8. BUKAN PACAR!

840 51 10
                                        

“Mama liat ada cowok di rumahnya Bu Citra. Ganteng anaknya. Itu cucunya, ya?”

Gesekan sendok dan piring Aliyah terhenti. Suara sang mama mengisi keheningan sesaat. Aliyah memilih diam, tetapi bukan berarti dia tidak ingin menjawab.

Cheiko lantas berseru senang. “Iya, Ma. Kakak itu yang pernah Iko liat sama Kak Al.”

Ketiga pasang mata kompak melirik Aliyah, membuat Aliyah menghela napas. “Iya, cucunya Nekcan.”

“Pacarnya Kak Al, Ma.”

Dua bola mata Aliyah mendadak hendak keluar dari tempat mendengar adiknya kembali berceletuk. Jika saja tidak ada papa dan mamanya, sudah pasti mulut Cheiko sudah Aliyah sumbat dengan paha ayam di piringnya.

“Enggak. Jangan sembarangan ngomong kamu, Iko!” balas Aliyah cepat.

Cheiko seakan tidak peduli. Ia memeletkan lidahnya. Bertengkar dengan kakaknya adalah hal wajib yang harus dilakukan setiap hari. Membuat kakaknya diomeli mama dan papa merupakan cita-cita Cheiko sejak dari janin.

“Bener, Al?” Sorot mata Nesa menyelidik Aliyah. “Baguslah kalau tetanggaan gini. 'Kan, gerak-gerik kalian terpantau.”

Nov hanya diam mendengarkan, matanya melirik bergantian tiap orang yang membuka suara.

“Astaga. Enggak, Ma. Iko jangan dipercaya,” timpa Aliyah.

Baginya, anak kecil tidak pernah salah dan bisa dipercaya adalah suatu kebohongan!

Kepala Nov bergerak. Ia jadi teringat ketika pulang kerja tadi melihat Aliyah keluar dengan cucu tetangga itu.

“Al,” panggil Nov memelan.

Aliyah menoleh sambil memasukkan nasi ke mulutnya. “Ya, Pa?”

“Bener bukan pacar kamu?”

Aliyah menghela napas jengah. Ia mendadak emosi pada tiga anggota keluarganya saat ini.

🍓🍓🍓

Selesai makan, Aliyah lantas ke kamarnya. Ia tengah berbaring ditemani pikirannya yang tertuju pada tetangga barunya.

Aliyah memeluk bantal berbentuk stroberi miliknya. Berkali-kali ia mengembuskan napas.

“Apa bener Arash mau jadiin gue pacarnya?”

Bukannya Aliyah berharap. Hanya saja, ucapan itu sering Arash singgung saat bersamanya. Aliyah jadi memikirkannya atau lebih tepatnya kepikiran.

“Tapi kapan?” tanya Aliyah lagi pada angin yang berada di dalam kamarnya.

“Kalau gue nggak suka dia, gimana nanti?”

Aliyah sendiri tidak tahu bagaimana hatinya. Dia tidak suka dengan Arash, lebih tepatnya, belum. Badboy seperti Arash bukan tipe Aliyah sama sekali. Mau jadi apa jantung Aliyah jika punya pacar yang sering beradu otot sana-sini?

Gadis itu terlalu sibuk berkecamuk di satu jalan. Hingga lupa sesuatu yang berkaitan erat dengan dirinya. Aliyah menyadari ada yang kurang malam ini. Mengingat-ingat lagi, sontak Aliyah teriak.

“Gue belum minum susu stroberi malam ini!”

🍓🍓🍓

Arash tidak paham mengapa selesai makan kemarin, Aliyah mendiamkannya. Ditawarkan minum susu di rumahnya saja, Aliyah menggeleng. Dia pulang setelah mengucapkan terima kasih dengan datar.

Mengherankan. Bukannya perempuan jika bertemu seblak selalu selesai makan dengan bahagia?

Jadi, di sinilah Arash sekarang. Di depan pintu rumah Aliyah untuk pertama kalinya. Tujuannya ingin berangkat sekolah bersama gadis itu. Akan tetapi, Arash berdebar sendiri membayangkan pertemuannya dengan keluarga Aliyah.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang