengeluarkan pertanyaan.

“Kenapa? Lo mau?”

Jam tangan lama Arash yang baru dibeli bulan lalu, masih bagus. Kapan lagi Fadhil bisa memakai barang-barang mahal milik Arash yang berharga jutaan? Yang jelas Arash yang menawarkan pula.

Jam tangan Fadhil yang di bawah 100 ribuan selalu insecure jika bersanding dengan jam milik teman-temannya.

“Dia, mah, nggak usah ditanya, dikasih kolor bekas Shawn Mendes juga nggak bakalan nolak,” cerocos Yoga.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang