Aliyah menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan Arash yang memakan bekal darinya. Senyum Aliyah mengembang. Arash terlihat menikmati nasi goreng telur setengah matang buatannya.
Lain dengan Yoga dan Fadhil. Keduanya melirik Arash dengan mulut setengah membulat. Arash, temannya yang mereka kenal pria sejati, memakan makanan dari kotak berwarna pink bergambar unicorn.
UNICORN PINKY???
Arash terlihat lahap memakan makanannya itu, sementara gadis di sebelahnya sedang tersenyum-senyum tak jelas.
Ah! Sekarang Yoga dan Fadhil, si kembar beda orang tua itu tahu mengapa Arash tidak malu berbekal kotak unicorn pinky. Seribu persen mereka yakin demi bidadari yang mandi di kali lalu selendangnya dicuri, pasti makanan Arash tersebut dari Aliyah sendiri.
“Enak, nggak?” tanya Aliyah yang masih setia memperhatikan Arash.
“Enak banget. Lo udah cocok,” balas Arash menggoda.
“Cocok jadi istri kamu?”
“Cocok jadi koki di rumah gue,” jawab Arash dengan wajah tanpa dosanya.
Aliyah mencebik, lalu ia mencubit lengan Arash. Membuat Arash kaget dan mengusap-usap rasa sakit yang diperbuat pacarnya. “Belom jadi istri udah KDRT aja lo, Pacar.”
“Bodo amat!” Aliyah sebal. Ia memakan bakso dari stan Mbak Titin dengan kasar.
“Uluh, uluh. Pacarnya ngambek karena gagal digombalin,” celetuk Yoga.
“Lo aja yang gombalin, Ga,” sambung Fadhil.
Sedangkan Arash, masih memantau kata-kata mereka berdua.
“Oke.” Yoga menggebrak meja. Kemudian, Yoga melirik Aliyah dengan memicingkan matanya. “Neng Al, lo tau apa bedanya lo sama Mbak Titin?”
Aliyah turut serta dalam permainan Yoga. Siapa tahu Arash cemburu. “Nggak, tuh. Apa?”
“Mbak Titin punya gue, kalau lo punya Arash.”
“Salah server lo, bangsat!” maki Fadhil kecewa.
“Nggak nyambung anying!” umpat Putra.
Aliyah mendengkus. Tambah menyebalkan saja rasanya!
“Itu namanya lo gombalin Mbak Titin, Yoga udel!” timpal Adel.
Yoga cengengesan, “Ya, abis ... gue cuma bisa gombalin Mbak Titin. Mbak Titin selalu di hati. Bayar bakso Yoga bulan depan, ya, Mbak,” sahutnya pada Mbak Titin.
Mbak Titin yang sengaja mendengarnya hanya bisa mengembuskan napas lelah. “Gimana negara ini bisa maju kalau anak mudanya ngutang mulu.”
“Hehehe.” Yoga terkekeh tak berdosa. Walau dimaki teman-temannya pun, yang senyum tetap diumbar juga. Tinggal Negan yang belum mengatainya. “Lo nggak mau maki gue juga, Gan?”
“Mau,” jawab Negan cepat.
“Coba.”
“Desgraçado!” Negan menatap tajam dengan mata belatinya.
Mulut Yoga membulat sempurna, lalu berubah cengo. “Hah? Bahasa apaan, tu? Gue nggak denger bahasa kayak gitu di Desa Siluman,” ujarnya menyebut tempat di mana dia dilahirkan.
“Sama. Gue juga nggak pernah denger kata-kata itu dari mulut babe gue waktu ngomel-ngomel,” timpal Fadhil.
“Bentar-bentar.” Adel menginterupsi keributan kedua orang itu. Dia menggapai ponselnya yang tergeletak indah di meja. Setelah beberapa detik, Adel kembali bersuara. “Oh ... itu bahasa Portugal.”
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
