Aliyah berdiri seraya menenteng kotak persegi panjang di bangunan depan rumahnya. Tadi, Nesa menyuruhnya memberikan kue pada Nenek Citra, tetangganya. Pagar berbunyi, seorang wanita berusia tak lagi muda muncul. Memandang Aliyah ramah dengan daster micky mouse yang dipakainya.
“Malam, Necan,” sapa Aliyah. Selalu memanggil Nek Citra dengan Necan. Nenek itu sendiri yang memintanya.
Katanya, necan itu singkatan dari nenek cantik. Maka sebabnya, Citra menyuruh siapa saja memanggilnya dengan sebutan necan.
“Malam juga, geulis. Bawa apa, tuh?” Citra melirik-lirik telapak tangan Aliyah yang berisi. Nada suaranya seakan pura-pura tidak tahu bahwa benda itu dibawakan untuknya.
Senyum lebar Aliyah terukir, ia menyodorkan benda tersebut. “Buat Necan.”
“Gomawo,” ujarnya riang, “masuk dulu. Kita makan sama-sama, ya.”
Di rumah yang seluas ini, Citra tinggal seorang diri. Yang Aliyah tahu, Citra tidak mau tinggal bersama keluarga anaknya. Wanita itu tidak ingin meninggalkan kediaman yang menjadi kenangannya bersama suaminya yang sudah pergi mendahuluinya. Hal di mana mengapa Aliyah sangat dekat dengan Citra. Aliyah sering menemani Citra di kala ia bosan di kamarnya.
Berjalan sambil melihat-lihat isi lemari kaca yang terdapat banyak figura, Aliyah mengernyit lantaran matanya menemukan foto seorang anak laki-laki yang baru tumbuh gigi depan. Ekspresinya lucu sekali, dan Aliyah menebak jika itu adalah cucu Citra.
Sepertinya baru dipajang. Kebiasaan Citra yang mengganti-ganti foto dalam urutan album.
“Kamu sekolahnya di mana, ya? Necan lupa,” celetuk Citra yang sudah duduk santai di sofa tamu.
Aliyah melangkah mendekat. “SMA Langit Selatan, Necan.”
“Nah, iya. Kayanya itu sekolahnya cucu pertama Necan juga, deh.” Citra tampak berpikir-pikir.
“Oh ya?” tanya Aliyah, “fotonya yang di depan itu, kah? Kok, Al nggak pernah liat dia, ya, Nek? Tapi kalau Tante Livia, Al tau.”
Aura semangat Citra menguar. “Iya, Neng. Cucu Necan itu mana perhatian dia sama lingkungan sekitar. Dia taunya sama lingkungan kesesatan. Hahaha. Cucu Necan kasep pisan. Tapi bandelnya ... ampun! Nggak ketulung. Necan mau jadi Nek comblang kamu sama dia, tapi nggak jadi.”
Aliyah menggelengkan kepalanya. Citra malah menjelekkan cucunya di depan orang lain. “Kenapa nggak jadi, Necan?”
“Nanti kamu darah tinggi, mah, kalo sama dia. Udah, cari aja yang lain.”
Aliyah tertawa mendengar jawaban Citra. Biasanya seorang nenek akan menceritakan hal baik dari cucunya, sedangkan Citra tidak. Dengan semangat si nenek membongkar tabiat borok sang cucu bahkan sebelum Aliyah mengenalinya.
🍓🍓🍓
Terlambat ke sekolah, kegiatan yang biasa dilakukan Arash. Menganggap bangunan belajar itu kepunyaan bapaknya padahal aslinya tidak, begitu prinsip Arash. Arash terlihat santai, berbalik pada Bu Asna yang berkacak pinggang karena harus berhadapan dengan Arash, lagi.
“Lima belas menit. Kenapa kamu terlambat?”
Arash menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Saya abis nganterin mama saya ke pasar, Bu.”
“Alesan kamu aja! Kemarin bilangnya nganterin ayam nenek kamu yang sakit. Sekarang mama kamu yang ke pasar. Besok apalagi alasan kamu, Arash?”
Lirikan ekor mata Arash ke atas menandakan pemuda itu terlihat berpikir. “Belum saya pikirin, Bu. Ibu tunggu aja besok, hehe. Jadi saya boleh masuk, nggak, Bu?”
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Teen FictionJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
