Bonus Chapter

1.1K 31 18
                                        

Apapun yang terjadi di setiap lika-liku kehidupan, tentu ada hikmah di balik itu semua. Tinggal manusia yang memilih, ingin terjerumus ke lubang yang sama, atau berubah menjadi lebih baik ke depannya.

Hari-hari berjalan seperti biasanya. Diiringi senda gurau, cerita penting hingga saling memberi kabar, pun tak lekang dari kisah yang masih berlanjut. Sudah satu bulan terlewati masa-masa pahit yang harus dijalani. Kini, semua berbagi euforia kebersamaan.

Setelah melalui proses panjang yang tak henti-hentinya menguras emosi dan kesabaran, sehingga berbuah kenikmatan yang manis. Hukum berjalan dengan semestinya. Kedua orang tua Aliyah mengurus kasus yang terjadi pada anak perempuan mereka. Memaafkan tentunya, tetapi pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Tak hanya sampai di sana, keadilan terus memayungi Aliyah. Banyak yang membantunya berpegang pada sendi tiang hingga bisa berdiri sempurna. Tanpa Aliyah selidiki sendiri kasusnya, sudah ada yang meringankan bebannya. Begitu Aliyah beruntung dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.

Arash, yang tidak pernah sedikit pun terlihat berapi-api di hadapan perempuan, melakukannya ketika bertemu Kamel di sekolah. Arash tidak peduli lagi mau pun itu cewek atau bukan, jika membahayakan jiwa dan raga orang yang disayangnya, Arash maju paling depan. Memberi peringatan dan mengungkapkan kekecewaannya langsung di depan wajah pemeran serigala berbulu domba.

Sambil bercucuran air mata, Kamel menunduk tak berani menatap mata Arash. “Gue emang bantuin Zami, tapi gue sama sekali nggak tau rencana Zami, Rash.”

“LO TAU, NGGAK, MEL, APA YANG DIPPERBUAT ZAMI KE CEWEK GUE??” teriak Arash murka. Tak peduli lawan bicaranya menggeleng ketakutan. Arash mendekatkan wajahnya, mengucapkan sesuatu secara pelan agar orang lain yang menonton tidak mendengar perkataan Arash selanjutnya. “Cewek gue nyaris kehilangan mahkota terbaiknya. Lo paham, nggak, akan hal itu?”

Kamel terdiam membisu. Di benaknya, hanya kejadian umum saat pasangan bertemu kekasihnya yang tengah berjalan dengan orang lain. Ternyata, lebih dari itu yang Zami lakukan. Menyeret Kamel ke dalam masalah besar yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Keributan yang terjadi di dalam kelas, dan berasal dari seorang cewek dan cowok, membuat orang lain mengerubungi tempat kejadian. Sebagian ada yang menonton dari balik jendela. Dampaknya, semua orang tahu tabiat busuk Kamel. Siswa yang sering kali menghadiahkan piala kejuaraan di sekolah, harus tercoreng nama buruk yang membekas di ingatan siapa saja. 

Nasi sudah menjadi bubur. Setiap perbuatan buruk pasti ada ganjarannya. Di hari yang sama, Kamel meminta maaf pada Aliyah. Sebagai sesama perempuan, Kamel merasa terlalu jahat walaupun akibat yang terjadi sangat jauh dari pemikirannya sendiri.

“Gue minta maaf sama lo, Al. Kalau aja gue tau apa yang Zami lakuin ke elo, gue nggak bakal mau kayak gini, Al. Gue nggak tau, bahkan dia juga nggak mau bilang apa-apa,” papar Kamel jujur.

Dengan senyum tulus yang selalu menghiasi wajahnya, Aliyah menjawab ringan atas semua rasa sesal Kamel. “Udah, Mel. Gue nggak mau inget-inget kejadian itu lagi. Gue udah maafin lo. Dari awal gue tau lo yang sengaja bikin hp Arash low, gue percaya lo nggak sejahat itu buat ngorbanin gue.”

Tanpa terasa, satu bulir air mata Kamel menetes. “Lo emang baik banget, Al. Gue malu.”

Tak memungkiri perasaan lega menyelimuti. Kebaikan terus berdatangan tanpa henti. Bahkan, mendatangkan berkat yang sebelumnya adalah hal yang dinanti. Sebab, kedua orang tua Aliyah memilih bersatu kembali. Kejadian yang menimpa putri mereka, menyadarkan bahwa pilihan berpisah bukan jalan pintas untuk mengakhiri sepasang jiwa yang sudah ditakdirkan semesta.

Kejadian yang cukup menyadarkan orang tua, betapa pentingnya melindungi anak ketika beranjak remaja.


🍓🍓🍓

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang