15. Permintaan Bu Danti

659 31 5
                                        

Berita pacarannya Arash dan Aliyah menyebar ke seluruh sekolah. Sampai-sampai masuk ke pendengaran guru-guru, satpam penjaga gerbang, dan petugas kebersihan.

Begitu pun dengan Bu Danti. Wali kelas 12 IPS C itu merasa senang. Seminggu ini, tidak ada poin pelanggaran yang diciptakan Arash. Bu Danti tidak lagi dibicarakan karena punya anak didik yang selalu mendapat masalah.

Ya, walaupun hanya seminggu, setidaknya telinga Bu Danti bebas dari panggilan guru konseling.

Pagi ini, kelas Aliyah, 12 IPS A, diajar oleh Bu Danti. Wanita berseragam itu membereskan buku yang terletak di mejanya, lalu dimasukkan ke dalam tas. Sebelum kembali ke ruangan guru, Bu Danti menatap penuh semua siswanya. Matanya berhenti ketika melihat Aliyah yang tengah membaca buku akuntansi, mata pelajaran yang diajarkannya.

“Aliyah ...,” panggil Bu Danti.

Gadis yang merasa namanya hanya satu di kelas ini, sontak menengok pada sang guru. “Ya, Bu?”

Dengan inisiatifnya sendiri, Aliyah beranjak dari kursinya dan menghadap Bu Danti.

Sebenarnya Aliyah penasaran. Apa dia memiliki masalah nilai? Atau Aliyah terlalu pintar lalu dia diutus mengikuti Olimpiade? Rasanya tidak mungkin, masih ada Fairy yang lebih mahir daripada dirinya.

“Bener kamu pacaran sama Arash?”

Mata Aliyah nyaris terbelalak mendengar pertanyaan Bu Danti. Baiklah, itu agak wajar karena beliau adalah wali kelas Arash. Guru yang lebih memperhatikan Arash dan seluruh warganya.

“I-iya, Bu,” jawab Aliyah kikuk.

Bu Danti menghela napas sembari tersenyum. Kedua matanya menatap Aliyah dengan pandangan penuh harap. “Selama seminggu ini, belum ada catatan terlambat Arash setiap jam pertama. Belum ada laporan Arash membolos bersama teman-temannya. Akhirnya telinga saya bisa tenang, Aliyah.”

Ingin rasanya Aliyah tertawa melihat pancaran lega di wajah Bu Danti. Punya anak didik seperti Arash dan teman-temannya memang membuat otak menjerit frustrasi. Aliyah hanya bisa tersenyum menanggapi gurunya itu.

“Selalu begitu, ya, Al. Selalu beri pengaruh yang baik untuk Arash. Nilai yang bagus nggak akan seimbang dengan sikap yang seperti itu.”

Aliyah mengangguk. “Iya, Bu. Saya usahakan.”

“Baiklah.” Bu Danti mengakhiri. Ia berdiri dari kursi dan hendak keluar dari kelas. Wanita itu berjalan dengan bunyi tumit sepatu yang mengiringinya. Akan tetapi, baru dua langkah, Bu Danti berbalik lagi menghadap Aliyah. “Oh, ya. Langgeng terus sama Arash, ya. Ibu tunggu undangannya nanti,” sahutnya seraya menggoda.

Gadis itu mengembuskan napasnya. Wajahnya memerah menahan malu.

🍓🍓🍓


“Arash, balikin!”

“Bentar. Pelit banget, sih, lo!”

Ifah berteriak kesal pada Arash yang merebut bolpoinnya. Jadinya, dia tidak bisa menulis karena benda itu hanya tersisa satu. “Gue nulis pake apa, dong?”

“Lo nggak usah nulis. Simpen aja di otak lo, Pah,” jawab Arash santai.

Terkadang Arash heran pada Ifah yang sering ia pelesetkan jadi Ipah, cewek peringkat satu di kelasnya itu mengapa susah-susah mencatat padahal dia sendiri sudah pintar?

With(out) Strawberry (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang