“Nggak pa-pa, Rik. Cuma mau ajak cewek gue ngelakuin sesuatu yang nggak bakal pernah dia lupain.”
“Cewek? Bukannya lo nggak punya cewek?”
Kepergok, buru-buru pemuda itu memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dia menoleh ke arah belakang posisi di mana suara cewek menginterupsi.
“Kamel? Lo sejak kapan ada di situ?”
“Sejak gue jadi siswa di sekolah ini.”
Pemuda itu berdecak. “Bukan, aelah. Maksud gue—ah, udahlah! Lo jangan ikut campur!”
“Idih! Ogah banget gue ikut campur urusan lo. Tapi, serius ini gue kepo. Lo sering ke sini tiap anak LS pulang sekolah, merhatiin satu cewek yang pulang bareng pacarnya. Lo kenapa, sih, Zam? Lo mau dicap sama kayak sodara lo itu?”
Pemuda tersebut mati kutu. Cewek itu diyakini sering memperhatikannya, sehingga dia tahu dan bisa menyimpulkan dari pemikirannya sendiri.
“Ngaco, lo! Bukan, ah!”
Keseringan berada di seberang bangunan sekolah, mungkin gerak-geriknya ditandai oleh gadis itu. Gadis yang sangat dia kenali lantaran sering diceritakan sepupunya, pun temannya semasa SD.
Seakan terus menyerang, gadis itu kembali mencerocos. “Lo mau q’time sama mantan pacar lo?”
Lagi-lagi dia tak berkutik. Menerbitkan senyum puas kemenangan dari bibir si cewek.
“Gue bisa bantu.”
Kepalanya menoleh. Manik matanya ibarat mendapat secercah harapan, tetapi tidak apik disembunyikan.
“Gue nggak akan ketipu sama cewek pinter tapi banyak muslihat kayak lo gini. Bilang sama gue, lo mau uang berapa buat nyogok gue?”
Si cewek tertawa. “Gue nggak butuh uang. Tapi ... ada syaratnya.”
“Apa?”
Dengan senyum manis penuh arti, dia membisikkan sesuatu. Mengucapkan kalimat singkat yang mendapat respons pelototan oleh lelaki itu.
“Gila, lo! Angga itu sepupu bego kesayangan gue. Jangan bawa-bawa Angga!”
Helaan napas iba muncul dari mulut si cewek. “Angga emang sepupu lo, tapi gue seratus persen yakin Angga nggak akan ada di pihak lo. Dia akan lebih bela musuh yang dianggap temennya, daripada lo, Zami.”
Pemuda itu terdiam, mengolah serta mempertimbangkan kata-kata dari Kamel. Sebagian dirinya juga tidak membenarkan. Sebab, awal keinginan itu terbentuk, sepupunya telah melarang dengan keras.
Pasti saudaranya itu tidak akan tinggal diam.
“Kalau dia emang nggak bisa diajak kerja sama, gue mau.”
Bersorak senang dalam hatinya, cewek itu tersenyum. Dua hal sekaligus dapat dia lakukan dengan mudah. Pertama, memberikan pembalasan pada gadis yang berani menggertaknya kemarin. Tidak apa marahan berlama-lama. Terdapat terjal ketika menjalani hubungan adalah hal biasa, bukan? Biar sekalian dia bantu untuk menambah permasalahan. Kedua, membuat dua mantan teman kembali bermusuhan.
Inikah yang namanya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui?
🍓🍓🍓
Sebenarnya kalau boleh dikatakan, Arash tidak ingin dipertemukan dengan Angga. Karena teman-temannya memaksa, sampai-sampai mengangkat Arash bersama-sama, Arash dibawa ke rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
