Arash mengangguk mantap, memastikan bahwa ia sangat yakin atas keputusannya. Mama dan papanya saling berpandangan heran. Lain dengan sang adik, Luna menatap kakaknya curiga.
"Tumben kamu mau sendiri? Biasanya disuruh ke sana yang nolep-lah. Nggak ada temen, lah. Anak-anaknya nggak asik, lah alasan kamu. Sekarang kenapa kamu mengambil keputusan ini?" omel Livia, mamanya Arash.
"Pasti ada sesuatu tuh, Ma," celetuk Luna, "nggak mungkin banget Kak Arash tiba-giba gini. Yang ada antara kesambet atau ... something." Ia menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
"Anak kecil diem aja!" Arash bersungut, lalu menatap mamanya. "Ya, nggak pa-pa, Ma. Kapan lagi Arash nggak aneh, kan?"
"Buat Papa, sih, itu terserah kamu. Asal kamu jangan bikin onar. Jangan suka mainin bel rumah orang. Kalau mau nyiram jalanan perhatikan dulu ada orang lewat apa enggak. Jangan curi jajanan di tangan anak kecil sampai dia nangis lagi," titah Ardo, mengabsen seluruh tingkah laku Arash yang diketahuinya.
"Iya, Papa ganteng. Arash nggak gitu lagi." Tapi enggak janji, lanjut Arash dalam hati.
🍓🍓🍓
"Kesurupan di mane lu sampe mau tinggal sama gue?" tanya Citra sembari berkacak pinggang di depan pintu.
"Suruh masuk dulu atuh, lah. Berat ini Arash geret koper, Nek Bro. Bukannya disambut pakai karpet merah malah dihambat pakai perangkap tikus," gerutu Arash, melirik ke bawah di mana ada sepasang perangkap tikus terletak di pembatas keramik.
Citra bergumam malas, lalu menyapu perangkap tikusnya ke teras. Setelah benda itu tidak ada lagi, Arash menginjakkan diri memasuki kediaman nenek gaulnya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Mau minum apa? Yang ada cuma air bekas cuci beras."
"Ya udah, itu aja. Sekalian kasih sianida, Nek. Kaya cucu tiri gue di sini, ah elah."
Citra mendengkus, "Ngambekan lu kaya anak alay!"
"Bogoh ka nini anjeun. Arash cape, cape Arash!"
Citra tertawa, belum puas mengerjai cucu nakalnya. "Kamar lu di paling belakang, di kamar pembantu."
Mengusap dadanya berulang kali, Arash menjawab, "Tega amat dikasih kamar pembantu."
"Masih sukur dikasih kamar, daripada nenek suruh lu tidur kandang ayam."
Arash memonyong-monyongkan bibirnya. "Di mana-mana, ya, tamu itu adalah raja. Dilayani dengan baik, disambut ramah."
"Ogah gue jadiin lu raja di rumah ini. Udah ah, mending gue ngelayanin ayam-ayam gue dengan baik dan penuh cinta."
Ingin rasanya Arash melambaikan tangan ke kamera, tidak kuat menghadapi neneknya yang jika sedang kesal akan seperti demikian. Wanita setengah baya itu mengekspresikan campuran senang dan kesalnya secara terang-terangan, lalu pergi ke pintu belakang untuk menemui ayam-ayam peliharaannya.
Senang karena tidak menyangka cucunya akan tinggal bersamanya, dan kesal karena mengapa baru sekarang cucunya memikirkan itu. Dahulu saat Citra memintanya dengan serius, Arash diam, tidak menjawab yang mengarah ke penolakan. Akan tetapi, kini, tanpa disuruh pun Arash datang dengan sendirinya.
Arash merogoh ponselnya di dalam saku celana. Hendak memberitahu teman-temannya tentang kepindahannya ke rumah neneknya.
Cowok Ganteng SMA Langit Selatan
Arash Daafi
Para pengikutku, jika ingin menemuiku,
harap ke rumah necan alias nenek gue
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Dla nastolatkówJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
