Fairy dan Adel saling berpandangan. Lebih tepatnya menjadikan Aliyah sebagai objek pemikiran. Sudah tiga hari mereka merasa ada yang beda dari Aliyah.
Mereka bahkan sudah menginterogasi Arash habis-habisan. Arash diberi pertanyaan yang melebihi sidang skripsi. Namun, Arash juga tampak frustrasi. Itu berarti Arash sendiri tidak tahu apa-apa.
Aliyah ingin sendirian di taman belakang sekolah. Akan tetapi, kedua temannya tetap mengekori—cemas tentunya.
“Lo kenapa, sih, Al? Cerita, dong, sama kita,” sahut Adel.
“Gue nggak apa-apa,” jawab Aliyah sembari tersenyum. Namun, Adel tahu itu senyum palsu.
“Kita tau, Al. Lo ada apa-apa.” Suara Fairy, cewek berambut pendek seperti laki-laki, ikut menambahkan. “Bukan karena Arash, dan bukan karena kita. Lo kenapa? Apa mantan lo itu jahatin lo trus ngancem lo? Bilang sama gue, biar gue hajar itu si Zami telor dadar.”
Aliyah tertawa mendengar buncahan emosi Fairy. “Zami nggak jahatin gue. Malahan dia yang nolongin gue waktu di taman kompleks.”
Pikiran Aliyah melayang sekilas. Ia belum mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Mungkin lain waktu jika bertemu, ia akan menyampaikannya.
“Syukurlah kalau mantan lo nggak dalam fase mengkhawatirkan,” cetus Adel.
“Mengkhawatirkan gimana maksud lo?” tanya Aliyah.
“Ya, gue pikir dia bakal jadi perusak hubungan orang alias PHO. Tapi gue herannya kenapa dia ada di mana-mana? Waktu pulsek kemaren dia jemput lo. Di taman dia dateng. Padahal rumahnya nggak di daerah situ, 'kan?” Sontak Adel menjentikkan jarinya. “Apa jangan-jangan Zami nguntitin lo, Al!”
Ucapan Adel sedikit benar. Namun, tiap orang punya kebebasan untuk berspekulasi sendiri. Aliyah mengedikkan bahunya acuh. “Kebetulan doang itu. Dia aja tau kalau gue punya pacar. Nggak ada gelagat pengen musuhan sama Arash juga.”
“Iya juga, sih,” gumam Adel.
Kemudian, ketiganya kembali diam. Sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Tak lama, Aliyah menghadap ke arah Fairy. “Fe, gimana caranya mencegah perpisahan?”
Sejenak Fairy terenyak mendengar pertanyaan Aliyah. Apa gadis itu butuh solusi darinya?
Fairy tersenyum, menerawang ingatannya saat menghadapi perceraian orang tuanya. “Nggak ada orang yang suka perpisahan, Al. Perpisahan itu berdasar atas pilihan dan takdir. Ada orang yang memang harus pisah untuk bahagia. Kayak mami sama papi gue. Dulu gue nggak terima, gue marah. Tapi mereka makin tersakiti satu sama lain karena nurutin keinginan gue. Gue sadar, gue juga nggak boleh egois. Orang tua gue harus bahagia, walaupun gue korbannya.”
Darah Aliyah berdesir kencang. Ia terenyuh hebat. Fairy memang benar. Hanya saja Aliyah belum siap untuk itu. Aliyah belum bisa setegar Fairy.
🍓🍓🍓
Seorang gadis berdiri di pembatas balkon kamarnya. Ia menatap hamparan bintang di langit gelap. Membiarkan angin malam meniup pori-pori kulitnya yang hanya terlapisi pakaian pendek.
Ketika Aliyah menurunkan tatapannya, ia menemukan pemuda di seberang balkon sedang meliriknya dengan satu tangan yang menumpu dagu. Samar-samar Aliyah bisa melihat dia tersenyum.
Yang di seberang sana, Arash pacarnya. Dia tengah membentuk gambar hati dengan sepasang jari telunjuk dan tengah. Membuat Aliyah terkekeh karena tingkahnya.
Arash menangkupkan bibirnya dengan kedua tangan. “MALAM, PACAR! GUE KANGEN, NIH,” teriaknya.
Ucapan lantang Arash itu sukses membuat Aliyah terbelalak. Dia lupa jika Arash memiliki hobi mempermalukan diri sendiri. Dengan jarak rumah selebar jalanan kompleks, suara Arash tidak tergolong hanya bisa didengar oleh satu bangunan.
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
JugendliteraturJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
