14. Weekend di Rumah Necan

687 38 11
                                        

"Permisi, numpang makan."

Arash memandangi empat laki-laki dan satu perempuan di depan pagar rumahnya. Mereka datang tepat waktu, tidak biasanya.

"Maaf, tidak menerima gembel," balas Arash tanpa mau membukakan pagar dan kembali masuk ke rumahnya.

"Ganteng-ganteng gini dibilang gembel," protes Yoga.

Negan langsung mendorong pagar sendiri. Malas berlama-lama, panas!

"Penyambutan untuk raja dan pasukannya gini amat. Arash nggak pernah belajar tata krama apa, ya?" gerutu Fadhil tak habis pikir.

"Nggak. Dia waktu dari janin diajarin taekwondo sama neneknya," timpal Putra.

Mereka masuk ke dalam rumah nenek Arash dan merangkap sebagai rumah Arash juga. Kedatangan mereka disambut ramah oleh Citra. Nenek gaul itu sedang membawakan minuman dengan nampan.

"Ayo, duduk. Anggap aja rumah Necan," celetuk ringan Citra.

Empat cowok itu menyalami bergantian tangan Citra. Tiba di giliran Yoga, dia berkata. "Apa kabar, Nek? Makin muda aja."

"Alhamdulillah, sehat. Kamu juga makin ngenes aja. Tuh, si Putra aja bawa gandengan."

Yoga mengusap dadanya, mengucap istigfar.

Lantaran Citra belum mengenal dirinya, Adel jadi orang terakhir yang bersalaman. "Halo, Nek. Aku Adel."

"Hai, Neng geulis. Panggil aku Necan," balas Citra dengan gaya riangnya.

Adel tertawa renyah dan memberi acungan jempol.

"Nek, ini kami bawain makan siang. Sekalian makan juga di sini bareng-bareng," sahut Putra yang menyorotkan kantong besar di atas meja.

"Terima kasih. Untung saya tidak masak hari ini," tandas Citra tersanjung. Setelah meladeni percakapan para remaja, nenek Arash itu kembali ke kamarnya.


"Gue mau taruh baju-baju gue ke kamar lo, Rash. Ribet gue bawa ini tas," ujar Yoga yang sudah berdiri hendak ke kamar Arash.

"Nitip, dong," imbuh Fadhil sambil menyodorkan paper bag miliknya.

Mereka membawa tas, sebab sudah berencana berenang di rumah nenek Arash. Cuaca panas yang menggerahkan, membuat sekawanan itu ingin berendam dan langsung mengusulkan untuk berkumpul.

Sebab, berenang bersama lebih terasa asyik daripada sendiri-sendiri.

Arash yang mendengar Yoga ke kamarnya, langsung bergerak cepat menghentikan. "Nanti. Nanti aja. Mending makan dulu."

Melihat Arash yang tampak sedikit panik, memancing rasa curiga Yoga. Tidak biasanya Arash menolak, sedangkan mereka saja menyelonong masuk ke kamar Arash biasanya.

Yoga bertatapan sebentar dengan teman-temannya, lalu melirik Arash penuh selidik. "Gue mau sekarang. Sekalian gue mau cek boxer gue. Kayaknya yang gue bawa tadi boxer bolong."

"Cek di sini aja," titah Arash.

"Gila lo? Boxer pinky lope-lope gitu mau gue pamerin di sini? Malu sama Adel." Yoga berkata sengit.

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang