Suasana kantin jadi riuh sebab salah seorang adik kelas melakukan aksi menyatakan cinta pada laki-laki yang terkenal dengan sifat es batunya. Sebagian ada yang menyatakan gadis itu kelewat berani, selebihnya merasa ngeri sendiri. Persepsi penolakan mentah-mentah pasti akan terjadi.
Lelaki itu berdecak. Kesal acara makannya tidak berjalan tenang. Apalagi semua mata menjadikan dia pusat atensi. Dalam keadaan emosinya, ia tetap diam berusaha mengabaikan.
"Kak Negan! Aku, tuh, suka Kak Negan sejak liat Kak Negan kasih makan kucing di pinggir jalan. Kak Negan baik banget. Udah baik ganteng lagi. Kak Negan mau, nggak, jadi pacar aku aja?"
Sekali lagi, Negan mencoba tidak menghiraukan. Sementara teman-temannya dan tiga gadis yang ada di meja mereka turut serta menatapnya.
"Gan, dede gemes yang gemesnya ngalahin Gempita, tuh. Yakin lo nggak mau?" celetuk Fadhil seenaknya.
"Nggak."
"Kali ini buktiin ke orang-orang kalo lo nggak homo, Gan!" ucap Yoga.
"Nggak penting," jawab Negan lagi.
Fadhil dan Yoga menghela napas. Di satu sisi mereka juga bahagia karena populasi jomlo di komplotannya tetap bertahan.
Fadhil dan Yoga merasa terancam!
Bisa-bisa jika Negan bertindak mencari pasangan, tinggal mereka berdua saja yang menjomlo.
"Kak Negan denger, nggak? Mau jadi pacar aku, 'kan? Kalau diem berarti mau." Gadis itu bersuara lagi. Berdiri di belakang bangku panjang tempat Negan duduk, ia tidak dihiraukan sama sekali oleh kakak kelasnya itu.
Sebuah sendok dihempas keras, menimbulkan bunyi dentingan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Negan. Cowok itu mendesis tajam, lalu menoleh ke belakangnya. "Lo gila?"
Tidak ada raut takut dari gadis itu. Yang ada dia tersenyum senang sebab Negan mau berbicara padanya walaupun hanya dua kata mengandung sarkasme. "Iya, aku tergila-gila sama Kak Negan."
Fadhil menganga detik itu juga. Adik kelasnya ini memang patut diacungi dua jempol. Empat jempol kalau perlu. Atau ia pinjam jempol-jempol temannya untuk memberi apresiasi penggemar Negan tersebut.
"Pergi!" usir Negan, membentak.
Sebagai sesama perempuan, Aliyah menatap Arash sebentar. Rasanya kasihan juga melihat adik kelas itu. Begitu pun dengan Adel yang melirik Putra. Ya, hubungan keduanya telah membaik.
Belum menyerah, gadis itu memaksakan senyumnya semakin lebar. "Kak Negan mau nemenin aku nonton, ya? Ada film horor baru. Mau, ya?"
Dengan wajah menggeram, Negan bangkit. Makanannya telah habis, dan tidak ada gunanya ia berlama-lama di sini. Negan berbalik, hendak beranjak dari kantin. Namun, gadis itu masih setia berdiri di belakang bangku. Menghalangi jalan Negan untuk keluar.
"Minggir!"
Dia menggeleng. "Mau jadi pacar aku, nggak?"
"Enggak."
"Kenapa?" tanya gadis itu, sendu. "Kalau nonton sama aku, mau? Nanti pulang sekolah. Aku udah beli tiketnya."
"Gak!"
Gadis itu bertanya terus-menerus. Tidak bisakah dia melihat wajah Negan yang menahan kesal?
"Kenapa, Kak Negan? Kenapa?" Gadis itu tampak frustrasi. Dua penawarannya tidak disetujui satu pun. Negan benar-benar susah dikejar.
"Minggir!" Suara Negan tertahan, menyatakan kata-katanya harus dituruti segera. Pertanda geramnya sudah di puncak.
"Jawab dulu kenapa nggak mau."
KAMU SEDANG MEMBACA
With(out) Strawberry (COMPLETED)
Novela JuvenilJUDUL SEBELUMNYA 'STRAWBERRY MILK' (Sedang Tahap Editing) Bagi Aliyah Afifa, susu stroberi adalah hidupnya. Sehari tanpa susu stroberi bagai insan tanpa pasangan, serasa ada yang kurang. Termasuk menerima Arash sebagai pacarnya, disogok dulu dengan...
