“Kamel!”
Kamel yang sedang tertawa lepas dengan teman sebangkunya seketika terkejut mendengar namanya yang dipanggil keras. Gadis itu menoleh ke arah pintu. Orang yang baru saja membuatnya tersentak ialah Arash.
Kamel menaikkan alisnya. Wajahnya seakan terlihat tidak bersalah. “Kenapa, Rash?”
Arash mendekat dengan wajah teramat datar. “Kenapa, lo bilang? Mel, tolong mikir, dong! Gara-gara tingkah lo, Aliyah minta putus.”
“Serius?” Bola mata Kamel melebar. “Emang Aliyah nggak dengerin penjelasan lo dulu? Sori, Arash. Gue nggak tau ternyata pacar lo ... see only one side.”
“Lo kenapa jadi gini, sih, Mel?” tanya Arash tak paham.
Kamel menghela napas. Ia jadi tidak suka dimarahi Arash seperti ini. “Iya. Nanti gue ngomong sama Aliyah.”
“Jangan julid lo sama cewek gue. Lo nggak tau apa-apa tentang dia. Jangan menuding orang lain kalau lo sendiri nggak lebih baik dari dia.”
Kamel terdiam tak berkutik. Ia menatap Arash sekali lagi, memastikan apakah benar kata-kata itu keluar dari mulut Arash.
🍓🍓🍓
Arash melihatnya.
Arash melihat gadis itu pulang dari balik jendela kamarnya.
Ingin Arash segera menghampirinya, menanyakan kabarnya, dan menghirup aroma stroberi dari tubuhnya.
Namun, jam sebelas malam bukan waktu yang tepat untuk bertamu. Apalagi gadis itu keluar dari mobil bersama papanya.
Dari tadi Arash hanya menunggu. Menunggu sambil menatap ke jendela yang terpampang langsung bangunan di depan rumah.
Lebih dari 24 jam mereka tidak bertemu, dan rasa rindu ini tak bisa dicegah. Ia datang sendiri tanpa diminta.
Katakanlah Arash salah satu budak cinta, tidak apa-apa. Memang begitu kenyataannya.
Ketika lampu kamar di seberang mati, Arash tersenyum hampa. Bahkan gadis itu tidak ingin menyibakkan gorden jendela, dibiarkan tetap tertutup.
Setidaknya Arash tenang. Gadis itu pulang, dan artinya hari esok ia akan datang ke sekolah. Hari sebagai penutup satu minggu. Barulah mata Arash bisa mengantuk. Ia memilih merebahkan badan di atas kasur. Tak lama ia pun terlelap.
Kata putus belum jelas. Itu artinya ... Aliyah tidak ingin hubungan mereka benar-benar berakhir, bukan?
Lalu, mengapa tiba-tiba dan mendadak ia meminta putus?
Keesokan paginya, Aliyah berangkat sekolah menggunakan motornya. Gadis itu pergi terlebih dahulu sebelum Arash datang menjemputnya.
Arash menghela napas. Lagi-lagi gadis itu menghindarinya. Tidak sedikit pun ia menoleh ketika Arash memandanginya keluar dari pagar rumahnya. Arash memasang helm full face miliknya, lalu mengikuti Aliyah dari belakang.
Butuh waktu 15 menit untuk sampai ke sekolah. Motor Arash terparkir tepat di sebelah motor Aliyah.
“Al. Tunggu, Al!” cegah Arash. Cepat-cepat ia melepas helm dari kepalanya dan menghalau jalan Aliyah.
“Apalagi, sih?” tanya Aliyah malas.
“Kamu beneran mau putus?” Arash menatap dengan raut nanar. Seperti tidak ada secercah pelita di kedua matanya.
Aliyah menghela napas panjang. “Kalau iya, kenapa?”
“Maksudnya kenapa putus, Al?”
“Rash ...,” panggil Aliyah lirih. Berpendar pias di manik matanya. “Aku ngerasa malu. Aku jadi pacar yang terlalu dimanja kamu. Kamu ngelakuin banyak hal cuman buat aku yang nggak bisa kasih kamu sesuatu yang setimpal. Aku malu, Rash. Bukan kamu yang beruntung dapetin aku, tapi aku yang beruntung bisa dapetin kamu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
